Translate

Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

October 27, 2009

Apa Kabar, Halib?

Apa kabar, Halib?
masih ingatkah kau padaku?
lelaki yang kau tinggalkan
setelah kau manfaatkan
untuk menemani hari-hari sepimu

Apa kabar, Halib?
kau pernah mengisi hatiku
tapi kau tinggalkan aku
pergi bersama lelaki itu
yang mendapat lampu hijau untuk melamarmu

Apa kabar, Halib?
bahagiakah kau kini?
puaskah kau dengan pilihan hidupmu?
jangan kau sesali segala yang terjadi
hidupmu senang atau susah, aku tak peduli
kita jalani hidup apa adanya
jangan ada dusta apalagi saling menista!

August 01, 2009

Kapan aku bisa berhenti merokok

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus jannatun na'im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang
yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah...ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya,
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asab rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur ketika melayani parasuami
yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur
ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau
di halte bus, kita ketularan penyakitnya.

Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning
dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab or ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih warnanya,
kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya maulana.
Laa tasyrabud dukhaan, yaa maulana.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfah malii'atun bi mukayyafil hawwa'
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya maulana.

25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.

4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok
kata para pakar.
Patutnya rokok diapakan
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi
belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas
hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar
perbandingan ini.

Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil
yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.

Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan
ada yang mulai terbatuk-batuk.

Jauh sebelum tulisan ini ada,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada
tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk
dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri aku kekuatan tuk mengusir berhala-berhala ini dari kehidupanku
amien...

Menjelang subuh, Kamis 31 July 2009

July 16, 2009

Istilah Anak Makassar

1. matemija!
matemija! kalo diartikan harfiah agak susah karena bisa berarti macem-macem.. tapi kurang lebih sebenarnya adalah ungkapan kaget, terperanjat, teringat sesuatu, atau bisa juga sebagai ungkapan sopan tapi nyindir...
kalo matemija saja lebih ke ekspresi kaget.
contoh:
matemija! bagaimana tawwa kejadiannya? = kaget
matemija! bisa na di'? = terperanjat
matemija! lupaka jempu'ki anu... = lupa terus teringat sesuatu
matemija! datangmi bos ka. nasessa ngaseng maki seng! = sopan tapi nyindir...
matemija! = diamput! matek aku! halah!

2. nagigimakie
ini ungkapan lucu yang mungkin berasal dari maen gigit-gigitan antar teman di jaman dulu tapi artinya sekarang telah berubah lebih ke arah sindiran tapi buat lucu2an antar teman yang lebih jago ato lebih dari dirinya.....
contoh: tawwa, jagona mamo komputer......nagigimakie!

3. apaji!
ini kurang lebih artinya apa dong! (inget ya, pake tanda seru jadi bukan kata tanya). tapi seperti ungkapan makassar laennya, bisa juga dipake dalam kondisi macem2..., misalnya dipake sebagai ungkapan kekecawaan karena berharap sesuatu tapi nda jadi.
contoh:
apaji! lama sekali ko kutunggu!
apaji! ko bilang mo bawakankan ka' cendol....
aaapaji! (diucapkan agak panjang 'a' nya) sa kira tommi ko mo kasika...ko janjika' kemarin, ces...

4. ndataukdeh!
gak taulah! emang gw pikirin! (diungkapkan dengan mimik cuek dan agak cemberut karena merasa terganggu ato dengan tampang sok bloon males menjelaskan...)

5. maju gondronk!
dulu, jaman 80-90an banyak orang gondrong (bukan cuman mahasiswa saja) dan anggapan orang kalo gondrong berarti rewa/berani ki jadi muncul istilah majuko gondrong! (...mungkin piti' piti' ja, tolo'...)
biasanya juga istilah ini dipakai untuk memprovokasi orang yang lagi berkelahi ato demo karena dia sendiri nda berani maju ke depan...

6. apa be' itu ?
apa bede' itu? sudah jelas...

7. sallangku di'.....
sallangku = salam ; sallangku di' = nitip salam saya!
'punna nuciniki agangku, kana mami sallangku di' = kalo ketemu ma temenku, titip salam ya...

8. janlaloko kocci'2ka dari belakang......, jatu wibawayya....
artine: plis deh, jangan towel2 gw dari belakang, 'ntar jatuh dong wibawa gw!

9. piyu! piyuuuuu........!
ini ndada artinya. cuma cara manggil teman, sapaan kalo lagi lewat depan rumah teman ato gebetan/odo'2 (belum jadi pacar)

kalo piyu-piyu...! biasanya diteriakkan kalo lagi ada cewe' manis lewat... anak lorong mode : on

10. ewako!
berasal dari kata rewako! artinya beranilah! idiom khas makassar untuk keberanian. idiom khas PSM juga kalo kagi bertanding. pokoke, idiom khas orang makassar lah......

10.tenamo!
ungkapan penolakan or kekecewaan yang desperate, halah! maksudnya gini, tenamo bisa berarti tidak...nggak lah! ato janganlah..., bisa juga berarti gak jadi, gak bisa diharapkan, yah...gak jadi deh! ato semacam itu.
"riolo ji ntu, ndi'! kamma-kamma anne, teeenamo!"
artinya: itu mah dulu dek, kalo sekarang sih, gak deh!

11. bagaya begitu ko, cowot/cewet!
artine: sok begitu, cowok/cewek!

12. sori, nah !!!
(umumnya cewe' yang bilang ini dengan nada tersinggung. lha, kenapa mesti minta maap?...)
nah yang ini mah lebih tepat kalo bu lisa ato tante heroine yang jelasin.........

13. apayya seng?
apa lagi? soal apa lagi? ada apa lagi?

14. aih, tena kabajikang!
ah, gak ada baeknya! gak pernah beruntung dah!

15. hancurko, lame-lame!
ini istilah kalo lagi kongkow2 sama ana2 entah di kampus, lorong ato di dekker2....
hancurko, lame-lame adalah sebutan untuk teman yang dicalla', dipermalukan sama cewe' yang lagi diodo' ato korban penderita dari calla'an di kelompok itu...

16. kammanjo cikali!
begitu, ces! begitu, sodara! cikali dalam bahasa makassar artinya sodara dekat or sepupu, kurang lebih sama kalo dibugis disebut cappo' or sappo'.

17. kasi' ma, rong!
berikan ke saya dululah! kasi' ma dulu...

18. apaka antumae or sapaka antumae
apakekdah or siapa kek dah....

19. oee.......sappeda......!
istilah ini terkenal jaman dulu, entah siapa yang mulai. paling mungkin berasal dari obrolan tukangbecak yang memang banyak melahirkan istilah2 lucu di makassar
ada juga yang bilang (temen gw yang sok filosofis..) we, sappeda.....adalah sindiran bagi orang miskin yang gak punya apa2 dan merupakan pasangan dari istilah, we...pajero.....! entah benar ato tidak...)

20. piko berak! pigi berak!
satu lagi istilah lucu dari makassar . arti harfiahnya sebenarnya: pergi bab (buang air besar) tapi senarnya menjadi idiom sindiran bagi seseorang untuk menyudutkan orang lain yang terlalu banyak ngomong, sok pinter or lagi males aja bicara ma orang itu... ato ungkapan lucu ketika membicarakan sesuatu yang tidak mungkin ato cuma mimpi, biasanya ditutup dengan kata2 ini..... pigi berak!

21. issengko deh!
22. apa nukana?
23. apa kobilang? kobilang saya cakep/cantik?
24. cakep...cakep....cakkeppo' (bugis mode : on)
25. tardes! istilah laen dari tampo' a.k.a sesumbar/sombong (tantara desa...)
26. tampo' na ini bela!
27. jammoko tauki!
28. balle'-balle' tolo!
29. empoi ma, bollo! (jadul banget....wakaka...ndatauka artina..)
30. assauna dottoro'....(terkenal sekali dulu inie terutama kalo sudah makan coto...)
31. bajiki! ; panjanna: bajiki bawata', bajiki, gang! baji'bajiki, bos!
32. mantap mantong, kabbulampek! (halah! antek mi seng )
33. gambannu cowot! (gambang = tampo' = tardes)
34. tea ja! (ini bukan pesan teh na..)
35. cincimbanca' ; panjanna: aku mencincimbanca' padamu.... (istilah lainna lope-lope....)

================

Kumpulan Singkatan Anak Makassar

Jagung Bakar : Jalan Gunung Bawakaraeng
Alor : anak-anak lorong
Anak Menteng : Anak Jalan Mentimun Tengah Di sekitar Pasar Terong
Anak Belanda : Anak Belakang Daya
Anak SWIS : Anak Sekitar Wilayah Sudiang
Kawasan Salemba : Samping Lembaga di jl.gunung sari
AMCO : Anak Maccini cinta Orkes
Lotto : Lompo tinggi tolo-tolo
Panbers : Panampu Bersatu
Anak Bali : anak Barukang lima
Hitachi : Hitam tapi cina
Adidas : Anak didikan daeng sangkala
Kansas : Kami Anak Nakal Suatu Saat Akan Sadar
Jarum Super : Jarang Di Rumah Suka Pergi
Bimoli : bibir monyong lima (senti)

April 15, 2008

Orowane (Lelaki Bugis)

Oleh: Akbar Faizal


Punggungnya berkeringat dingin memencet tombol nomor-nomor telepon di sebuah wartel.“Halo? Kamu Saleng?”“Siapa ini? Halo?”“Sakka. Masih ingat? Kakaknya Beddu, murid pencak silatmu dulu”. Saleng terdiam sejenak.

“Astagfirullah....Kamu dimana? Berapa anakmu? Sudah kaya kamu ya”. Sakka gelisah. Ia menjawab apa adanya sambil menjelaskan nomor teleponnya ia dapatkan dari kawan mereka yang juga ikut merantau ke Nunukan. “Sersan Laobe masih tugas di kampung kita ya?” suaranya bergetar.“Siapa? Sersan Laobe? Oooh, sudah pensiun. Khan dia kawini si Saenab, anaknya Puang Ali? Mereka kini yang tempati rumah Puang Ali sejak meninggal tak lama setelah ia nikahi anaknya”.

Informasi itu sudah cukup baginya. Kapal penumpang milik Pelni yang ditumpanginya melewati Kodingareng, pulau para nelayan tangguh. Hamparan pasir memanjang ke utara tampak seperti lembaran sarung sutra Bugis yang baru saja lepas dari tenunan. Selain di musim barat, perairan itu menjadi pusat cengkerama ikan cakalang yang menjadi incaran nelayan pantai selatan Makassar. Lelaki beruban berwajah keras itu berusaha tenang namun gagal.

Tubuhnya ceking hitam bagai manekin tua tegak sia-sia di sudut belakang toko pakaian bekas.Berulang kali ia beringsut dari dinding tempatnya menyandar untuk memegang batang besi dingin pembatas di geladak sambil melepas pandang sejauh mungkin. Dadanya sesak. Ia menunduk gemetar. Cahaya lentera sesekali menyembul dari balik pohon kelapa yaang berjejer di sepanjang pantai.Tapi itu bagai belati yang perlahan tertancap di kelopak matanya. Ia mulai terdengar mengerang ditingkapi pukulan ombak menghantam buritan.

Pelabuhan Makassar tinggal sepelemparan batu. Raungan panjang sirene kapal sebanyak tiga kali membuatnya semakin menderita.Ia telah kembali ke tanah kelahirannya, negeri yang ia terus rindukan puluhan tahun terakhir. Negeri yang juga telah jadi saksi pada kehilangan kehormatannya sebagai lelaki Bugis.

Inilah perjalanan pulang yang dirancang rapi. Ia telah merencanakannya sejak meninggalkan negerinya itu tiga puluh tahun silam. Sengaja dipilihnya jadwal kapal yang tiba tepat tengah malam sehingga tak ada yang tahu kepulangannya. Tak ada kabar untuk keluarga demi sebuah penjemputan penuh isak tangis bahagia.Tak ada oleh-oleh radio transistor atau minyak wangi cap Ular. Tapi untuk sebuah janji, janji lelaki Bugis.

Lelaki itu hanya berharap sumur kampung di dekat hutan kecil samping kuburan masih ada.Lebih senang lagi jika gubuk sawah di dekatnya juga masih ada. Dan itulah yang ditujunya sesaat setelah kakinya menginjak daratan. Tak ada waktu untuk berdiri sejenak mengenali kembali bangunan-bangunan tua di sepanjang dermaga pelabuhan.

Ia tak ada urusan dengan kebijakan pembangunan kota itu.Tak ada pula yang menarik buatnya untuk ditengok ke luar jendela mobil atau sekadar bertegur sapa dengan perempuan tua di sampingnya sepanjang perjalanan bermobil selama tiga jam sebelum memutuskan turun di sebuah jalan lurus diapit persawahan luas. Tapi Sakka, si lelaki uban itu sebenarnya tak perlu khawatir wajahnya dikenali seseorang.

Pergi meninggalkan kampung sebagai laki-laki berdada bidang namun berjalan menunduk menjauhi kampung saat itu, ia kini datang dengan penuh uban ditemani tas lusuh dan sebilah badik di pinggang sebelah kiri. Dingin menusuk tulang. Suara adzan dari loudspeaker murahan terdengar dari kampung, kampung yang ia pernah miliki. Badannya menggigil tapi bukan karena dingin subuh buta itu. Sakka kenal suara adzan itu, Beddu adik kandungnya. Beberapa butir air mata jatuh ke pipinya yang kurus.

Ia mempercepat langkah melewati pematang sawah. Musim panen baru saja usai meninggalkan batang padi teronggok di samping pematang. Ia harus tiba secepatnya di sumur kampung sebelum warga kampung lainnya datang.Ia beruntung sumur itu masih ada. Hanya roda gayung yang telah berganti lebih besar terpasang kokoh melintang di atas lubang sumur.

Seutas tali karet menjulur ke dasarnya. Tapi tak ada lagi gubuk petani di dekatnya kecuali hutan kecil sekitar dua ratus meter sebelah timur sumur. Nafasnya tersengal menarik gayung lalu berwudhu. Dingin air mengusap wajahnya yang tua. Ia merintih lagi. Bergegas menuju sebatang pohon di hutan kecil lalu untuk salat subuh. Kini, ia menunggu. Mata tuanya tersiksa mengawasi penduduk kampung silih berganti mendatangi sumur, laki-laki perempuan.Usia membuatnya rabun. Beberapa diantara penduduk antri sambil menghabiskan tembakau kampung menunggu giliran mendapatkan air.

Matahari pagi menampakkan diri dan ia terpana.Tak ada yang berubah. Sawah, kubangan kerbau, pintu air dan saluran irigasi yang kering. Juga lengkung bukit yang membentengi kampungnya. Tapi sunyi. Hanya ada desah nafasnya sendiri.

Di sumur itulah semuanya terjadi 30 tahun lalu. Kemarau menyiksa kampungnya. Hanya sumur itu yang dituju semua orang kampung untuk segala kebutuhan akan air. Juga untuknya. Dua ekor kerbau kurus peninggalan ayahnya akan diberinya minum siang itu. Bertelanjang dada, Sakka menimba sumur yang hampir kering.Kadang terjaring pula tanah hitam dari dasar sungai. Ember miliknya belum penuh ketika terdengar suara dari belakang mengagetkannya.

“Hei, kamu jangan habiskan airnya. Sisakan ke orang lain juga”. Sakka berbalik. Ia mulai khawatir. Sersan Laobe berdiri tegak memegangi sarungnya. “
Tidak, Pak. Ini hanya untuk minum kerbau saya”.
“Sudah, cukup. Sapimu kan bisa menunggu giliran belakangan”.
Sakka diam terpaku tapi masih memegang tali gayung di bibir sumur. Sersan Laobe menatapnya nanar. Telah lama ia hindari tentara satu-satunya di kampungnya itu. Meskipun pendatang dari kampung sebelah, Laobe adalah momok bagi siapapun di kampung, termasuk dirinya.Entah kenapa, tentara itu dengan mudah melepaskan tembakan ke udara hanya karena tidak senang pemuda kampung duduk bercengkerama di warung jika malam tiba. Tidak sedikit yang mendapat tendangan sepatu lars atau tempelengan.Tak malu pula si sersan itu meminta pisang penduduk atau bahkan menebang sendiri tanpa harus meminta ijin pemiliknya.

Pada hari pasar kampung, para pedagang es campur telah mafhum jika Sersan Laobe ngeloyor pergi begitu saja tanpa pamit apalagi membayar.Tak ada yang berani bahkan untuk menatap matanya sekalipun. Jangan pernah mencoba berbisik jika berpapasan atau terlihat olehnya. Ia bisa marah besar karena mengira dirinya yang dijadikan obyek bisikan. Jalan kampung yang berdebu seakan disiapkan untuknya sendiri jika memacu motor merek Binter bututnya.Raungan celaka Binter jelek itu pertanda bagi semua orang untuk segera menyingkir dari jalan. Keadaan makin tak terkendali jika si tentara itu pulang mabuk sehabis minum tuak dari kampung sebelah. Sakka semakin khawatir. Ia tak pernah berhadapan langsung dengan si sersan kecuali hari itu, di sumur kampung, berdua pula.
“Kamu tunggu apa lagi? Ayo pergi sana,”
Sersan Laobe merangsek maju dengan gusar. Laobe merampas gayung dari genggaman Sakka yang bergerak mundur. Sambil berbungkuk, tangannya mencoba meraih ember yang baru terisi setengah. Namun sia-sia sebab entah sengaja atau tidak, tersenggol kaki Sersan Laobe hingga tumpah. Refleks wajahnya menatap Sersan Laobe yang ternyata juga menatapnya. Mereka beradu pandang meskipun hanya sedetik sebelum Sakka menunduk dan meraih embernya yang telah kosong. Tapi petaka itu akhirnya terjadi.
“Kenapa? Kamu marah ya? Kamu menantang saya?”
Sersan Laobe kini berdiri tegak menantang di hadapan Sakka yang terdiam. Ia menunduk sambil berdoa. Sia-sia. Dengan marah Sersan Laobe mencengkeram pundaknya yang basah oleh keringat dan memaksa wajah Sakka menatap kepadanya.

Plaaak!! Kepalan tangan si Sersan terasa panas di telinga kirinya. Beberapa detik pandangannya gelap sebelum jatuh sempoyongan ke belakang. Sersan Laobe memandangnya penuh kemenangan. Sakka berdiri menatap amat marah. Inilah bentuk penghinaan terbesar bagi lelaki bugis.Tempeleng adalah pembunuhan tidak langsung baginya.

Sersan ini pasti tak pernah tahu jika banyak pertempuran antar kerajaan di Tanah Bugis di masa lalu terjadi karena penghinaan seperti ini. Badannya gemetar. Matanya berair seakan cairan darah memaksa keluar dari kelopak matanya.
“Kita akan ketemu Pak Sersan,” Sakka berjalan mundur.
Dunia serasa runtuh di kakinya. Dadanya seakan terpanggang bara.
“Saya tunggu,” Sersan Laobe tersenyum sinis. Sakka berlari ke kampung. Laobe bersenandung menuju tengah sawah. Berak. Seakan tak terjadi apa-apa.

Esoknya, kampung geger. Sakka menghilang. Ibu dan adik-adiknya saling berpelukan di dekat tungku masak dalam tangis.Mereka telah bersumpah tak akan bercerita kepada siapapun tentang kejadian itu. Tapi Sakka berjanji akan kembali, entah kapan. Ia bersujud di ujung kaki ibunya, membasuh kaki wanita tangguh itu. Ia juga memeluk adik-adiknya satu per satu.

Alangkah menderitanya sang ibu.Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Anaknya adalah laki-laki Bugis, anak yang dilahirkannya dari seorang lelaki bugis yang tangguh bak karang. Tapi kini anaknya dihina. Sejak saat itu, ia tak pernah lagi datang ke sumur saksi penghinaan anaknya. Tak akan pernah lagi. Dan waktu itu datang juga. Setelah menunggu dua hari di hutan kecil, tentara yang membuatnya pergi selama 30 tahun akhirnya muncul juga ke sumur itu.

Meskipun juga telah beruban, tapi badannya masih kekar seperti dulu. Kaki Sakka gemetar mendekati sumur. Lama nian derita batin ditanggungnya di perantauan.Tiga puluh tahun menunggu dibekap rindu pada ibu dan adik-adiknya adalah penderitaan tiada tara baginya. Namun derita atas hina dari si sersan jauh lebih menyiksa. Berkali-kali tubuhnya terbangun menggigil bermandikan keringat di tengah malam buta.Mimpi buruk peristiwa itu menghantuinya hingga uban tumbuh di rambutnya. Tapi ia telah bersumpah tak akan menikah sebelum mimpi buruk itu berakhir. Sebelum janji terpenuhi, janji seorang lelaki.

Sersan Purnawirawan Laobe tak menyadari semuanya. Bahkan setelah Sakka menegurnya.
“Masih ingat sama saya sersan?”, ia berdiri terpacak di hadapan tentara tua itu.
“Siapa ya? Dari mana?”
“Saya Sakka yang kamu tempeleng 30 tahun lalu di sumur ini”.
Mata Sersan Laobe mengernyit, mencoba mengingat sebelum terkesiap. Mundur tanpa sadar. Tapi ia mencoba tegar dengan sebuah senyum kecil.
“Kenapa baru sekarang datangnya,”
“Saya menunggu kamu pensiun. Saya menghormati baju ijo-mu.”
Tak sekalipun matanya lepas dari si Sersan di hadapannya.
“Tapi kita sudah tua. Itu sudah lama sekali,” dengan nada putus asa Sersan Laobe mencoba bertahan.
“Janji adalah janji. Saya hanya berusaha menepati janji,” badan Sakka mengeras.
Tentara tua itu mundur selangkah. Terlambat. Sakka mencabut badik yang terselip di pinggang kirinya. Bagai kilat, ia melompat ke depan dan menusuk dada kiri, lalu perut tentara tua itu. Mata Sersan Laobe membelalak memegangi dada yang bersimbah darah.Beberapa tikaman kembali datang sebelum Laobe rebah ke tanah lalu mati dengan menderita.

Sakka berjalan tenang ke arah selatan menjauhi kampung. Tak sekalipun ia menoleh.Penduduk kampung kembali geger seperti 30 tahun lalu. Kentongan dipukul bertalu-talu tanda bahaya. Ibu Sakka yang terbaring sakit sejak lama terlompat bangun. Beddu berlari kencang menerobos kebun pisang dan melompat ke atas rumah panggung reyot mereka.
“Sersan Laobe mati dengan penuh tikaman di dekat sumur, Bu!” Sang Ibu kembali jatuh terduduk menangis tersedu di ujung dipan.
“Anak lelakiku telah kembali!”