Translate

March 26, 2009

AGH. ABDURRAHMAN AMBO DALLE

Mengayuh Sepeda 70 KM Demi Dakwah

Gurutta Ambo Dalle dilahirkan dari keluarga bangsawan yang masih kental, sekitar tahun 1900 M, di Desa Ujung Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, sekitar 7 km sebelah utara Sengkang. Ayahnya bernama Andi Ngati Daeng Patobo dan ibunya bernama Andi Candara Dewi.

Kedua orang tua beliau memberi nama Ambo Dalle yang berarti bapak yang memiliki banyak rezeki. Diharapkan anak itu kelak hidup dengan limpahan rezeki yang cukup. Adapun nama Abd. Rahman diberikan oleh seorang ulama bernama K.H. Muhammad Ishak, pada saat usia beliau 7 tahun dan sudah dapat menghapal Al Qur’an.

Sebagai anak tunggal dari pasangan bangsawan Wajo, Gurutta tidak dibiarkan menjadi bocah yang manja. Sejak dini beliau telah ditempa dengan jiwa kemandirian dan kedisiplinan, khususnya dalam masalah agama. Bersekolah di Volk School (Sekolah Rakyat) pada pagi hari dan belajar mengaji pada sore dan malam harinya. Dalam dunia permainan anak-anak, Ambo dale adalah seorang penggiraing bola handal sehingga digelari “Si Rusa.”

Selama Belajar, Ambo Dalle tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu Alquran seperti tajwid, qiraat tujuh, nahwu sharaf, tafsir, dan fikih saja.. melainkan juga mengikuti kursus bahasa Belanda di HIS dan pernah pula belajar di Sekolah Guru yang diselenggarakan Syarikat Islam (SI) di Makassar.

Pada masa kecilnya, Ambo Dalle mempelajari ilmu agama dengan metode sorogan (sistem duduk bersila); guru membacakan kitab, murid mendengar dan menyimak pembicaraan guru. Pada tahun 1928, ketika H. Muhammad As’ad bin Abdul Rasyid Al-Bugisy, seorang ulama Bugis Wajo yang lahir dan menetap di Mekkah pulang kembali ke negeri leluhurnya, Ambo dale segera berangkat ke Sengkang untuk menimba ilmu dari guru besar tersebut.

Peluang untuk menuntut ilmu semakin terbuka tatkala telah banyak ulama asal Wajo yang kembali dari Mekkah. Di antaranya Sayid Ali Al Ahdal, Haji Syamsuddin, Haji Ambo Omme, yang bermaksud membuka pengajian di negeri sendiri, seperti tafsir, fikhi, dan nahwu sharaf. Sementara itu, pemerintah Kerajaan Wajo (Arung Matoa) bersama Arung Ennengnge (Arung Lili), sangat senang menerima tamu ulama. Karena itu, lingkungan kerajaan tempat beliau dibesarkan sering kedatangan ulama dari Mekkah. Diantara ulama itu adalah Syekh Muhammad Al-Jawad, Sayid Abdullah Dahlan dan Sayid Hasan Al-Yamani (Kakek Dr. Zaki Yamani, mantan menteri perminyakan Arab Saudi).

Keberuntungan dalam Belajar
Suatu ketika, AGH. Muhammad As’ad yang biasa disapa oleh masyarakat Bugis dengan Anregurutta Puang Aji Sade, menguji secara lisan murid-muridnya, termasuk Ambo Dalle. Ternyata jawaban Ambo Dalle dianggap yang paling tepat dan sahih. Maka, sejak saat itu ia diangkat menjadi asisten. Sehingga pada tahun 1935, beliau berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan menetap beberapa bulan di sana untuk memperdalam ilmu agama pada para syeikh di Mekkah.

Sejak Gurutta diangkat menjadi asisten AGH. Muhammad As’ad, beliau mulai meniti karier mengajar dan secara intens menekuni dunia pendidikan ini. Pada saat yang sama, Arung Matowa Wajo beserta Arung Lili sepakat menyarankan kepada Anregurutta H. Muhammad As’ad agar pengajian sistem sorogan (duduk bersila) ditingkatkan menjadi madrasah. Saran tersebut diterima dengan terbuka, maka madrasah pun didirikan atas bantuan dan fasilitas pemerintah kerajaan. Maka dibukalah pendidikan awaliyah (setingkat taman kanak-kanak), ibtidaiyah (SD) dan tsanawiyah (SMP). Perguruan itu diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah disingkat MAI Sengkang, yang lambangnya diciptakan oleh Ambo Dalle dengan persetujuan AGH. As’ad dan ulama lainnya. Ambo Dalle bahkan kemudian diserahi tugas memimpin lembaga itu. Dalam waktu singkat, popularitas MAI Sengkang dengan sistem pendidikannya yang modern (sistem madrasah), menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.

Salah seorang yang tertarik dengan sistem pendidikan MAI Sengkang adalah H.M.Yusuf Andi Dagong, Kepala Swapraja Soppeng Riaja yang berkedudukan di Mangkoso. Maka ketika H.M.Yusuf Andi Dagong ini diangkat sebagai Arung Soppeng Riaja pada tahun 1932, ia pun lalu mendirikan mesjid di Mangkoso sebagai ibukota kerajaan. Namun, mesjid itu selalu sepi dari aktivitas ibadah akibat rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap agama yang dianutnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, atas saran para tokoh masyarakat dan pemuka agama, diputuskan untuk membuka lembaga pendidikan (angngajiang: pesantren) dengan mengirim utusan untuk menemui Anregurutta H.M.As’ad di Sengkang. Utusan itu membawa permohonan kiranya Anregurutta H.M. As’ad mengizinkan muridnya, yaitu Gurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle untuk memimpin lembaga pendidikan yang akan dibuka di Mangkoso.

Ketika itu, di Sulawesi Selatan sudah ada beberapa tempat yang merupakan pusat pendidikan Islam dan banyak melahirkan ulama. Tempat-tempat tersebut adalah Pulau Salemo di Pangkep, Campalagian di Polmas, dan di Sengkang Wajo. Namun, bila dibandingkan dengan Salemo dan Campalagian yang menerapkan sistem tradisional berupa pengajian halakah (mangaji tudang), MAI Sengkang memiliki kelebihan karena telah menerapkan sistem modern (madrasi/klasikal) di samping tetap mempertahankan pengajian halakah. Dan, itulah agaknya menarik minat pemerintah Swapraja Soppeng Riaja untuk membuka lembaga pendidikan dengan sistem yang sama dengan MAI Sengkang.

Awalnya, permohonan itu ditolak karena Anregurutta HM.As’ad tidak menghendaki ada cabang madrasahnya. Beliau kuatir keberadaan madrasah yang terpencar menyulitkan kontrol sehingga dapat mempengaruhi kualitas madrasahnya. Namun, setelah melalui negosiasi yang alot, akhirnya keputusan untuk menerima permohonan Arung dan masyarakat Soppeng Riaja itu diserahkan kepada Gurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle.

Hari Rabu, tanggal 29 Syawal 1357 H atau 21 Desember 1938 Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle beserta keluarga dan beberapa santri yang mengikuti dari Wajo hijrah ke Mangkoso dengan satu tujuan, melanjutkan cita-cita dan pengabdian. Hari itu juga Gurutta memulai pengajian dengan sistem halakah karena calon santri memang sudah lama menunggu. Kelak momen ini dianggap bersejarah karena menjadi cikal bakal kelahiran DDI. Sambutan pemerintah dan masyarakat setempat sangat besar, terbukti dengan disediakannya segala fasilitas yang dibutuhkan, seperti rumah untuk Gurutta dan keluarganya serta santri yang datang dari luar Mangkoso.

Setelah berlangsung tiga minggu, Gurutta kemudian membuka madrasah dengan tingkatan tahdiriyah, ibtidaiyah, iddadiyah, dan tsanawiyah. Fasilitas pendidikan yang diperlukan serta biaya hidup mereka beserta guru-gurunya ditanggung oleh Raja sebagai penguasa setempat. Di dalam mengelola pesantren dan madrasah, Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle dibantu oleh dua belas santri senior yang beberapa diantaranya ikut bersama beliau dari Sengkang. Mereka adalah : Gurutta M. Amberi Said, Gurutta H. Harun Rasyid Sengkang, Gurutta Abd. Rasyid Lapasu, Gurutta Abd. Rasyid Ajakkang, Gurutta Burhanuddin, Gurutta M. Makki Barru, Gurutta H. Hannan Mandalle, Gurutta Muhammad Yattang Sengkang, Gurutta M. Qasim Pancana, Gurutta Ismail Kutai, Gurutta Abd. Kadir Balusu, dan Gurutta Muhammadiyah. Menyusul kemudian Gurutta M. Akib Siangka, Gurutta Abd.Rahman Mattammeng, dan Gurutta M. Amin Nashir. Lembaga itu diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso, namun bukan cabang dari MAI Sengkang.

Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle, berbekal pengalaman mengajar yang ada, diberi amanah untuk memimpin MAI Mangkoso. Berkat dukungan dan simpati dari pemerintah dan masyarakat Mangkoso, pertumbuhan dan perkembangan madrasah ini sangat pesat, terbukti dengan banyak permintaan dari luar daerah untuk membuka cabang. Anregurutta merespon permintaan itu, maka dibukalah cabang MAI Mangkoso di berbagai daerah.

Zaman Jepang
Namun, masalah mulai mengintai ketika Jepang masuk dan menancapkan kuku-kuku imperialis di bumi Sulawesi Selatan. Proses belajar dan mengajar di madrasah ini mulai menghadapi kesulitan karena pemerintah Jepang tidak mengizinkan pengajaran seperti yang dilakukan di madrasah. Untuk mengatasi masalah ini, Guruta Ambo Dalle tidak kehilangan siasat. Beliau mengambil inisiatif agar pelajaran yang sebelumnya dilakukan di dalam kelas, dipindahkan ke masjid dan rumah-rumah guru. Kaca daun pintu dan jendela masjid dicat hitam agar pada malam hari cahaya lampu tidak tembus ke luar. Setiap kelas dibagi dan diserahkan kepada seorang guru secara berkelompok dan mengambil tempat di mana saja asal dianggap aman dan bisa menampung semua anggota kelompok. Sewaktu-waktu pada malam hari dilarang menggunakan lampu. Ajaib, dengan cara itu justru mengundang peminat yang kian bertambah dan luput dari pengawasan Jepang. Malah, ada beberapa petinggi Jepang yang telah mengenal Gurutta Ambo Dalle secara dekat dan bahkan ada yang menaruh hormat yang sangat dalam sehingga menganggap Gurutta sebagai guru dan orang tuanya. Demikianlah kharisma Gurutta Ambo Dalle menembus sekat bangsa, suku, golongan dan strata dalam masyarakat sehingga beliau bisa merengkuh hati massa pendukungnya.

Dunia Gurutta adalah lautan ilmu dan pengabdian yang tak habis-habisnya. Masyarakat akan selalu terkesan bagaimana Sang Anregurutta selama bertahun-tahun mengayuh sepeda dari Mangkoso ke Pare-Pare yang berjarak 30 km dan menjadi 70 km pulang pergi. Perjalanan panjang dan melelahkan itu dilakoninya tanpa mengeluh, karena beliau juga menjalankan tugas sebagai Kadhi di Pare-Pare. Bagi orang lain, hal itu mejadi sesuatu yang sangat menguras tenaga. Namun, bagi Gurutta Ambo Dalle, jiwanya telah terbungkus dengan jiwa pengabdian dan kecintaan agama yang kukuh sehingga semua dijalani dengan ikhlas dan ridha.

Mulanya, setelah beberapa tahun memimpin MAI Mangkoso, beliau dihadapkan pada kondisi bangsa Indonesia yang sedang dalam masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Di mana-mana gema perjuangan bergelora di seluruh pelosok tanah air. Gurutta Ambo Dalle terpanggil untuk membenahi sistem pendidikan yang menurutnya nyaris terbengkalai. Dia sadar selain bertempur melawan penjajah dengan senjata, berperang melawan kebodohan pun sama pentingnya. Sebab, kebodohanlah salah satu yang menyebabkan Indonesia terbelenggu dirantai kolonialisme selama berabad-abad.

Kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 ternyata tidak serta merta mendatangkan ketentraman dan kedamaian bagi rakyat. Ancaman datang lagi dari Belanda melalui agresi Sekutu/NICA. Rakyat dari berbagai pelosok bangkit mengadakan perlawanan. Terjadilah peristiwa yang dalam sejarah dikenal sebagai Peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan. Tentara NICA di bawah komando Kapten Westerling mengadakan pembunuhan dan pembantaian terhadap rakyat yang dituduh sebagai ekstrimis.

Peristiwa tersebut membawa dampak bagi kegiatan MAI Mangkoso. Banyak santri-santri yang ditugaskan oleh Anregurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle untuk mengajar di cabang-cabang MAI di berbagai daerah, menjadi korban keganasan Westerling. Diantara yang menemui syahid itu tercatat nama M. Saleh Bone dan Sofyan Toli-Toli, dua santri MAI Mangkoso yang ditugaskan mengajar di Baruga Majene, gugur ketika menjalankan tugasnya.

Namun, situasi itu tidak menyurutkan semangat Anregurutta H Abdurrahman Ambo Dalle untuk mengembangkan MAI. Bahkan, dalam situasi seperti itu bersama beberapa ulama lepasan MAI Sengkang, diantaranya AG.H.Daud Ismail dan AG.H.M.Abduh Pabbajah, AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle melakukan pertemuan alim ulama/kadhi se Sulawesi Selatan di Watang Soppeng. Pertemuan itu diadakan pada hari Rabu tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H / 5 Februari dan berakhir pada hari Jumat tanggal 16 Rabiul Awal 1366 H / 7 Februari 1947. Pertemuan itu menyepakati membentuk organisasi yang diberi nama Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI), yang bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle dipilih sebagai ketua dan AG.H.M.Abduh Pabbajah sebagai sekretaris organisasi itu. Setelah pertemuan tersebut, MAI Mangkoso beserta seluruh cabang-cabangnya berubah nama menjadi DDI. Mangkoso pun ditetapkan sebagai pusat organisasi.

Pasca proklamasi kemerdekaan gairah rakyat untuk mengejar segala ketertinggalan utamanya dalam bidang pendidikan bagai tak terbendung. Hal ini membuat pimpinan pusat DDI sangat kewalahan melayani permintaan untuk mengirimkan guru-guru untuk cabang-cabang DDI yang baru. Maka, suatu kebijaksanaan segera diambil oleh ketua umum melalui suatu keputusan rapat adalah dengan menugaskan siswa-siswa kelas tertinggi untuk mengajar di madrasah-madrasah yang tersebar di mana-mana. Mereka diwajibkan mengabdi selaku pendidik dalam jangka waktu tertentu. Setelah selesai, barulah mereka dipanggil kembali untuk meneruskan pelajarannya. Prakarsa ini ternyata bermanfaat ganda. Kesulitan tenaga pengajar dapat ditanggulangi tanpa memerlukan biaya besar. Sedangkan bagi para siswa, kegiatan tersebut berguna sebagai wahana mempraktikkan ilmu yang telah mereka dapatkan di madrasah. Selanjutnya, bila mereka berada di tengah masyarakat, tidak canggung lagi dalam melanjutkan pengabdiannya.

Hijrah Ke Pare-pare
Tahun 1950, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle yang berusia 50 tahun itu akhirnya pindah ke Parepare meninggalkan Mangkoso yang sarat kenangan yang semakin meneguhkan sosok Gurutta dalam kiprah menegakkan agama Islam lewat media pendidikan. Beliau membangun rumah dan menetap di Ujung Baru bersama keluarganya dan pada tahun itu pula pusat Darud Da’wah Wal Irsyad diboyomg ke Parepare, dengan menempati sebuah gedung yang cukup representatif di sebelah selatan Masjid Raya. Gedung tersebut adalah pemberian Arung Mallusetasi. Tak berapa lama kemudian, dibangun perguruan di Jalan Andi Sinta Ujung Baru Parepare (depan Masjid Al Irsyad, bersebelahan dengan rumah kediaman Gurutta). Setelah itu, Gurutta pindah ke Ujung Lare (Lereng Gunung) yang diperuntukkan bagi santri putra. Sedangkan untuk santri putri, tetap di Ujung Baru. Sementara DDI di Mangkoso tetap berjalan seperti biasa dan dikelola oleh pemimpin yang baru, yakni KH. Muhammad Amberi Said.

Secara geografis kota Parepare amat strategis untuk menjadi pusat kegiatan organisasi dan pendidikan. Terletak di tepi pantai, kota itu memiliki pelabuhan alam yang sarat dilabuhi kapal-kapal berbagai ukuran, baik dari dalam negeri maupun dari manca negara. Kondisi ini menunjang perkembangan DDI dalam kiprah pengabdiannya. Untuk itu, manajemen organisasi DDI disempurnakan sesuai dengan kebutuhan. Muktamar sebagai institusi tertinggi organisasi ditetapkan dua tahun sekali. Badan-badan otonom didirikan, antara lain : Fityanud Da’wah wal Irsyad (FIDI), bergerak di bidang kepanduan dan kepemudaan, Fatayat Darud Da’wah wal Irsyad (FADI), untuk kaum putri dan pemudi, Ummahatud Da’wah wal Irsyad (Ummmahat), bagi para Ibu. Dibentuk pula dewan perguruan yang mengatur pengelolaan madrasah dan sekolah, termasuk pengangkatan guru-guru dan penyusunan kurikulum. Sistem pendidikan disesuaikan dengan kemajuan zaman.

Dalam kesibukannya memimpin organisasi dan perguruan itu, AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle tidak melalaikan kewajibannya sebagai warga negara yang taat. Ia bersama KH. Fakih Usman dari Departemen Agama Pusat dipercayakan oleh pemerintah RI membenahi dan merealisasi pembentukan Departemen Agama Propinsi Sulawesi. Tugas itu dapat dilaksanakan dengan baik berkat ketekunan dan kesabarannya. Sebagai Kepala Depag yang pertama, diangkat KH.Syukri Gazali, sedangkan beliau sendiri diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Parepare pada tahun 1954, menggantikan KH. Zainuddin Daeng Mabunga yang dialihtugaskan ke Makassar.

Diculik Kahar Muzakkar
Perjalanan hidup terus bergulir dengan segala dinamika yang mengiringinya. Hingga pada suatu hari, tepatnya tanggal 18 juli 1955, mobil yang dikemudikan oleh Abdullah Giling, sopir (sebelumnya adalah pembonceng) merangkap sekretaris Gurutta, dicegat sekelompok orang bersenjata lengkap di Desa Belang-Belang Kab. Maros. Awalnya, Abdulllah Giling mengira pasukan tersebut adalah tentara yang sedang latihan perang-perangan. Ketika mobil berhenti, anggota pasukan bersenjata itu membuka topi bajanya dan berhamburanlah rambut panjang melampaui punggung pemiliknya, ciri khas pasukan pemberontak. Yakinlah mereka kalau sedang dihadang oleh gerombolan separatis DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Waktu itu DI/TII memang banyak mengajak kaum ulama untuk dibawa masuk ke hutan dan dijadikan penasehat Kahar Muzakkar. Yang menolak akan diambil secara paksa (diculik) seperti yang terjadi pada Gurutta KH. Abd. Rahman Mattammeng. Pasukan gerombolan tersebut tidak memberikan kesempatan Gurutta Ambo Dalle untuk berbicara dan langsung dinaikkan ke atas usungan. Gurutta lalu dibawa masuk ke hutan yang menjadi basis perjuangan mereka untuk bergabung dengan anak buah Kahar Muzakkar. Niat pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia itu untuk menculik Gurutta Ambo Dalle memang sudah lama. Ketika Gurutta dihadapkan kepada Kahar Muzakkar, tokoh pemberontak ini tampak gembira, “Alhamdulillah, Pak Kiai sudah di tengah-tengah kita, Insya Allah dengan doa Pak Kiai, perjuangan kita akan mencapai kemenangan,” kata Kahar Muzakkar.

Di dalam hutan, dengan pengawalan yang cukup ketat dari para gerilyawan, Gurutta sama sekali tidak punya peluang untuk keluar dari hutan dan kembali ke kota. Maka, terbersitlah pikiran Gurutta agar lebih baik melanjutkan misi pendidikan Islam seperti yang ia cita-citakan sejak kecil. Pengajian dilakukan pada anggota DI/TII dan keluarganya di hutan. Gurutta Ambo Dalle dengan faham Ahlusunnah Wal Jamaah tampaknya mendapat benturan dengan sebagian anggota Kahar Muzakkar yang menganut faham Wahabi dan sebagiannya lagi tidak menghiraukan mazhab. Maka tidak mengherankan jika sering terjadi konflik antara beliau dengan Kahar Muzakkar dan pengikut setianya.

Selama delapan tahun Gurutta berada di hutan di tengah kancah perjuangan idealisme kaum gerilyawan DI/TII, selama itu pula Kahar Muzakkar tidak pernah jauh dari Gurutta. Kemana ia pergi Gurutta selalu diikutkan. Kalau ada pasukan yang terluka kena tembakan dari serangan TNI, Gurutta mengobati hanya dengan air putih yang ia doakan, berangsur-angsur luka itu sembuh dan sang prajurit itu berguru dan menjadi murid Gurutta.

Pada tahun 1963, Operasi Kilat yang dilancarkan oleh pemerintah (TNI) semakin menekan kaum pemberontak itu sehingga kekuatan mereka kian lemah dan terpecah-pecah. Gurutta pun tidak pernah lagi mendapatkan pengawalan seperti sebelumnya. Hal itu digunakan oleh Gurutta untuk mencari kontak dengan TNI dan berusaha keluar dari hutan. Beliau dijemput oleh TNI dipimpin A. Patonangi yang memang sudah lama mencarinya dan langsung dibawa menghadap Panglima Kodam XIV Hasanuddin- waktu itu Kolonel M.Yusuf. Pertemuan itu sangat mengharukan dan suasana hening pun terjadi dalam ruangan, layaknya pertemuan seorang anak dengan orang tuanya yang sudah lama memendam rindu, baru berjumpa setelah berpisah sekian lama. Sungguh banyak hal yang bisa dipetik dari pengalaman selama di hutan, namun yang pasti Gurutta lebih menuai kebijaksanaan dan kearifan dalam menilai semua itu.

Kiprahnya dalam Perjuangan
Keteguhan sikap Anregurutta tak lekang di setiap peristiwa dan pergolakan yang beliau lalui dalam perjalanan hidupnya. Ketika terjadi pemberontakan G-30 S/PKI, Gurutta Ambo Dalle yang ketika itu berdomisili di Parepare, tak bergeming dan tetap kukuh dengan prinsip dan keyakinannya. Pada waktu itu Anregurutta berpesan pada santrinya agar tetap berpegang teguh pada akidah Islam yang benar, jangan terpengaruh dengan gejolak yang terjadi dalam masyarakat.

Secara fisik, Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle tidak pernah secara langsung memanggul senjata melawan penjajah. Namun, kediamannya tak pernah sepi dari para pejuang yang minta didoakan keselamatannya. Misalnya, ketika Lasykar Pemuda Pejuang Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) di bawah pimpinan Andi Mattalatta hendak melakukan ekspedisi ke Jawa pada tahun 1946, mereka menemui Anregurutta untuk didoakan keselamatannya dalam memperjuangakan bangsa dan negara. Demikian juga saat mereka kembali dari Jawa dan hendak melakukan Konferensi Kelasykaran di Paccekke pada tanggal 20 Januari 1947 atas mandat Jenderal Sudirman. Kebetulan, letak Mangkoso bersebelahan dengan Paccekke, tempat berlangsungnya konferensi yang melahirkan Divisi TRI Sulawesi Selatan/Tenggara sebagai cikal bakal Kodam XIV Hasanuddin (sekarang Kodam VII Wirabuana).

Hijrah Ke Kaballangan Pinrang
Pada tahun 1977, pemilu kedua berlangsung selama zaman orde baru. Pada waktu itu, kondisi politik Indonesia terasa sangat panas. Baranyanya pun bergulir sampai ke kampus DDI Ujung Lare Parepare. Berkaitan dengan peristiwa pemilu ini, Gurutta berada dalam kondisi yang cukup dilematis. Keadaan memaksa beliau untuk memilih. Atas dasar demi menyelamatkan organisasi dari tekanan pemerintah yang cukup refresif, akhirnya AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle menyatakan diri bergabung dengan Golongan Karya (Golkar), partai politik yang berkuasa saat itu. Itupun setelah melalui perenungan dan kontemplasi yang matang dan didahului dengan shalat istikharah, untuk memohon petunjuk Illahi Rabbi agar dapat menentukan dan memilih jalan yang terbaik. Gurutta KH. Ambo Dalle memilih ikut bersama dengan pemerintah membangun bangsa dan negara daripada harus berseberangan jalan.

Meskipun pilihan politik itu bersifat pribadi, tidak membawa DDI sebagai lembaga, tapi tampaknya sikap ini tidak menghembuskan angin segar dalam internal warga DDI? Diantara tokoh DDI dan murid-muridnya banyak yang tidak setuju dengan sikap yang diambil Gurutta. Sikap itu dianggap sudah keluar dari garis perjuangan DDI. Hal itu berdampak pada keterpecahan sikap dari para santri tempat beliau memimpin. Peristiwa ini memberi dampak serius terhadap mekanisme pendidikan di Pesantren DDI Ujung Lare dan Ujung Baru Parepare yang dipimpin langsung oleh Gurutta. Kedua kampus itu nyaris kosong ditinggalkan oleh santri-santri yang tidak bisa menerima sikap politik Gurutta. Akhirnya para santriwati yang tadinya tinggal di Ujung Baru ditarik ke Ujung Lare untuk bergabung dengan santri putra yang masih bertahan.

Peristiwa tersebut membuat Gurutta sangat kecewa sehingga hampir saja membuatnya hijrah ke Kalimantan Timur. Ketika itu, pemerintah daerah dan masyarakat di sana menunggunya. Issu ini sempat tercium oleh Bupati Pinrang (Andi Patonangi). Beliau lalu menawarkan kepada Gurutta sebuah kawasan di daerahnya untuk dijadikan pesantren. Tahun 1978, akhirnya Gurutta hijrah lagi ke Pinrang, tepatnya di desa Kaballangan. Itulah awal berdirinya Pesantren Kaballangan Kabupaten Pinrang yang dipimpin langsung oleh beliau. Sedangkan pesantren di Parepare diserahkan kepada KH. Abubakar Zaenal.

Namun, satu hal yang perlu dicatat bahwa kedekatan Gurutta dengan Golkar dan pemerintah orde baru, selain telah menorehkan pengalaman pahit bagi DDI, harus diakui pula telah mendatangkan kebaikan bagi DDI. Tidak ada lembaga pendidikan dan organisasi Islam, khususnya di Sulawesi Selatan, yang demikian diperhatikan oleh pemerintah melebihi perhatian terhadap DDI. Pembangunan Pondok Pesantren DDI Kaballangan, misalnya, tidak lepas dari perhatian dan bantuan pemerintah. Pesantren putra yang dipimpin langsung oleh Gurutta itu tidak pernah sepi dari kunjungan pejabat, sipil dan militer, baik dari provinsi maupun pusat. Tentu saja, kunjungan itu membawa sumbangan untuk pesantren. Meskipun begitu, hubungan baiknya dengan pemerintah tidak pernah digunakan untuk kepentingan pribadi. Juga kedekatan itu tidak mengorbankan kharismanya sebagai ulama anutan yang disegani.

Kitab-kitab Karya Gurutta
Sebagai ulama, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle banyak mengurai masalah-masalah kesufian di dalam karya-karya tulisnya. Tapi, tidak sebatas saja, melainkan hampir semua cabang-cabang ilmu agama beliau kupas dengan tuntas, seperti akidah, syariah, akhlak, balaghah, mantik, dan lain-lain. Kesemua itu tercermin lewat karangan-karangannya yang berjumlah 25 judul buku. Kitab Al-Qaulus Shadiq fi Ma’rifatil Khalaqi, yang memaparkan tentang perkataan yang benar dalam mengenali Allah dan tatacara pengabdian terhadap-Nya. Menurut Gurutta, manusia hanya dapat mengenal hakikat pengadian kepada Allah jika mereka mengenal hakikat tentang dirinya. Untuk mengagungkan Allah, tidak hanya berbekalkan akal logika saja, tapi dengan melakukan zikir yang benar sebagai perantara guna mencapai makripat kepada Allah. Meskipun harus diakui bahwa logika harus dipergunakan untuk memikirkan alam semesta sebagai ciptaan Allah swt.

Dikemukakan bahwa cara berzikir mesti benar, sesuai yang diajarkan Rasulullah berdasarkan dalil-dalil naqli. Hati harus istiqamah dan tidak boleh goyah. Pendirian dan sikap aqidah tercermin dalam kitab Ar-Risalah Al-Bahiyyah fil Aqail Islamiyah yang terdiri dari tiga jilid. Keteguhan pendiriannya tentang sesuatu yang telah diyakini kebenarannya, tergambar dalam kitabnya Maziyyah Ahlusunnah wal Jama’ah.

Yang membahas bahasa Arab dan ushul-ushulnya tertulis dalam kitab Tanwirut Thalib, Tanwirut Thullab, Irsyadut Thullab. Tentang ilmu balagha (sastra dan paramasastra) bukunya berjudul Ahsanul Uslubi wa-Siyaqah, Namuzajul Insya’I, menerangkan kosa kata, dan cara penyusunan kalimat Bahasa Arab. Kitab Sullamul Lughah, menerangkan kosa kata, percakapan dan bacaan. Yang paling menonjol adalah kitab Irsyadul Salih. yang menerangkan penjelasan rinci (syarah atas bait-bait kaidah ilmu Nahwu)

AG.H. Abd. Rahman Ambo Dalle juga mengarang pedoman berdiskusi dalam Bahasa Arab, yakni kitab Miftahul Muzakarah dan tentang ilmu mantiq (logika) dalam kitab Miftahul Fuhum fil Mi’yarif Ulum. Aktivitas tulis menulis yang dilakukan oleh Gurutta kiranya tidak terlalu berat, karena panggilan untuk mengukirkan gagasan dalam kanvas sudah beliau lakoni sejak berumur 20 tahun.

Kepribadian Gurutta
Sebagai ulama yang menyimpan kharisma yang dalam, Gurutta KH. Abd. Rahman Ambo Dalle dikenal dekat dengan semua kalangan, baik santrinya maupun dengan masyarakat dan pemerintah. Pengabdiannya yang total dan kepemimpinannya yang adil, lekat di jiwa pencintanya. Akan sulit menemukan figur ulama seperti beliau dalam sepak terjang perjuangannya di dalam menegakkan syiar agama dan meletakkan dasar pondasi yang kokoh untuk menegakkan berdirinya pendidikan pesantren, yang kini memiliki jaringan cabang yang sangat luas hingga keluar negeri. Kedekatannya dengan semua golongan terkadang membuat beliau mempunyai “banyak anak” sebagai anak angkat yang tidak dibedakan dengan anak kandungnya sendiri. Seperti pengakuannya dalam sebuah media, “Bagi saya, semua orang seperti anak sendiri, semua harus diperlakukan secara adil tidak peduli apa anak kandung atau bukan”. Contohnya, Try Sutrisno (mantan Wapres) ketika menjabat sebagai Panglima ABRI datang menyerahkan diri sebagai anak. Gurutta pun menerimanya dan menyerahkan sehelai tasbih sebagai bukti dan mengajarkan beberapa doa sekaligus mendoakan. Sejak itu, bila Try Sutrisno ke Sulawesi Selatan, selalu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Gurutta.

Demikian pula beberapa santri yang pernah belajar di Pesantren DDI, khususnya di Mangkoso, Parepare, dan Kaballangan, diperlakukan sama, baik santri laki-laki maupun perempuan. Beliau selalu menaruh rasa cinta dan sayang kepada siapapun yang dianggap memiliki kemampuan belajar tanpa memandang latar belakang keluarga. Sebagai contoh, beliau pernah memberikan sebuah kitab Kifayah al-Akhyar yang ada ditangannya sebagai hadiah kepada santrinya, karena bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Gurutta.

Dalam kegiatan kemasyarakatan, Gurutta sangat intens dalam memberikan perhatian dan meluangkan waktunya untuk membahas dan menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan yang ditemui ataupun yang diajukan kepadanya. Namun, dengan segudang kesibukan yang mendera waktunya, Gurutta tak pernah melupakan tugas sehari-hari untuk mengajar di pesantren dan juga kegiatan dakwah yang diembannya hingga sampai ke pelosok-pelosok daerah. Apalagi jika memasuki hari-hari besar Islam seperti pada peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. atau peringatan Isra’ Mi’raj Nabi, beliau jarang dijumpai di rumah karena kesibukan berdakwah untuk kepentingan syiar Islam.

Dengan Pemerintah, Gurutta senantiasa menjalin kerja sama yang sangat akrab. Beliau mempunyai pandangan bahwa ulama dan umara keduanya merupakan dwi tunggal yang mutlak diperlukan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, di balik semua kharisma dan keseriusan beliau itu, sesungguhnya Gurutta juga adalah seorang yang menyimpan jiwa seni yang cukup kuat. Orang-orang terdekatnya paham betul akan kemampuan Gurutta dalam melukis, dekorasi, dan menciptakan lagu-lagu yang bernafaskan Islam. Gurutta Ambo Dalle pernah melukis potret dirinya yang nyaris sama dengan yang asli. Sedangkan untuk lagu-lagu ciptaannya, sampai sekarang masih tersimpan sebagian di tangan santrinya.

Detik-detik Terakhir
Gurutta KH. Abd. Rahman Ambo Dalle berpulang dalan usia senja mendekati satu abad. Namun, tahun-tahun menjelang beliau dipanggil Tuhan, tetap dilalui dengan segala kesibukan dan perjalanan-perjalanan yang cukup menyita waktu dan tanpa hirau akan kondisi beliau yang mulai uzur. Misalnya, dalam usia sekitar 80 tahun beliau masih aktif sebagai anggota MPR dan MUI pusat. Dalam rentanya dan kaki yang sudah tidak mampu menopang tubuhnya, beliau masih sempat berkunjung ke Mekkah untuk melakukan Umrah dan memenuhi undangan Raja Serawak (Malaysia Timur), meskipun mesti digendong.

Demikianlah perjalanan hidup seorang hamba Allah SWT yang telah melalui berbagai zaman dalam perjuangannya menegakkan dan mensyiarkan agama Islam. Di setiap era yang dilewatinya, dia tetap tampil sebagai sosok yang selalu tegar dan tegas. Ibarat pohon bakau ditepi pantai, ia tak pernah luruh dan tetap kukuh menghalau deburan ombak yang menghantamnya. Dia tak mau takluk pada perhitungan manusia akan kondisi dan kemampuan fisiknya di usia senja. Dimana keadaan sebagian tubuhnya sudah tidak berfungsi lagi, mata yang kabur dan nyaris tak melihat, tubuh ringkih yang tidak kuat berjalan. Semuanya tidak membuatnya untuk berhenti dari misi pengabdiannya.

Sumber

March 16, 2009

AGH. DAUD ISMAIL (1907-2006)


Ulama Pelestari Kearifan Lontara Bugis

Suku Bugis yang berdiam di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah, namun demikian suku ini juga menyebar ke berbagai daerah di Nusantara. Dalam tradisi masyarakat Bugis, gelar Anregurutta dapat diibaratkan sebagai professor di dunia kademik. Jika orang luar Sulawesi Selatan mendengar seseorang warga yang menyebutkan Anregurutta kepada seorang tokoh, tentu sang tokoh tersebut termasuk kategori ulama yang disegani. Anregurutta menempati status sosialnya yang tinggi dan kedudukan terhormat di mata masyarakat Bugis.


Pemberian gelar Anregurutta bukanlah pemberian gelar akedemik, melainkan pengakuan yang timbul dari masyarakat, atas ketinggian ilmu, pengabdian dan jasanya dalam dakwah keislaman. Tidak semua yang mengajar agama dipanggil sebagai Anregurutta, tergantung dari tingkat keilmuannya. Selain itu, masyarakat Bugis juga meyakini adanya kelebihan Anregurutta berupa karomah, dalam bahasa Bugis disebut makarame'.

Para muballigh misalnya, ada juga yang tetap dipanggil Ustadz, yaitu orang yang membawakan khutbah dan ceramah di masyarakat. Namun belum bisa dijadikan sebagai suatu rujukan bertanya berbagai hal keagamaan. Sementara posisi tingkat Anregurutta ini dijadikan sebagai tempat bertanya berbagai persoalan dan kehidupan secara umum. Ustadz dikenal hanya dalam kelompok kecil, misalnya kelompok pengajian dan ceramah-ceramah umum.

Salah satu di antara para pejuang dakwah islamiyah di tanah Bugis yang digelarai Anregurutta ini adalah Anregurutta Haji (AGH) Daud Ismail. Sosok ulama besar Sulawesi Selatan yang memiliki peran penting terhadap pengembangan syiar Islam di Sulawesi Selatan. Beliau adalah salah seorang arsitek berdirinya Datud Da’wa wal Irsyad (DDI) bersama almarhum AGH Abdurrahman Ambo Dalle dan AGH Muhammad Abduh Pabbajah serta ulama-ulama sunni Sulawesi Selatan lainnya. Gurutta Daud Ismail juga dikenal sebagai ulama ahli tafsir bahkan ia berhasil membuat tafsir (terjemahan) Al-Qur’an sebanyak 30 juz dalam bahasa Bugis.

Pendidikan Otodidak

Beliau Lahir di Cenrana Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng tahun 1907 M., buah perkawinan dari pasangan H. Ismail dan Hj. Pompola. Daud Ismail mengawali pendidikannya dari kolong rumah. Di sana Gurutta mulai belajar mengaji Al-Qur’an pada orang tua kandungnya. Kemudian melanjutkan pendidikan ke pesantren-pesantren di Sengkang. Dari sinilah Daud Ismail memiliki banyak guru dari kalangan ulama Sengkang.

Anregurutta Daud adalah seorang yang otodidak, sejak kecil belajar sendiri untuk mengenal aksara Lontara dan Latin. Kendati demikian, beliau juga pernah menimba ilmu pada banyak guru, baik di Soppeng (Kabupaten Soppeng) maupun di Soppeng Riaja (Kabupaten Barru), Sulawesi Selatan.

Antara tahun 1925 – 1929 Anregurutta Daud juga belajar kitab qawaid di Lapasu Soppeng Riaja, sekitar 10 KM dari Mangkoso, 40 KM dari Kota Pare Pare. Di sana Daud Ismail belajar pada seorang ulama yang bernama Haji Daeng. Pada masa itu pula Daud Ismail belajar kepada Qadhi Soppeng Riaja, H, Kittab.

Setelah Anregurutta H. Muhammad As’ad kembali dari Tanah Suci dan mendirikan Pesantren Bugis di Sengkang pada tahun 1927 yang bernama Al-Madrasatul Arabiyah Al-Islamiyah (MAI), maka pada tahun 1930 Anregurutta Daud kembali ke Sengkang untuk belajar kepada Anregurutta H.M. As’ad dan termasuk santri angkatan II, setelah Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle.

MAI ini merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua yang dikenal masyarakat di Sulawesi Selatan. MAI Sengkang Wajo didirikan pada bulan Zulkaidah 1348 H. atau bertepatan bulan Mei 1930 M. oleh Anregurutta As’ad yang baru saja kembali dari Mekkah pada tahun 1928 setelah menyelesaikan masa belajarnya pada Madrasah Al-Falah Mekah. Pada awal-awal berdirinya, MAI Sengkang Wajo hanya merupakan pengajian pesantren yang pelaksanaannya mengambil tempat di rumah kediaman Anregurutta As’ad sendiri. Setelah santrinya bertambah banyak tempat pelaksanaan pengajiannya dipindahkan ke Masjid Jami’ Sengkang.

Selama belajar di Sengkang Daud Ismail merasakan banyak sekali kemajuan khususnya dalam menguasai kunci ilmu-ilmu agama. Misalnya, Ilmu Qawaid, Ilmu Arudh, Ilmu Ushul Fiqhi, Ilmu Mantiq dan lain-lainnya. Hal itu cukup dirasakan oleh Gurutta Daud Ismail karena metode mengajar yang diterapkan oleh Anregurutta H.M. As’ad terbilang sudah lebih maju dari metode yang didapatkan sebelumnya. Sehingga menurut pengakuan Daud Ismail, santri-santrinya cepat menguasai apa yang diajarkan.

Salah satu kesan mendalam Gurutta Daud kepada Anregurutta As`ad, ketika gurunya ini mengajarkan ilmu Arudh yang diajarkan setelah Shalat Isya, hingga larut malam. Bahkan terkadang sampai sekitar jam satu malam. Anehnya, Gurutta Daud Ismail hanya diajarkan ilmu Arudh ini selama satu malam saja. Keesokan harinya beliau langsung diberi kitab untuk dipelajari sendiri.

Inilah salah satu kelebihan dan keunikan Anregurutta As`ad dalam mendidik santri-santrinya. Misalnya, ketika belajar ilmu Arudh ini, Anregurutta As’ad hanya memilih sejumlah santri pilihan untuk diajar satu malam saja memberikan penjelasan kepada santrinya tanpa buku pegangan. Namun keesokan harinya santri-santrinya telah mampu menerapkannya dalam menelaah kitab kuning. Padahal ilmu Arudh termasuk salah satu cabang ilmu yang paling sukar dipelajari di dunia pesantren.

Setelah belajar langsung kepada Anregurutta As`ad di Sengkang, Gurutta Daud Ismail kemudian dipercayakan untuk mengajar pada tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, meskipun beliau tetap belajar kepada Anregurutta As’ad. Kebetulan pada waktu itu, belum ada tingkat Aliyah. Sejak saat itulah, orang-orang mulai memanggilnya Gurutta (panggilan kehormatan setingkat di bawah Anregurutta) Daud Ismail.

Bersama Gurutta Daud Ismail ini pula Anregurutta As’ad membentuk tim pengajar. Sehingga Anregurutta As`ad tidak lagi langsung berhadapan dengan santri-santri baru (yunior). Tapi hanya berhadapan langsung dengan beberapa santri senior. Dari santri senior inilah kemudian mengajarkan kepada santri yang lain sesuai tingkatan masing-masing.

Gurutta Daud Ismail temasuk santri yang paling disayangi oleh Anregurutta As`ad. Hal itu dibuktikan dengan ketatnya pengawasan kepada beliau. Gurutta Daud Ismail tidak diizinkan meninggalkan pesantren, hingga memasuki masa sulit ketika harus meninggalkan Sengkang.

“Laing memetto gurutta Sade` usedding batena mappa`guru”, (Saya merasakan memang agak lain waktu saya belajar pada Gurutta Sade – panggilan akrab bagi Anregurutta Muhammad As`ad - dibanding waktu saya belajar di tempat lain), demikian kenang Gurutta Daud Ismail tentang gurunya ini.

Wasiat Sang Guru
Pada tahun 1942, ketika pecah perang dunia II, merupakan masa sulit yang dialami Gurutta Daud Ismail. Kondisi tersebut membuatnya terpaksa meninggalkan Sengkang untuk kembali ke kampung halamannya di Soppeng. Salah satu cobaan berat Gurutta Daud Ismail yang ketika ini adalah waktu itu adalah berpulangnya istri pertama ke Rahmatullah.

Tak lama kemudian, pada tahun 1942 – 1943 beliau diminta mengajar di Al-Madrasatul Amiriyah Watang soppeng menggantikan Sayyed Masse. Dan waktu itu juga beliau diangkat menjadi Imam Besar (Imam Lompo). Hingga akhirnya beliau memutuskan meninggalkan perguruan tersebut, karena dibatasi gerakannya oleh Nippon dan adanya latihan menjadi tentara Jepang (PETA).

Pada tahun 1942 M. ini pula Gurutta Daud Ismail diangkat sebagai Imam Besar di Lalabata, Kabupaten Soppeng, sambil mengajar pada sebuah madrasah. Beliau juga pernah menjadi guru pribadi bagi keluarga Datu Pattojo, tepatnya pada tahun 1944. Karena diakui sebagai seorang ulama yang berilmu luas dan mendalam, Daud Ismail diangkat sebagai Kadhi (hakim) di Kabupaten Soppeng pada tahun 1947. Jabatan ini beliau sandang hingga tahun 1951. Kemudian antara tahun 1951-1953, beliau menjabat sebagai pegawai di bidang kepenghuluan pada Kantor Departemen Agama Kabupaten Bone. Sejak saat ini Daud Ismail telah mulai biasa disapa sebagai Anregurutta.

Sepeninggal Anregurutta As‘ad (1952 M), Anregurutta Daud Ismail diminta oleh para pemuka masyarakat Wajo dan sesepuh Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) untuk datang ke Sengkang melanjutkan pembinaan madrasah yang ditinggalkan oleh Anregurutta Muhammad As‘ad. Pada tahun 1953 nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) diubah pada tahun 1953 menjadi Madrasah As‘adiyah sebagai penghormatan dan penghargaan kepada Anregurutta M. As‘ad.

Kembali ke Sengkang merupakan wasiat dari Anregurutta As’ad, bahwa Gurutta Daud Ismail harus kembali ke Sengkang untuk memimpin MAI. Maka meskipun dengan resiko harus meninggalkan status pegawai negerinya, Anregurutta tetap memenuhi wasiat gurunya tersebut. Namun. Anregurutta Daud Ismail hanya menetap dan memimpin MAI Sengkang selama 8 tahun. Karena adanya desakan dari Soppeng agar beliau kembali membina madrasah di daerahnya. apalagi waktu itu beliau merasa sudah ada kader-kader ulama yang dapat menggantikan Anregurutta Daud Ismail.

Setelah meninggalkan Sengkang pada tahun 1961, Anregurutta Daud Ismail kembali ke Soppeng. Ia mendirikan sekaligus mengetuai Yayasan Perguruan Islam Beowe (YASRIB) dan membuka Madrasah Muallimin pada tahun 1967. Pada masa ini Anregurutta Daud ismail juga diangkat kembali menjadi Qadhi (untuk kedua kalinya) di Soppeng.

Menulis Kitab
Suku Bugis dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang sangat kental menganut dan melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam. Untuk keperluan itu, mereka sangat bergantung pada apa yang mereka peroleh dari al-Qur‘ân, sehingga tafsir al-Qur‘ân memegang peranan penting dalam kehidupan keagamaannya.

Atas dasar yang demikian, maka Anregurutta Daud Ismail melahirkan sebuah karya tafsir berbahasa Bugis. Upaya ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat Bugis untuk lebih mudah mengakses dan memahaminya. Terutama sekali adalah agar adanya aksara Lontara, yaitu huruf abjad bahasa Bugis, tidak lekas punah.

Tujuan beliau menyusun buku tafsirnya adalah untuk memelihara bahasa Bugis dari kepunahan. Untuk itu, beliau berharap agar karyanya itu ditempatkan di masjid-masjid, sehingga jemaah dapat dengan mudah membacanya. Hal ini merupakan salah satu upaya mempertahankan eksistensi bahasa Bugis.

Anregurutta Daud Ismail berharap agar karyanya itu ditempatkan di masjid-masjid, sehingga jamaah dapat dengan mudah membacanya. Hal ini merupakan salah satu upaya mempertahankan eksistensi bahasa Bugis.

Sejarah eksistensi terjemah dan tafsir Al-Qur’an, di Sulawesi Selatan sendiri sudah cukup panjang. Upaya untuk menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Bugis telah dimulai sejak tahun 1948. Pada waktu itu, sebuah buku tafsir kecil terbit di Sengkang (Kab. Wajo) yang ditulis oleh Anregurutta M. As‘ad (w. 1952 M), guru dari Anregurutta Daud Ismail.

Karya lain yang pernah ditulis Anregurutta Daud Ismail, antara lain Ashshalatu Miftahu Kulli Khaer (bahasa Bugis), Carana Puasae, kitab-kitab ini ditulis dalam bahasa Bugis. Sementara Tafsir dan Tarjamah Al-Qur’an 30 Juz dalam bahasa Bugis merupakan karya tulis terbesarnya.

Anregurutta Daud Ismail memimpin Pondok Pesantren YASRIB sampai menghembuskan napas terakhirnya. Anregurutta Daud Ismail menghadap ke hadirat Allah SWT dalam usia 99 tahun pada Senin 21 Agustus 2006 sekitar pukul 20.00 WITA, setelah sempat dirawat selama tiga pekan, di Rumah Sakit Hikmah, Makassar. Anregurutta Daud Ismail masih menjabat sebagai Kadhi di Kabupaten Soppeng. Selain itu amanah yang masih disandangnya adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Soppeng tahun 1993-2005. Semoga Allah SWT meridhoi perjalanannya dan merahmati masyarakat yang ditinggalkannya. Amin.

Sumber

January 14, 2009

Roti & Segelas Susu


Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa pound uangnya, dan dia sangat lapar.

Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan sebuah roti & segelas besar susu.

Anak lelaki itu memakan roti dan meminum susu itu dengan lambat, karena ia berpikir, berapa yang harus ia bayar untuk segelas besar susu dan roti ini?. Mungkin karena wanita tersebut melihat keheranan anak itu, maka ia pun berkata : "Kamu tidak perlu membayar apapun. Orang tua kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan" kata wanita itu menambahkan".

Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda.

Tiga puluh tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota itu sudah tidak sanggup menganganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.

Dr. Hamdi dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Hamdi. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut.

Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan... Wanita itu sembuh !!. Dr. Hamdi meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.

Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus diangsur seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi..Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu !! tertanda, Dr. Hamdi el Hilaly.

Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.

January 10, 2009

Salah kirim

Sepasang suami isteri setengah baya yang sama-sama dari kalangan profesional merasa penat dengan kesibukan di ibukota. Mereka memutuskan untuk berlibur di sharm syekh. Mereka akan menempati kembali kamar villa yang sama dengan ketika mereka berhoneymoon saat menikah 30 tahun yang lalu.

Karena kesibukannya, sang suami harus terbang lebih dahulu dan isterinya baru menyusul keesokan harinya.

Setelah check in villa di sharm syekh, sang suami mendapati pesawat komputer yang tersambung ke internet telah terpasang di kamarnya. Dengan gembira ia menulis e-mail mesra kepada isterinya di kantornya di Jalan Sibawaih al mashry, cairo.Celakanya, ia salah mengetik alamat e-mail isterinya dan tanpa menyadari kesalahannya ia tetap mengirimkan e-mail tersebut.

********************************

Di tempat lain tepatnya di daerah dokki, seorang wanita baru kembali dari pemakaman suaminya yang baru meninggal. Setiba di

rumah, ia langsung check e-mail untuk membaca ucapan-ucapan belasungkawa. Baru selesai membaca e-mail yang pertama, ia jatuh pingsan. Anak sulungnya yang terkejut kemudian membaca e-mail tersebut, yang bunyinya

To Isteriku tercinta
Subject Aku udah sampai!!!
Date 28 Juli 2008

Aku tahu pasti kamu kaget tapi seneng dapat kabar dariku. Ternyata disini mereka udah pasang internet juga, katanya biar bisa berkirim kabar buat orang-orang tercinta di rumah.

Aku baru sampai dan sudah check-in. Katanya mereka juga sudah mempersiapkan segalanya untuk kedatanganmu besok. Nggak sabar juga deh rasanya nunggu kamu. Semoga perjalanan kamu ke sini juga mengasyikkan seperti perjalananku kemaren.

Love,
Papah

Nb: Disini lagi panas-panasnya. Kalau pada mau, anak-anak diajak aja...

January 04, 2009

Gembel

Hampir jam dua ketika saya memacu roda dua.
Menembus pekatnya malam, di antara mendung menggantung dan lengangnya jalanan.

Tetapi di tugas yg tak membuat saya lelap,
sementara saya sakit-sakitan akhir-akhir ini lantaran tidur yang tak cukup porsi.
ya, saya harus segera pulang.

Dingin malam perih menghantam kulit.
Kota ini seperti mati suri.
Hanya satu dua orang bercumbu dengan angin malam di emperan.
Ada tukang bekiya bermain remi.

Saya undur gigi kemudian ketika melintasi dua sosok.
Seorang perempuan paruh baya tertatih memanggul karung,
ditemani anak kecil mengais sampah dari tong dan selokan.
Gerimis berubah menjadi curah, saya pun memutuskan parkir di tribun pinggiran trotoar.
Perhatian saya tertuju dua sosok itu dengan seksama.

ya Tuhan, ini jam dua malam!
Si tua sah-sah saja mencari nafkah, tapi anak itu layakkah berada di situ?
Dia sekitar tujuh tahun menurut taksiran,
seumuran ponakan saya yang mungkin saat ini sudah nyenyak memeluk boneka dibalik selimut hangat, dibuai mimpi cita-cita yang tinggi.

Ditingkah langkah-langkah lambat mereka mendekat.
Seingat saya di saku jeans ada lima pound kembalian bensin.
Uang sejumlah itu kadang saya remehkan, tak tersisa sekali jajan.
Saya menunggu si kecil bergerak ke samping tong sampah, lalu lembaran itu saya sodorkan.
Si kecil mengernyit, ragu-ragu dia merapat.
Saya membaca gelagat, wajarlah di situasi begini waspada pada orang jahat.
Lama jeda ketika saya yakinkan. Hingga sorot matanya berbinar kemudian.
“Makasih Om!” lirihnya.
Girang, itu sudah pasti dirasakannya. Tapi lebih bergemuruh bahagia di dada saya.

Ibu Muslimah di buku Laskar Pelangi berkata:
“Habiskan sisa hidupmu dengan banyak memberi, bukan banyak menerima.”
ya, kadangkala memang ada kenikmatan tak berperi dalam sebuah pemberian.

Allah ya Rabbi,
kiranya jadikanlah motivasi buat pembaca tulisan ini,
Andaipun riya tak terhindari, biarkan saya tanggung dosa sendiri.

December 20, 2008

Belajar Bahasa Ammiyah

Mempelajari amiyah bagi kita sebagai seorang pelajar di negeri Mesir ini bukanlah suatu kesalahan atau hal yang tidak bermanfaat. Dalam kehidupan sehari-hari yang notabene Mesir abis, kita sebagai mahasiswa al-Azhar dan Universitas Tinggi lainnya, pasti bakal ketinggalan banget kalo kita sama sekali tidak mengerti bahasa gaulnya orang-orang Mesir, dan itu biasa kita panggil dengan sebutan bahasa/lahjah Ammiyah.
Keberadaan bahasa Ammiyah (bahasa gaul) di tiap-tiap masyarakat adalah sebuah keniscayaan, dalam artian setiap negara itu pasti mempunyai bahasa baku negaranya sendiri dan bahasa sehari-hari yang biasa dipakai dalam keseharian masyarakat itu sendiri. Di Negara Mesir ini, sangatlah berbeda antara bahasa Arab fusha dengan bahasa Ammiyah, walaupun sebenarnya jika kita mengetahui asal-usulnya, ia berasal dari bahasa Arab fusha itu sendiri. Ragam bahasa Ammiyah pun berbeda-beda, jika kita banyak bergaul dengan orang-orang Mesir. Maka dari situ, kita akan mengetahui ada perbedaan antara yang satu dengan yang lain, dalam artian dari setiap kota yang berada di Mesir ini, mempunyai bahasa Ammiyah dengan lahjah yang berbeda. Tak bisa dipungkiri bahwa peranan bahasa Ammiyah sangatlah penting bagi kita yang sedang menimba ilmu di negeri para nabi ini.
Bagaimana tidak??? Kehidupan kita sehari-hari dengan orang-orang Mesir, para Dosen di Kampus juga adalah orang-orang Mesir, yang hampir 70% semuanya memakai bahasa Ammiyah yang bener-bener Ammiyah banget. Mungkin dapat saya katakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di bumi gersang ini bahwa, orang-orang Mesir itu bukan sedang ngomong tapi seperti orang yang sedang berkumur-kumur, saking cepetnya mereka bicara dan memang sama sekali tidak dimengerti dan jauh banget dengan bahasa Arab fusha yang pernah kita pelajari sebelumnya.


Kaidah Dasar Bahasa Ammiyah

• Pengucapan Huruf Hija`iyyah yang berbeda dengan bahasa Arab fusha:

ا = Alef-- ط = Toh
ب = Beh-- ظ = Doh
ت = Teh-- ع = 'ein
ث = Teh-- غ = Ghein
ج = Gim-- ف = Feh
ح = Hah-- ق = Qof
خ = Khah-- ك = Kaf
د = Dal-- ل = lam
ذ = Dal-- م = mim
ر = Reh-- ن = nun
ز = Zin-- و = waw
س = Sin-- ه = heh
ش = Syin-- ي = yeh
ص = Sod
ض = Dod


• Pengecualian Pengucapan pada Beberapa Huruf

1. Huruf "ث" selalu diucapkan dengan "ت".
Contoh : اثنين ( it-nên )

2. Orang Mesir melafadzkan huruf "ج" dengan “g”.
Contoh : جميل ( gamîl )

3. Biasanya huruf "ذ" diucapkan dengan "د"
Contoh : (هذه... خذها...) ( دي... خدها ) ( di…Khudha…)

4. Biasanya huruf "ظ" dituturkan dengan huruf "ض"/" د "
Contoh : الظهر ( Ed-duhr )

5. Orang Mesir biasanya menuturkan huruf "ق" dengan "ء"
Contoh : الوقت ( El-Wa'at )

6.Kadang, "ء" dibunyikan" "ى Untuk memudahkan pengucapan.
Contoh : يا رءيس... ( ya Rayyîs…)


• Gramatikal (Nahwu) Bahasa Ammiyah

1. Mengakhiri seluruh kata dengan huruf mati (sukun: __ْ_ ), tanpa memperhatikan kaidah bahasa Arab (al-Nahwu) yang baku.

Contoh : لو سمحت, قوله اني اتصلت ( tolong sampaikan, tadi saya telfon)

Dibaca : Lau samaht, ûluh ennî ettasalt


2. Menambahkan huruf "ب" pada awal الفعل المضارع ( present tense ) yang menunjukkan bahwa peristiwa sedang terjadi.

Contoh : انا باكتب حاجة ( Ana Baktib Haga = Saya Menulis Sesuatu )
انت بتكتب حاجة ( Enta Bitiktib Haga)
انت بتكتبي حاجة ( Enti BitiktibîHaga)
هو بيكتب حاجة ( Huwwa Biyiktib Haga)
هي بتكتب حاجة ( Heyya Bitiktib Haga)
احنا بنكتب حاجة ( Ehna Biniktib Haga)
انتو بتكتبوا حاجة ( Entu Bitiktibû Haga)
هما بيكتبوا حاجة ( Humma Biyiktibû Haga)

3. Menambahkan huruf "ه" pada awal الفعل المضارع yang menunjukkan peristiwa yang akan datang ( future tense ) sebagai huruf pengganti "س" atau "سوف" pada bahasa Arab Fusha, dan awal huruf fi'il mudlari tersebut biasanya dibaca samar.

Contoh : انا هاكتب ( Ana Haktib = saya akan menulis )
انت هتكتب ( Enta Hatiktib )
انت هتكتبي ( Enti Hatiktibî )
هو هيكتب ( Huwwa Hayiktib )
هي هتكتب ( Heyya Hatiktib )
احنا هنكتب ( Ehna Haniktib )
انتو هتكتبوا ( Entu Hatiktibû )
هما هيكتبوا ( Humma Hayiktibû )

4. Menambahkan huruf "شْ" (sukun) pada setiap akhir kata kerja/benda yang didahului dengan huruf . ما "النافية"

Contoh : ما عنديش فلوس ما رحتش إلى أي مكان
( Ma'andisy fulus Ma ruhtusy ila ayyi makân)
( gak punya duit, aku gak pergi ke mana-mana)


Contoh Percakapan dan Kosakata yang penting :

• Kalimat Tanya ( أدوات الاستفهام)

Apa ? = eh? = ايه
Apa Katamu ? = bit-ul eh? = بتقول ايه
Apa ini ? = eh dah? / eh dih? = ايه ده/ايه دي
Dimana ? = fein? = فين
Kemana saja ? = enta fein = انت فين
Kapan ? = emta? = امتي
Kapan anda datang ? = emta hatii-gi? = امتي هتيجي
Bagaimana ? = ezzay? = إزاي
Siapa ? = mîn? = مين
Siapa ini ? = min dah? / min dih? = مين ده/ مين دي
Dari mana ? = min-nein? = منين
Kenapa ? = leih? = ليه
Mengapa anda melakukan itu ? = amalt keda leih? = عملت كده ليه
Untuk siapa ? = li-mien? = لمين
Berapa ? = bi- kem? = بكام
Berapa Lama ? = addi-eih? = اد ايه-,المدة,
Berapa banyak ? = addi-eih? = اد ايه-, الكمية,


• Jam Berapa (الساعة كام )

Jam Berapa? = Essa'ah kam? = الساعة كام
Jam Satu = essa'ah wahda = الساعة واحدة
Jam Dua = essa'ah it-nein = الساعة اتنين
Jam Tiga = essa'ah talaa-ta = الساعة تلاتة
Jam Tiga tepat = essa-'ah talaa-ta bezzabt = الساعة تلاتة بالضبط
Jam tiga seperempat = essa-'ah talaa-ta we rub' = الساعة تلاتة وربع
Jam tiga kurang seperempat = essa-'ah talaa-ta illa rub' = الساعة تلاتة إلاربع
Setengah empat = talaa-ta we nosh = تلاتة ونص
Jam tiga lewat 20menit = talaa-ta we tilit = تلاتة وتلت
Jam tiga kurang 20menit = talaa-ta illa tilit = تلاتة إلا تلت
Jam tiga 10 menit = talaa-ta we asyar da'ayek = تلاتة وعشر دقائق
Lewat = wa/we = و
Kurang = illa = إلا
Berapa jam? = Kam sa'ah? = كم ساعة
Berapa lama? = Addi eih? = أدايه؟
Satu setengah jam = sa'ah we nosh = ساعة ونص
Empat jam = arba'a sa'ah = أربع ساعة
Dua jam = sa'atein = ساعتين
1 menit saja = da-i-ah = دقيقة
1 detik saja/sebentar = saniya wahdah = ثانية وحدة


• Ucapan saat Bertemu (تحيات )

Halo/Hai = ahlan = أهلا
Selamat Datang = ahlan wa sahlan = أهلا وسهلا
Jawaban Terimakasih = ahlan biek = أهلا بيك
Selamat pagi = sabah el-kheir = صباح الخير
Selamat pagi juga = sabah en-nur = صباح النور
Selamat Sore/Malam = mesa el-kheir = مساء الخير
Selamat malam juga = mesa en nur = مساء الن
Apa kabar(laki-laki) = ezzayyak = ازيك
Apa kabar(perempuan) = ezzayyik = ازبك
Bagaimana keadaanmu = amel eh = عامل ايه
Baik, alhamdulillah = kuwayyes, alhamdulillah = كويس الحمدلله
Baik sekali = tamâm = تمام
Selamat tidur = tesbah 'ala kheir = تصبح علي خير
Selamat tidur juga = we enta min ahlu = وانت من اهله
Selamat jalan = ma'assalaama = مع السلامة
Selamat tinggal = Allah yesallemak = الله يسلمك
Salam buat bapa = sallem ala baba = سلم علي بابا
Jawaban salam wat bapa = Allah yesallemak = الله يسلمك


• Ungkapan Terimakasih ( عبارات الشكر )

Terimakasih = Syukran = شكرا
Sama-sam = afwan = عفوا
Terimakasih atas hadiahmu = syokran 'ala hadeyyatak = شكرا علي هديتك
Sama-sama = ha-i-i alf syokr = حقيقي- ألف شكر
Aduh saya jadi malu = messy 'arif a-ul-lak eih = مش عارف أقولك ايه

• Ungkapan Pertolongan ( عبارات الطلب )

Tolong = Lau samaht = لو سمحت
Silahkan = itfaddal = اتفضل
Tolong, tunggu sebentar ya = mumken testanna syuwayya = ممكن تستني شوية
Baik, OK = haa-der = حاضر
Tolong bisa Bantu saya? = Mumken tesa'idni?? = ممكن تساعدني
Dengan senang hati = bikulli sorour = بكل سرور
Bisa geser dikit = Mumken tettakhir syuwayya = ممكن تتخر شوية


• Kalimat Takjub/Heran ( عبارات الإعجاب )

Masya Allah = masyaallah = ماشاء الله
Hebat = raw-'ah(râ-i') / mawhub = روعة (رائع)-موهوب
Luar biasa/pintar = bravo aleik = برافوعليك
Bagus sekali-100% = meyya-meyya = مية مية
Saya kagum padamu = mu'gab bik = معجب بك
Istimewa = mum-taaz = ممتاز


• Kalimat Setuju ( عبارات الموافقة )

Setuju = muwaa-fe' = موافق
Sesuai keinginanmu = zay ma-te-heb = زي ما تحب
Benar juga kamu = ma'ak hak = معك حق
Benar = sah = صح


• Ungkapan Permohonan ( عبارات الاعتذار )

Ma'af (penuh kesopanan) = aa-sif = آسف
Ma'af = ma'alesy = معلش
Maaf atas keterlambatan saya = aa-sif lit ta'khir = آسف للتأخير
Maaf mengganggu/merepotkan = aa-sif lil iz-'aag = آسف للإزعاج
Tidak ada apa-apa = mafish haa-ga = مفيش حاجة
Tidak apa-apa = wala yehemmak = ولا يهمك


• Kalimat Takjub-Sedih عبارات الدهشة ولآلم ) )

Waah…Apa itu ?! = yaaah,..eh-dah = ياه-ايه ده
Ya Ampuun,.. = yanhar Abyadh = يانهار ابيض
Aduuh, sayang deh = yaa khesaa-ra = باخسارة
Aduh kasian = ya einiii = ياعيني
Kasihaan = meskiin = مسكين
Maaf, gad apa-apalah = ma'alesy haddi nafsak = معلش هدي نفسك



• Ungkapan Ragu-Ragu ( عبارات الشك )

Gak masuk akal = messy ma-uul = مش معقول
Gak mungkin = messy mumkin = مش ممكن
Ini bohong = dah kedb = دة كدب
Gak percaya = messy mesadda' = مش مصدق
Mustahil = mustahiel = مستحيل
Kira-kira bukan = ma-zunnesy = ماظنيش
=\



• Percakapan di telepon

Hallo, this is Mr.Noval's home? ألوه, ده بيت الأستاذ نوفل؟
Yes, Who is Speaking? أيوه, مين بيتكلم؟
This is Fuad, May I speak to Mr.Noval ? فؤاد معك, ممكن أكلم الأستاذ نوفل ؟
Please wait a minute sir, I'll get him استني شوية, هاناديه
Hallo, Mr.Noval is speaking here ألو, أنا الأستاذ نوفل
Oh hallo, this is Fuad. How are you Brother? ألو, أنا فؤاد...ازيك؟
Very well, and how are you Fuad? كويس أوي, وانت ازيك يا فؤاد؟
Fine, thanks. Where were you just now? كويس, شكرا كنت فين من شوية؟
In the garden! في الحديقة
What will you do in this evening? هتعمل ايه بالليل؟
I'll go to the market to buy some books عاوز أروح السوق, علشان أشتري شوية كتب
When will you go? هتروح امتي؟
At five o'clock في الساعة خمسة
Right, wait for me please كويس, استناني
I shall go with you هاروح معك
So long (مع السلامة (باي باي



• Perkenalan

What's your name, sir? اسمك ايه؟
My name is Ahmed اسمي احمد
Where are you from? منين؟
I am just coming a far country انا من بلاد بعيدة
Right, what is that country name? طيب, ايه اسمها؟
I came from Indonesia جئت من اندونيسيا
Welcome in Egypt اهلا وسهلا في مصر Welcome اهلا بك
What are you doing here? بتعمل ايه هينا؟
Im studying here أنا بدرس هينا
Where are you studying ? انت بتدرس فين؟
Al-Azhar University جامعة الأزهر
What's your opinion about Egypt? ايه رأيك في مصر؟
Beautifull country,
but now the weather is awfully hot بلد جميل, بس دلوقتي الجو حر أوي
You speak Arabic very well انت بتتكلم عربي كويس أوي
Thanks, but I can speak only a few of it شكرا, بتكلم عربي بس قليل
I am happy to make your acquaintance أنا مبسوط اني اتعرفت عليك
And me too, I am glad to meet you وانا كمان, مبسوط اني شفتك


* Pelajari dengan sebenar-benarnya kaidah Bahasa Arab Fusha, bahasa amiyah hanyalah sebagai pelengkap kita seorang pelajar di Mesir untuk lebih mudah bergerak dalam kehidupan sehari-hari. tidak da salahnya kita mempelajarinya malah banyak lebih mendapatkan manfaatnya, hanya saja jangan sampai melupakan bahasa Arab sesungguhnya bahasa Arab yang fasihah untuk memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah serta kitab-kitab berbahasa Arab yang lainnya. Shukran. moga bermanfaat. jika ada kesalahan kasih tau yaaaaa.... ( saya juga masih belajar dan tetap terus belajar.. )

December 16, 2008

Doa Tawassul

Wahai Pencipta segala yang tercipta,
Wahai Penyembuh segala yang terluka,
Wahai Yang Menyertai segala kumpulan,
Wahai Yang Menyaksikan segala bisikan,
Wahai Yang Dekat dan Tidak berjauhan,
Wahai Yang Menemani semua yang sendirian,
Wahai Penakluk yang Tak Tertaklukkan,
Wahai Yang Mengetahui segala yang gaib,
Wahai Yang Hidup dan Tak Pernah Mati,
Wahai Yang Menghidupkan yang mati,
Tiada Tuhan kecuali Engkau,Mahasuci Engkau,
Aku bermohon kepada-Mu Yang Empunya Pujian,
Wahai Pencipta langit dan bumi,
Wahai Pemilik Kerajaan,
Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.
Aku bermohon agar Engkau sampaikan shalawat kepada Junjungan kami Muhammad beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Berilah jalan keluar dan penyelesaian dalam segala urusan dan dari segala kesempitan.
Berilah rezeki dari tempat yang aku duga dan dari tempat yang tak aku duga.
Amin ya Rabb ya Rabbal 'alamin...

November 16, 2008

Nikah, Versi Anak Kairo

Semalam gua kedatangan 4 orang teman, gi asik2nya ngobrol ttg seorang temen yang balik ke indo tuk married n rencananya ia mau ngajak istrinya tinggal n kuliah di cairo, ehh tiba2 ada temen yang nanya gini :
"Eh, kalo gw nikah tapi dengan kiriman + beasiswa yang cuma Rp **** bisa ga ya?“

Hmmm.....t

Awalnya aq cm mo bilang, klo nikah di cairo jauh lebih murah ketimbang nikah di indo (read: sulawesi makassar...dengerin jg Art2tonic-Melamar/bacobecce ver.2), paling cm ngabisin dana US$ 700-1000 , ini mah dah masuk mahar n biaya pesta. Apalagi klo dapat bantuan dana dari KBRI, pasti lebih ringan lg deh..

Tp pas aq mo coba untuk tidur, ehh tau2 pertanyaan itu masih terngiang2 di telinga aq. akhirnya spy tidur aq bisa nyenyak, aq mutusin buat daftar pengeluaran bulanannya. Dan berikut adalah daftar pengeluaran standar bulanan setelah married. Sekedar berbagi aja, buat temen2 yang mungkin juga mengalami 'Matery after merried phobia syndhrome', salah satu penyakit mirip Aids (Acquiried Immuno Defesience Syndhrome) (read: asal2an mode on, yang jelas ada kata syndhrome nya)


Daftar anggaran bulanan:
(asumsi: disusun berdasarkan skala proritas, disusun dengan sangat2 relatif, dan berdasarkan basic needs standar menengah ke bawah)

1. Makan
Dengan asumsi sekali makan + dah minum syai (teh) adalah Le. 5 , Maka makan 3x sehari, kali 2 orang (karena lagu sepiring berdua cuma berlaku pada saat pacaran ajah), kali 30 hari adalah Le.300 = Rp. 550 ribu/bulan.

Tips: “Rajin2 ke kondangan atau kerumah kawan, dan minta suruh bungkus buat 1 orang. Pasti lebih ngirit!”

2.Kontrakan
Dengan asumsi masih ngontrak di apartemen (read: rumah susun), yang punya uda botak, tapi masih galak, dan punya anjing belum jinak. Maka dana untuk kontrakan sekitar Le.300 = Rp. 550 ribu/bulan.

Tips: “klo dah balik ke indo, tinggallah di Pondok Mertua Indah. Niscaya 2 dana diatas gak bakalan pernah ada. Di pondok mertua indah, anda akan bebas makan apa aja, termasuk 'makan ati'!”

3. Listrik, Air dan Cleaning Service
Dengan asumsi daya listrik 900 watt dan pake jetpam maka anggaran untuk listrik adalah Le.15 = Rp 25 ribu/bulan.

Tips: "Jangan pake AC, cukup AC alias ase pulu' (beras ketan, bugis mode on). Jangan suka main Playstation, cukup main monopoli, jendral atau domino ama istri terasa lebih romantis!”

4. Transportasi
Dengan asumsi naik bis gede' alias 80 copet/coret ke kampus Le.2 (dah termasuk PP), maka 16x sebulan (tiap minggu 4x aja) , kali 2 orang , adalah Le.70 = Rp 125 rb

Tips: “Usahakan jadi anggota "Nebeng Fans Club" (Tradisi anak KKS), dengan alasan mempererat silaturahmi perjalanan berangkat dan pulang dari kampus akan terasa lebih menyenangkan.

5. Komunikasi
Dengan asumsi pake vodafone cm buat sms ortu klo butuh duit bulanan, persms 50 piester , kali 2x sms buat anda & 2x sms buat istri maka untuk sebulan, ongkos komunikasi berdua adalah Le.2 = Rp.5 ribu

Tips: "Pake lah 'FREN' yang lebih murah (maksudnya kalo mau sms tinggal bilang "Freeen...minjam HP nya dong freen...")!”

6. Keperluan sehari2 (Seperti sabun,odol,shampo, dll dsb)
Dengan asumsi tidak pake fesyel, krimbat, menikyur, pedikyur, kukyur2 maka alokasi dana untuk ini sebesar Le.15 = Rp.25 rb/bulan

Tips: “Mandi kalo perlu saja. Kalo dulu 2 kali sehari, jadi 2 hari sekali! untuk mengirit odol”

7. Kesehatan
Seperti minyak kayu putih, vitamin (read: hajar jahannam; Quickie Express mode on), obat pusing (ini penting buat pengantin baru wekekekek!), maka alokasi cadangan untuk kesehatan sebesar Le.25 = Rp. 35 ribu

Tips: “Jaga kesehatan!” Jangan begadang...kalo tiada artinya...begadang bole saja...asalkan sambil ronda (kaukah itu roma?)

Jadii...
Dari asumsi basic needs diatas maka pengeluaran untuk tiap bulan adalah sebesar :

Le.730 = Rp.1.300.000/bulan

(syeeett dah...masih gede juga ya)

Mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan temen2 ketika pengen nikah, untuk kemudian dibandingkan dengan pemasukan yang ada. Kalopun masih 'besar pasak daripada tiang' Anda bisa memperkecil pasak, atau memperbesar tiang...ataauu. ..ga usak pake pasak, tapi dipaku aja!

Tapi ada 1 hal yang ga bisa dijelaskan dengan akunting ketika anda memutuskan untuk menikah (serius mode on*) Yaitu, berkah menikah.

Selalu, Tuhan akan mencukupi kebutuhan umatnya yang mau berusaha dan berdoa.
Selalu bersukur dan percaya bahwa Tuhan lah raja dari segala raja akunting!

so, stop accounting, just do it! :))

....dan daftar di atas, akan menjadi pemicu semangat untuk....

September 14, 2008

Puasa, perspektif awam

Ngapain sih puasa? Nggak makan dari subuh sampai maghrib. hikmahnya apa?

Ada yang bilang biar bisa merasakan sengsaranya orang-orang yang kelaparan. Sehingga bisa menumbuhkan rasa empati kepada mereka yang berkekurangan, menjadi lebih peduli lagi kepada mereka.

Tapi klo kita mau fair, apakah kita sudah menaruh empati ke mereka? jujur aja, selama ini saya berpuasa dari kecil sampe setua ini (iya ngaku deh kalo udah jenggotan), nggak pernah saya mencoba membayangkan diri ini sebagai orang sengsara yang sedang kelaparan. Saya sedang berpuasa itu aja, bukan kelaparan. Kelaparan itu kan berarti nggak punya makanan sama sekali yang bisa untuk dimakan. Padahal jelas saya punya makanan, atau paling tidak punya uang untuk membeli makanan. Apalagi kalau bulan puasa gini mah, makanan2 enak bertaburan dimana-mana. Jadi bagaimana saya bisa membayangkan diriku sebagai orang yang sedang kelaparan. Apalagi kalo menjelang buka puasa gitu, pasti semua orang sudah sibuk sendiri-sendiri mencari makanan yang paling enak.

Haruskah saya bersandiwara membayangkan diri ini sebagai orang miskin yang kurang makan? Agar bisa menghayati kehidupan yang berkekurangan. Tapi kan dalam puasa hanya disyaratkan tidak makan, minum, dan sex, tidak ada tuntutan harus berperilaku seperti orang kekurangan. Bukan itu sepertinya poin yang dicari dari perintah berpuasa.

Agar lebih meningkat imannya kepada Allah. Begitu kata yang lain mengenai tujuan puasa.

Setahuku sih, puasa itu kan ibadah yang pasif. Ibadah yang tidak perlu melakukan aktifitas ibadah secara fisik. Tidak ada ritual nyata yang terlihat sebagaimana shalat, membayar zakat, atau haji. Tidak ada tuntutan untuk memusatkan pikiran agar khusyuk mengingat Allah sebagaimana dalam shalat. Puasa itu tidak melakukan kegiatan fisik, jadi bagaimana bisa meningkatkan iman? Mungkin yang bisa meningkatkan iman adalah kegiatan beribadah lain yang dilakukan selama berpuasa, tapi bukan puasanya secara langsung, menurutku.

Jadi, buat apa dong puasa itu? Latihan lapar doang? Belajar mengendalikan hawa nafsu. Tapi apa artinya menahan hawa nafsu dari subuh sampai maghrib, kalau kemudian begitu buka yang terjadi adalah balas dendam. Apa artinya menahan hawa nafsu kalau begitu menjelang buka, semua orang sibuk mempersiapkan makanan terenak dan kemudian duduk manis dihadapannya menunggu bunyi beduk tiba. Tidak ada artinya dong pelajaran mengendalikan nafsu seharian yang dilakukan sebelumnya.

Memang sih seharusnya tidak seperti itu. Buka puasa semestinya bukanlah ajang balas dendam. Makan sedikit aja waktu buka sebenarnya sudah bisa meredakan nafsu makan yang menggila sebelumnya. Ya nggak?

Secara kasar, memang bisa dibilang puasa itu berlatih lapar. Tapi sebenarnya bukan sekedar lapar. Lebih tepatnya belajar melepaskan diri dari kebiasaan duniawi. Sehari2 jika sudah terbiasa dengan makan 3x sehari, jika jadwal makan siang mundur satu-dua jam saja kita sudah rasanya kelaparan banget, kepikiran makanan terus. Padahal kalo lagi puasa, biasa aja tuh, laper sudah pasti, tapi gak sampai panik teriak2 minta makan. Jadi sebenarnya kuat untuk bertahan tidak makan. Begitu juga dengan nafsu-nafsu yang lain, nafsu sex, nafsu amarah, dan lain sebagainya. Sebenarnya kita mampu untuk menahan dan mengendalikan semua itu, sebagaimana yang terjadi selama puasa, tapi kadang kita manja, malas untuk mengekang diri demi kebaikan sendiri.

Kewajiban puasa sepertinya ingin menunjukkan, bahwa sebenarnya manusia itu bisa lepas dari keterikatan2 duniawi klo mau. Sebenarnya manusia kuat kok tanpa terikat terlalu erat dengan kebutuhan makan, seks, atau nafsu2 lain. Cukuplah semuanya dipenuhi sebatas kebutuhan. Jadi janganlah hal-hal itu terlalu dikejar-kejar untuk dipuaskan semaksimal mungkin.

Dan kemudian anjuran memperbanyak ibadah selama puasa, seolah ingin mengatakan bahwa daripada mengejar-ngejar pemuasan nafsu, lebih baik perbanyaklah ibadah.

September 08, 2008

Terserah....!

Sebaik-baik kawan adalah yang tak hanya mengajakmu tertawa, tapi juga menangis.
kalimat inilah yang sering kita dengar ttg perkawanan.
Tertawalah karena ternyata kita masih di dunia.
Dan menangislah, karena ternyata kita mesti pertanggungjawabkan kelak
objek tertawaan di "dunia lain" (trans tv mode on)

Kalau kau anggap gagasan itu subyektif karena itu pandangan saya, ya silahkan.
Tapi tak ada salahnya ditransfer, kan?

Saya tak katakan saya baik. Tapi saya mengajakmu baik-baik.
Mau ikut atau tidak, itu memang urusanmu.
Saya hanya kawan pejalan kewajiban.

Jadi, sama halnya ketika ada orang yang mengaku mencintaimu merajuk ”bercinta” dengan iming-iming cinta.
Pastikan itu omong kosong.
Jangan pernah tenggelam di air dangkal.
Kalaupun dia jujur, berarti dia bodoh.
Dan kalau kamu menurut, kamu tak lebih pintar dari dia.
Bagaimana mungkin dia mencintaimu sementara dia tega menjerumuskanmu?

Tapi lagi-lagi terserah... (dampak reformasi 98)
Semua ini hanya jika kau benar yakin, bahwa memang ada kehidupan setelah mati.

August 23, 2008

Sambut Ramadhan Nan Suci

Dimalam yang sepi ku menyendiri…
Dalam kesendirian kemerenung diri
Luka hati yang teriris pedih..
Disaat ku mengenang jati diri

Lidahku yang kecil terkatup pilu…
Tatkala kuingat dosa beribu
Dapatkah ku menghapusnya dgn bulan suciMu…
Untuk melangkah lebih maju.

Kutanya hatiku…
Prahara hati yang menggelora.
Karma alunan kasih yang membara….
Membuat jiwa terbelenggu dan lupa.
Ku terbangun dari kekhilafanku yang parah.

Tuhanku…
Dengan merendahkan diri yang hina ini.
Kutanya hatiku dalam prasasti nan jauh…
Hanya ampunanMU yang kuharap.
Jauhkan daku dari segala angkara murkaMu
Berkah RamadhanMu yang kudamba..

August 20, 2008

Buah Kemerdekaan & Seupil Negeri Biadab

Hari ini 63 tahun lalu..
Bung Karno melafal sebuah manifesto di secarik kertas ukuran tak lebih setengah kwarto.
Maka luar biasa jadinya.
Merdekalah kita.
Pekiknya tak henti terngiang sampai detik ketika jari saya beradu huruf terakhir keyboard ini.

Dan..
hari ini setelah 63 tahun itu..
Saya sempatkan diri membaca berita.
Ada sementara orang yang sepertinya lebih layak membunuh waktu dengan berasyik-masyuk merawat partai barunya tuk pemilu mendatang,
merehabilitasi gerakan kiri yang seolah-olah terdzalimi.

Ada juga yang masih disibukkan mereka-reka kepahlawanan Tan Malaka.
Setelah sebelumnya sebagian orang membuang umur menyoal lagu tiga stanza.
Reparasi sejarah, katanya.

Padahal nun jauh di seberang sana
Sejarah buram tertoreh lebih kasat mata,
menggelitik syaraf nurani bagi siapapun yang masih peka.

Adegan bungee jumping yang hanya boleh ditonton pada layar tivi berlabel Dewasa, diperagakan dari lantai 17, durasi 30 menit.
Dia tertolong.
Terbata-bata dia bertutur kemudian dari bibir yang bengkak, ditingkah kerjap mata yang lebam.
Jujur sepertinya, walau sang majikan kukuh menampik tuduhan.

Parsiti, pahlawan yang belum merdeka itu bukan seorang diri yang berbuat demikian.
ada Ceriyati pendahulunya, dengan nasib serupa.

Wasit karate Indonesia Donald Pieter, ga luput dari kebinatangan mereka
Dan mungkin ada beratus -atau beribu- Parsiti, Ceriyati dan Donald kita yang lain, tak kalah nestapanya.

Seupil negeri biadab yang katanya serumpun kita itu,
membalas tuba setelah kita beri susu.
Sebagian dari susu gratis berupa Pulau Sipadan dan Ligitan.
Sepertinya itu tak cukup,
karena sewaktu-waktu mereka masih gemas
pada teritori negri maritim Indonesia
dan berbagai karya seni batik,
lagu rasa sayange dan keris melayu sumatera selatan.

Maka tak berlebihan jikalau Bung Karno pernah bertitah mengganyang malingsia sedemikian..

Maafkan,
saya tak maksud provokatif.
Anggap hanya emosi sesaat tapi proaktif.
Yang meledak di momen merdeka,
dan hal ini kebetulan saja.


Ah, ingin rasanya tanamkan benci pada semua tentang mereka dan negeri itu..
andai di sana tak ada anak gadis Anwar Ibrahim (saya sempat melihat di liputan6.com ketika sang ayah kena musibah ditahan kepolisian sana)

PPJNIA (Paguyuban Penunggu Janda Nurul Izzah Anwar)

August 11, 2008

Ketika Indonesia Terpuruk

Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (di Malaysia "Wanita Tak Senonoh"), angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap bangsa lain. Maka orang Ndeso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN.

Nah karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah Negara normal atau bahkan mengikut Negara maju. Kebayang gak sih, ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar sementara anggaran kesranya 5 milyar, wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli kulkas
- Orang bule mabuk karena kelebihan uang, orang indonesia mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
- Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko dekan tanpa kuliah
- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk tidur
- 63 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa memakai yg terbuka
Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

August 10, 2008

Indonesiaku Gagal


Mencet Toch sambil dengar Ebit G Ade nyanyi

Indonesiaku gagal, yap batalkan 17 agustus 1945, batalkan kemerdekaan. Buat apa kemerdekaan buat apa perjuangan para pahlawan kita jaman dulu, kalo negara jadinya seperti sekarang ini. Betapa hancurnya bangsa ini, jujur aja hanya sedikit yang bisa dibanggakan dari Indonesia. Ucapan kebanggaan yang seringkali kita keluarkan dari mulut kita, itu hanyalah sebuah retorika kosong yang bertujuan untuk memberi motivasi tapi juga membodohi kita dan menghambat kita untuk maju, dan itulah yang terus dikumandangkan oleh pemimpin bangsa ini sambil menutup mata atas penyiksaan TKW Indonesia di luar negri, pemukulan pelatih karate di malaysia, pembajakan aset budaya bangsa dll.

Hadapilah kenyataan yang pahit ini bahwa bangsa ini gagal dari kemerdekaan. Apakah kemerdekaan adalah sebuah pesta perkimpoian yg menghabiskan banyak dana tanpa melihat adanya tangisan korban lumpur lapindo. Upacara dan acara 17 agustus yang tiap kali kita lakukan dan kita gembar gemborkan itu sama sekali sesuatu yang salah, karena seringkali acara kemerdekaan selalu diadakan dengan lomba2 dan pembagian hadiah dan acara2 meriah lainnya seperti pemasangan umbul2 dan gapura dan bendera merah putih tapi faktanya adalah ada ribuan orang yang tidak punya pekerjaan, ada ribuan korban lumpur lapindo yang sampe saat ini nasibnya sangat menyedihkan.

Mungkin saya terlalu ekstrim dalam hal ini tapi inilah fakta yang ada. Mungkin ini adalah sudut yang berbeda dari kebanyakan orang. Pada 17 agustus yang akan datang, yang seharusnya kita lakukan adalah MENANGIS! menangis buat anak2 kita yang sekolah reok, nangis buat anak2 muda indonesia yang katanya penerus bangsa tapi terikat dengan obat2an, nangis buat anak bayi yang tidak bisa ditebus orang tuanya dari rumah sakit karena kekurangan biaya, nangis buat sarjana S1 yang menjadi tukang ojek karena kurangnya lapangan pekerjaan.

Indonesia
Maafkan aku tak bisa menolongmu
Karena engkau terlalu kuat bagiku
Dan aku terlalu lemah bagimu

Jujur saya meneteskan air mata waktu nulis ini karena saya harus menuangkan apa yang selama ini pun berusaha saya tutupi bahwa bangsa saya adalah bangsa yang gagal tetapi harus tetap saya terima karena bagaimanapun indonesia adalah tanah air saya, kamu dan mereka. I really love this nation, thats why i should take this all fuck of this nation condition...menggunakan tulisan sebagai senjata.

July 27, 2008

Maaf

Jika saja maaf hanya formalitas
Cukuplah lafaz memperjelas, lalu sentuhan jadi penuntas.

Takkan hilang karat pada besi
Tak terkelupas remah pada pinggiran roti
Jika tak ada ikhlas pada dasar hati

Maaf, maaf, maaf..
Hanya itu.

Tak mudah memintanya, sebagaimana sulit memberinya.
Tapi sudah kulakukan,
Dan kini semua tergantungmu..

July 22, 2008

Angkuh

Tinggi hati benar,
Benar-benar tampak perangai sebenar..

Semisal berderajat sangat, sehingga saya hanya secuil kau lihat..
Seperti bersahaja, padahal dengan begitu sisi indahmu tertutup mega..
Tampak bodohlah saya, lantaran empati yang berbalas angkuhmu..
Seolah-olah merugilah kiranya saya jika saja tak berkawan denganmu..

Yang layak ditakuti hanya dosa, bukan nista manusia..
Segan pada Tuhan, jika semaikan bibit permusuhan..
Silahkan caci maki dalam hati..
Tapi jangan harap langkah ini terhenti..

Saya bukan peyakin karma,
Namun setidaknya percaya akan niscaya..
Kau tuai apa yang kau tanam,
Tak kau dapat balas gula jika kau beri garam..

Kukuhlah bertahan dengan semua itu..
Karena saya tahu itu ukuran bahagia bagimu.
Tapi saya kira kau juga pasti tahu..
Takkan ada yang abadi di dunia ini, Saudariku..
Pun dengan segala yang kau banggakan pada dirimu..

July 05, 2008

Trio Bomber, Surga atau Neraka?

Trio Bomber, Surga atau Neraka?
Hanya Sebuah Anekdot
Oleh Irwan Masduqi

Tatkala hari hisab tiba, manusia yang tak terhitung jumlahnya rela antri panjang di depan pintu surga dan neraka. Jantung mereka berdebar dan berdetak tak karuan menunggu hasil penghitungan amal. Malaikat yang sedang bertugas memanggil mereka satu persatu sambil menenteng buku catatan amal.

Dengan suara keras, malaikat memanggil nama Imam Abu Hanifah untuk dihisab. Dengan mudah Abu Hanifah lolos masuk surga karena di dunia beliau tak menyia-nyiakan “akal”-nya untuk berijtihad memahami agama Islam secara rasional. Di surga, Abu Hanifah berkumpul dengan Umar bin Khatab. Umar bin Khathab adalah kolega nabi yang sangat rasional yang mensyukuri nikmat akal dengan cara berpikir. Umar bin Khathab senantiasa memahami al-Quran dengan pendekatan kontekstual- hermeneutis.

Giliran kedua adalah Tulkiyem, pelacur Sarkem (Pasar Kembang) Yogyakarta . Tak terduga, Tulkiyem juga masuk surga. Malaikat bilang, “dia masuk surga karena dia melacur tidak hendak melawan agama dan Allah, dia melacur karena melawan nasib hidupnya demi sesuap nasi dan membelikan susu buat anaknya. Yang masuk neraka justru orang-orang kaya, penguasa, dan agamawan yang tak punya kepedulian serta kepekaan sosial. Mereka tak memberi lahan perkerjaan dan pembinaan kepada para pelacur”.

Giliran ketiga adalah si Dul, mahasiswa al-Azhar Cairo . Sungguh mengejutkan, dia masuk neraka. Sayang sekali. Malaikat berkata, “dia masuk neraka karena menipu orang tuanya. Orang tuanya susah payah menguras keringan mengumpulkan uang recehan untuk membiayai si Dul di Cairo. E…e…eeeee si Dul malah malas-malasan tak mau belajar. Dia menipu dan mendurhakai orang tuanya. Dia itu mahasiswa goblok, tak pernah membaca buku, tapi sukanya mencibir dan meremehkan teman-temannya yang mengembangkan kritisisme”.

Amrozi cs sudah tidak sabar menunggu giliran hisab. Sambil pegang-pegang jenggot, mereka kelihatan penuh optimisme bisa masuk surga. Orang-orang di sekitar mereka pun bertanya, “kenapa kalian tak takut menghadapi hisab”?

Amrozi cs menjawab, “siapa takut? kami sudah membawa tiket surga. Kalau kalian ingin beli tiket surga, bergabung saja dengan orang-orang Islam radikal. Mereka jual obralan tiket”.

Dus, giliran keempat adalah Amrozi cs. Hisab berlangsung alot. Saat itu terjadi perdebatan sengit antara Amrozi cs dengan malaikat. Malaikat bilang, “tiket surga kalian tidak ada gunanya alias muspro”. Tapi Amrozi cs memaksa dimasukkan ke surga dengan dalih telah susah payah ikut program “bombing training” guna menghancurkan tempat-tempat maksiat. Abdul Aziz alias Imam Samudra, dengan mata tajamnya, tak sungkan memelototi malaikat sembari teriak kencang Allahu Akbar. Sementara Amrozi dan Ali Gufron alias Mukhlash cengar-cengir bingung tujuh keliling mendengar kata-kata malaikat tadi sambil memutar tasbih.Malaikat bertanya, “kenapa kalian melakukan teror”? Dengan diplomatis Amrozi cs menjawab, “kami ingin mengamalkan hadits amar ma’ruf nahi munkar bil yad. ‘Yad’ artinya adalah kekerasan dengan bom”.

Hahaha, malaikat ketawa terbahak-bahak mendengar jawaban konyol Amrozi cs. Sambil menahan ketawa, malaikat menjawab balik, “yang boleh amar ma’ruf nahi munkar dengan cara merusak fasilitas umum itu hanya pemerintah, kalau warga sipil tak boleh dengan cara itu. Heh dasar kalian sok pahlawan jadi polisi swasta!!!”.

Amrozi cs dengan nada lirih dan agak sedikit grogi bertanya, “masak sih”? Malaikat menjawab sambil senyum, “ya iyalah… masak ya iya dong. Mulan aja namanya diganti Mulan Jamilah, bukan Mulan Jamidong… duren aja dibelah, bukan dibedong”. Malaikat kemudian berargumen, “Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din pernah berkata bahwa umat Islam dalam amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh disertai perusakan harta orang lain. Imam al-Ghazali memberi contoh yang prosedural dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar kepada para peminum khamr dan penjual MIRAS (Minuman Keras). Dalam konteks ini, khomr/MIRAS boleh ditumpahkan (iraqatul khamri), tetapi botolnya tak boleh dipecah, karena botol adalah harta halal milik penjual dan peminum. Dengan demikian, tindakan teror kalian (baca: Amrozi cs) yang destruktif dengan merusak fasilitas umum (harta orang lain) dan juga tindakan brutal FPI tidak dapat dibenarkan karena tidak sesuai prosedur. Tindakan itu justru merusak citra Islam, tahu!!!”.

Amrozi cs tetap ngotot dan ngeyel agar dimasukkan ke surga. Mereka berdalih, “pokoknya kami harus dimasukkan ke surga (yang konon banyak bidadari yang cantik itu), karena kami telah memerangi orang-orang kafir (antek Amerika dan thaghut) di Bali seperti yang diperintahkan Allah yang berbunyi faqtulu al-musyrikina kaffah…faqtulu al-musyrikin haytsu wajadtumuhum/ tsaqiftumuhum ….faqtuluhum hatta latakuna fitnah (bunuhlah semua orang musyrik…di mana pun kalian berjumpa dengan mereka…bunuhlah mereka hingga tak ada fitnah)”. Amrozi cs berargumen bahwa “ayat-ayat itu menurut satu versi dalam tafsir al-Qurthubi menasakh dan mengamandemen ayat-ayat yang turun sebelumnya tentang anjuran mengampuni orang kafir dan jihad defensif terbatas dari agresi musyrikin, sehingga kesimpulan Amrozi cs jihad adalah ofensif”.

Kwakakakaka, malaikat tertawa terbahak-bahak untuk kedua kalinya mendengar jawaban Amrozi cs yang konyol itu. Karena penasaran, malaikat mendatangkan Imam al-Qurthubi untuk dimintai klarifikasi dan keterangan lebih lanjut. Malaikat bertanya, “wahai Imam al-Qurthubi benarkah dalam tafsirmu ada konsep jihad ofensif”? Imam al-Qurthubi menjawab, “dalam tafsir, saya memang mengutarakan dua pendapat; antara ‘versi tekstual pro nasikh-mansukh yang menyimpulkan jihad ofensif’ dan ‘versi kontekstual kontra nasikh-mansukh yang menyimpulkan jihad defensif’”. Coba dech malaikat Anda rujuk dalam Tafsîr saya, al-Jami' Li Ahkamil Qur'an, cetakan Dar al-Sya‘bi, vol. II, h. 71, vol. I, h. 62, vol. XVII, h. 203, & vol. XIX, h. 149, vol. II, h. 347, vol. II, h. 35 & vol. V, h. 281, vol. III, h. 216, vol. II, h. 192 & 353”. “Sial, Amrozi cs berarti memilih jihad ofensif dengan mencari justifikasi dari penafsiran yang tekstual”, keluh malaikat.

Malaikat memperingatkan, “penafsiran tekstual itu reduktif dan rawan menimbulkan stigma bahwa Islam adalah agama pedang, agama bom, dan agama kekerasan, seperti stigma negatif kalangan mainstream Barat. Andaikan nasikh-manskuh kalian terapkan dalam ayat-ayat jihad yang sejatinya turun secara gradual, sama saja kalian menganggap sebagian ayat al-Quran yang turun pada fase-fase awal sebagai ayat impoten dan tak punya fungsi sosial untuk konteks kekinian. Nah, para pemikir Islam yang kritis dan progresif yang berdiri di barisan antrian hanya mangguk-mangguk menyetujui statemen malaikat tadi.

Amrozi cs berapologi, “oke dech, ijtihad kami memang salah, tapi—seperti kata Rasulullah saw—kami tetap berhak mendapatkan pahala satu (man akhtha`a falahu ajrun wahidun). Malaikat menimpali, “kalian memang mendapatkan pahala satu, tapi pahala itu belum mencukupi untuk dijadikan modal masuk surga. Pahala kalian yang satu itu tak seberapa jika dibandingkan dengan dosa kalian akibat membunuh orang-orang Bali dan wisatawan legal yang telah mendapat jaminan keamanan dari negara. Ingat itu wahai teroris yang berjubah!!!. Maukah kalian aku masukkan ke neraka”?

Amrozi cs, yang kali ini diwakili oleh Ali Gufron, mengutarakan keberatan. Dengan lantang ia berkilah, “kami tidak bermaksud membunuh orang tak berdosa, kami hanya ingin memerangi kemungkaran. Selain itu, kami juga sudah dieksekusi sebagai balasan perbuatan kami, meski kami sebenarnya tak rela dengan eksekusi itu”. “Iya, tapi cara amar ma’ruf nahi munkar kalian, seperti saya katakan tadi, tidak prosedural”, tegas malaikat. Malaikat diam sejenak mempertimbangkan matang-matang. Amrozi cs pun menunggu keputusan malaikat sambil pegang-pegang jenggot lagi.

Malaikat meneruskan hisabnya, “tadi kalian bilang bahwa kalian tidak rela dengan eksekusi itu, itu tandanya kalian tidak ikhlas menerima hukum qishash yang sudah disyariatkan Allah. Dengan demikian dosa kalian belum dihapus dan diampuni. Sudahlah kalian aku masukkan ke neraka saja ya”?

Imam Samudra keberatan, “please malaikat, kami sudah dieksekusi, masak mau dihukum lagi dengan diceburkan ke neraka”?. Malaikat geleng-geleng kepala, “kalian memang bandel, sudah aku katakan kalau eksekusi itu belum bisa menghapus dosa kalian, karena kalian tidak ikhlas menerima hukuman itu”. Imam Samudra berkilah lagi, “buktinya apa kalau kami tidak ikhlas”?

Malaikat dengan mudah menemukan bukti di google.com yang memuat wasiat profokatif Amrozi cs bahwa “dalam surat wasiat tersebut, mereka menyerukan agar para pendukung memerangi dan membunuh pihak terkait eksekusi mati, seperti Presiden SBY, Wapres Jusuf Kalla, Menkum HAM Andi Mattalata, Jaksa Agung Hendarman Supandji, Jampidum AH Ritonga, dan Ketum PBNU Hasyim Muzadi”. Malaikat dengan tegas menvonis, “Jadi kalian harus aku masukkan ke neraka dengan dalih berlapis: 1) tindakan teror bom bali; 2) tidak ikhlas menerima hukuman eksekusi; 3) menyebarkan wasiat yang profokatif dan berisi pemberontakan terhadap pemerintah”.

Amrozi cs masih berkilah, “pengeboman dan wasiat itu tidak bermaksud untuk macam-macam, semua itu kami lakukan hanya demi tujuan memerangi maksiat dan jihad”. Malaikat pun menjawab dengan analogis-argumentat if, “oke jika demikian alasan kalian, maka kalian akan aku masukkan ke dalam ‘tong’ kemudian aku tendang ‘tong’ itu agar menggelinding masuk ke jurang neraka. Aku tak bermaksud memasukkan kalian ke neraka, tapi aku hanya bertujuan memasukkan ‘tong’ ke neraka sebagai tambahan bahan bakar neraka”. Amrozi pun akhirnya tak berdaya dan menyesali perbuatannya di dunia.

May 29, 2008

BID’AH

Ada beberapa pendapat tentang Bid’ah,
Yang satu menganggap bahwa
“Semua yang baru adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat”

Sebagian yang lain menganggap bahwa agama dan teknologi itu pisah , kemudian mereka memahami bid’ah seperti ini
“Semua yang baru didalam masalah agama adalah bid’ah dan itu sesat, sedangkan sesuatu yang baru dalam masalah teknologi itu ndak masalah, sebab teknologi itu tidak termasuk ranah agama”.

Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa seluruhnya itu tidak ada yang lepas dari masalah agama, baik itu masalah teknologi.
Mereka menganggap bahwa bid’ah ada 2 macam.
Yaitu bid’ah hasanah (sesuatu yang baru adanya tapi berdampak baik) & bid’ah dhalalah (sesuatu yang baru adanya tapi berdampak buruk).

Tidakkah jaman Nabi belum ada perintah untuk pembukuan Al-Qur’an
Dan baru ada perintah pencatatan saja
Bukankah jaman Nabi belum ada pembagian Fiqhi, Ushuluddin, Aqaid, tasawuf

Benarkah Fiqhi itu sesuatu yang baru (bid’ah)
Lalu apakah bid’ah hasanah ataukah dhalalah

Benarkah Ushuluddin itu istilah yang baru (bid’ah)
Lalu apakah bid’ah hasanah ataukah dhalalah

Benarkah Tasawuf itu istilah yang baru (bid’ah)
Lalu apakah bid’ah hasanah ataukah dhalalah

Ingatkah engkau ketika Nabi melarang pencatatan
Apalagi pembukuan hadits-hadits beliau
Bacalah sejarah-sejarah di jaman Nabi
Abu Bakarpun tak berani menuliskan hadits ataupun membukukannya
Umarpun tak berani menuliskan hadits maupun membukukannya
Usmanpun tak berani menuliskan hadits maupun membukukannya
Alipun tak berani menuliskan hadits maupun membukukannya

Lalu mengapakah sekarang kita tahu
banyak kitab-kitab hadits yang beredar
Bukankah itu bid’ah
Bukankah itu sesuatu yang baru
Bahkan melihat sejarah ,
Bukankah pembukuan hadits-hadits Nabi itu seolah menentang Nabi Muhammad yang melarang pembukuan hadits-hadits

Tetapi, apakah masuk pada bid’ah yang baik (hasanah)
Ataukah bid’ah dholalah
Kalau sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya,
Wajib kita tidak menambahi ataupun menguranginya .

Kalau Al-Qur’an mengatakan “Qul Huwallahu Ahad”,
Mutlak tidak boleh ditambahi maupun dikurangi,
Jikalau ditambahi atau dikurangi,
Itu bid’ah dhalalah, itu bid’ah yang sesat.

Bukankah diajarkan oleh rasulullah untuk berijtihad

Tiap-tiap orang memiliki keyakinan sendiri-sendiri,
Meskipun Islam sebagai agamanya.

Bagaimana seandainya ditanya,
Apakah sabar itu
Bagaimanakah sabar itu
Cara supaya sabar itu bagaimana

Apakah dzikir itu
Bagaimanakah cara dzikir itu
Bagaimana cara supaya kita dzikir kepada Allah
Bukankah perintahnya adalah “Dzikran Katsiran”

Apakah engkau sudah tahu cara bersyahadat
Apakah cukup dibaca syahadat itu
Apakah iman itu
Apakah taqwa

Maka janganlah heran,
Jika banyak sekali pendapat-pendapat akan masalah itu

Maka cukuplah,
“Lana a’maluna wa lakum a’malukum”
“bagi kami apa yang kami lakukan dan bagi kamu apa yang kamu lakukan”.

Saling hormat menghormati diantara sesama pemeluk agama Islam.
Saling berhubungan dengan kasih sayang, silaturrahim.

Tanpa perlu menjelek-jelekkan pendapat lain,
Tanpa perlu menuduh sesat orang berbeda faham,
Tanpa perlu zindiq orang-orang yang berjalan menuju-Nya,
Dan tanpa perlu mengkafir-kafirkan saudara kita yang seagama.

“Qu anfusakum wa ahlikum naran”
“Selamatkanlah dirimu, keluargamu dari api neraka”.

Marilah fastabiqul khaerat !
Mari berlomba-lomba untuk kebaikan dan bukan saling menjatuhkan.

WALLAHU A’LAM BISH SHAWAB

May 07, 2008

Alzheimer

Hampir tiga hari saya tak mandi.
Hal yang sama sekali tak penting untuk dibahas, tapi setidaknya ini sudah lumayan mengkhawatirkan bagi saya. Mungkin tak lama lagi saya bakal mati duduk. Bukan syahid diantara dua sujud, tapi karena candu komputer keparat ini. Berhari-hari berkutat dengan monitor dan keyboard. Buku terjemahan saya sedikit lagi rampung. Satu atau dua hari lah.
Teman yang saya percayakan negoisasi dengan percetakan, sudah deal harga bagus. Jalan saya sepertinya mulus.

Tapi banyak hal yang harus dibarter untuk itu. Termasuk diri sendiri yang tak lagi terurus.
Alhamdulillah, belum sampai tahap amnesia untuk membedakan waktu azan zuhur dan ashar. Juga belum sampai terserang Alzheimer untuk urut-urutan rukun wudhu, walaupun saya sebenarnya mulai takut untuk hal yang satu itu, mengingat saya sering blank untuk urusan menghapal nomer telepon, ataupun kelimpungan mencari di mana tempat saya barusan meletakkan kunci rumah atau handphone.

Entah, sudah berapa hari saya tak frontal dengan cermin. Yang saya rasakan janggut mulai awut-awutan, ketombe berguguran. Tampaknya saya memang harus segera menikah, biar ada yang mengingatkan. Lagian saya juga mulai bisa melupakan bayang-bayangnya, saat terakhir melihatnya di Kick Andy, tempo hari.

Yap, ini momen yang tepat untuk menikah. Sebelum saya benar-benar terserang Alzheimer.
Tapi masalahnya…
calonnya siapa ya?
Oey, ada yang bisa bantu...??