Translate

August 01, 2009

Kapan aku bisa berhenti merokok

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus jannatun na'im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang
yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah...ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya,
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asab rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur ketika melayani parasuami
yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur
ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau
di halte bus, kita ketularan penyakitnya.

Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning
dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab or ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih warnanya,
kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya maulana.
Laa tasyrabud dukhaan, yaa maulana.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfah malii'atun bi mukayyafil hawwa'
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya maulana.

25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.

4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok
kata para pakar.
Patutnya rokok diapakan
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi
belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas
hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar
perbandingan ini.

Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil
yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.

Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan
ada yang mulai terbatuk-batuk.

Jauh sebelum tulisan ini ada,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada
tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk
dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri aku kekuatan tuk mengusir berhala-berhala ini dari kehidupanku
amien...

Menjelang subuh, Kamis 31 July 2009

July 30, 2009

SBY Marah dan JK Dicuekin?

Sebelum pilpres 8 Juli 2009 berlangsung SBY mengatakan bahwa dia dan JK siap bersaing secara kesatria dan sementara itu pemerintahan di bawah SBY dan JK akan tetap dijalankankan dengan sebaik-baiknya sampai akhir masa pemerintahan tsb pada bulan Oktober 2009.

Seperti kita ketahui bersama bahwa sejak awal jalannya pemerintahan SBY-JK pada tahun 2004, ada kesan kalau hubungan antara Presiden dan wakil presiden tsb tidak terlalu harmonis. Ada kesan keduanya seperti bus kota yang saling mendahului dan saat itu juga muncul istilah kalau pemerintahan SBY-JK ini bagaikan matahari kembdanr.

Namun demikian sebagian besar rakyat Indonesia tentu mengakui kalau pemerintahan SBY-JK ini dapat dikatakan cukup sukses, sehingga banyak kalangan yang menyayangkan kenapa pasangan presiden dan wakil presiden ini harus berpisah bahkan bersaing pada pilpres 2009.

Terlepas dari itu semua, ucapan SBY yang diiyakan oleh JK bahwa mereka akan bersaing secara kesatria di pilpres 2009 dan tetap bertekad untuk sama-sama menjalankan pemerintahan sampai bulan Oktober 2009 dengan sebaik-baiknya tentu sangat diharapkan dan ditunggu-tunggu seluruh masyarakat.

BAGAIMANA HUBUNGAN SBY-JK SAAT INI ?

Untuk menjalankan pemerintahan negara dengan sebaik-baiknya sudah tentu komunikasi di antara presiden dan wakil presiden harus harmonis. Keharmonisan hubungan antara presiden dan wakil presiden inilah yang harus ada lebih dulu untuk memungkinkan kerja sama yang sebaik-baiknya di antara keduanya.

Sekarang yang bisa menjadi pertanyaan penting bagi seluruh rakyat adalah, apakah hubungan SBY-JK tetap harmonis, meningkat, ataukah sebaliknya hubungan di antara keduanya semakin memburuk ? Sejauhmana rakyat bisa berharap pemerintahan SBY-JK ini bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya sampai bulan Oktober 2009 seperti yang telah dikatakan SBY?

Sebuah harian ibu kota menayangkan sebuah berita di mana di dalam setiap rapat kabinet akhir-akhir ini, JK tidak pernah diundang atau diikutsertakan. Seperti diberitakan pada hari Kamis, 30/7-2009 yang lalu, SBY mengadakan teleconference dengan para kepala daerah. Rapat tsb dihadiri oleh jajaran menteri, tapi JK tidak ikut karena tidak diundang.

Masih menurut kabar tsb, tidak diundangnya JK di dalam rapat bukan kali yang pertama. Sejak kalah pilpres, JK sering kali tidak diundang atau diikutsertakan dalam rapat kabinet. Selain itu dalam kunjungan kerja, usai pemilihan presiden, JK tidak didampingi perwakilan menteri. Pada hari Rabu, 29/7-2009, ketika JK mengadakan kunjungan kerja ke PLTU Indramayu, PLTU Labuan, Banten dan PLTU Suralaya, JK hanya didampingi para dirjen.

Syukurlah dalam hal ini JK tidak merasa gusar sedikitpun. Kepada wartawan yang mewawancarainya JK mengatakan bahwa dalam kabinet presidensil, SBY bebas untuk mengajak siapa saja menghadiri rapat kabinet. Dalam soal rapat di mana dia tidak diajak, JK hanya mengatakan: “Itu kan rapat terbatas, biasalah. Saya doakan agar negara ini baik-baik saja.”

BISAKAH UCAPAN SBY MENJADI KENYATAAN ?

Jika kita mengingat kembali ucapan SBY yang menyatakan bahwa dia dan JK akan menjalankan pemerintahan R.I. periode tahun 2004-2009 dengan sebaik-baiknya sampai akhir Oktober 2009, maka sudah tentu keharmonisan komunikasi di antara keduanya harus ada.

Masalahnya adalah jika di dalam setiap rapat kabinet menjelang akhir pemerintahan R.I. periode tahun 2004-2009 ini wakil presiden tidak diundang, hal ini sudah tentu akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sbb:

1.Apakah komunikasi antara SBY-JK saat ini semakin memburuk ?

2.Jika komunikasi dan kerja sama SBY-JK itu masih baik, mengapa JK tidak pernah diundang lagi dalam rapat kabinet ?

3.Apakah gugatan JK kepada MK terkait dengan kecurangan pilpres telah membuat SBY ngambek kepada JK dan membuatnya tidak mau mengundang JK dalam rapat kabinet ?

Pertanyaan terakhir yang paling penting adalah: “Bisakah rakyat berharap bahwa ucapan SBY untuk menjalankan pemerintahan ini bersama JK dengan sebaik-baiknya, benar-benar menjadi kenyataan sampai Oktober 2009 ?”

Terlepas dari terjawab atau tidaknya pertanyaan-pertanyaan tsb, mungkin yang terpenting bagi rakyat saat ini adalah berdoa seperti yang JK ucapkan: “Saya doakan agar negara ini baik-baik saja.” Mari kita tambahkan satu doa lagi yang jauh lebih penting: “Semoga pemimpin negara ini selalu mau memperbaiki dirinya.”

Salam dari: Abdi Dharma (Jakarta)

Tanggapan dari siapapun yang “berniat baik dan memiliki tata krama”, akan penulis terima dengan senang hati. Terima kasih.

(NB: Mohon kepada pengelola Kompasiana, agar postingan ini diterbitkan dengan jarak spasi seperti aslinya. Biarkan saja garis pembatasnya tetap ada, agar spasi tidak berubah menjadi terlalu rapat atau terlalu renggang. Terima kasih)

July 25, 2009

Reuni

Para alumni berdatangan dari penjuru negeri
mereka berkumpul di hari yang fitri
untung menyambung silaturrahmi
dan mengenang segala kisah dan memori

Bermacam ragam mereka punya profesi
mulai dari polisi hingga bupati
kerja swasta atau pegawai negeri
moga-moga tak ada yang korupsi

Ada yang membawa istri atau suami
ada juga yang menggendong bayi
tak peduli status sosial dan gengsi
semua bergembira ketawa-ketiwi
menghibur diri sambil bernyanyi
semoga di lain waktu bisa bertemu lagi

July 21, 2009

Karena Aku Mencintaimu, Tuan Presiden

Jangan sangsikan cintaku padamu Tuan Presiden. Pertama, karena engkau adalah sesamaku, wajib bagiku menyayangimu. Selebihnya, karena engkau adalah pemimpinku, sudah sepatutnya aku menghormatimu.

Bagiku Tuan, mencintai tak selamanya harus berlumuran sanjung puji. Ini tak baik buat kesehatan. Engkau bisa limbung karenanya, sedang yang memuji bisa jadi karena punya maksud tersembunyi.

Aku yakin Tuan sepakat denganku, cinta sejati bertunas dari nurani, yang kemudian akan melahirkan kejujuran. Karenanya, kritikan dan pujian adalah setara harganya. Keduanya saling melengkapi sebagai keindahan cinta itu sendiri.

Nah, Tuan…, tulisanku tempo hari yang berjudul “Kepana Kau, Tuan Presiden”, adalah bagian dari cintaku kepadamu. Cinta seorang rakyat kepada pemimpinnya. Seorang rakyat yang berharap besar agar pemimpinnya terhindar dari kesalahan dan tetap menjadi pelindung semua rakyatnya, termasuk rakyat yang menjadi “lawan” politikmu.

Soalnya adalah, kini dan lima tahun mendatang, engkau jualah yang bakal memimpin ini negeri. Dan lima tahun mendatang, pastilah pasti bebanmu kian bertambah oleh berbagai persoalan, mulai dari imbas perekonomian dunia yang kalang kabut, bumi yang kian gerah oleh pemanasan global, hingga bangkitnya kembali para durjana penebar bom.

Persoalan paling hangat yang sedang kita hadapi bersama kini adalah ulah para teroris. Tuan menjadi panglima kami untuk membasmi mereka tanpa sisa. Biarlah segala ihwal yang berurusan dengan keselamatan Tuan dan keluarga, menjadi tanggungjawab para petugas yang telah kami gaji dengan cukup.

Terimakasih kepada teman-teman yang telah menanggapi tulisan saya yang lalu. Hati boleh geram, tapi akal sehat tetap harus kita jaga. Saya mafhum, jika ada yang sangat mencintai Tuan Presiden kita tanpa reserve.

Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, saya juga cinta kepada Tuan Presiden kita. Tapi seperti ditulis penyair Sapardi Joko Damono, cinta saya kepada Tuan Presiden cukuplah cinta yang bersahaja. Cinta saya yang menggebu hanya akan saya persembahkan kepada ibu dan Pemilik Kehidupan.

Akhirnya… dengan ikhlas saya mohon maaf jika tulisan saya tak berkenan di hati Anda. Atas tulisan saya, kepada yang setuju dan yang tak sepakat, sama-sama saya beri hormat. Salam.

July 19, 2009

Ada Apa Denganmu Pak Presiden??

Aku tahu, jika kau murka yang amat sangat Tuan Presiden. Peledakan bom di Jumat pagi itu memang tak ketulungan biadabnya. Ia bukan saja menyebabkan sembilan orang pegat nyawanya dan puluhan lainnya terluka karenanya, tetapi juga membuat negeri ini menjadi tempat yang berbahaya bagi warga sendiri dan tetamu yang hendak melancong.

Tapi soalnya adalah, kenapakah engkau murka sedemikian rupa, sehingga nyaris tanpa kendali.

Sungguh tuan, jika di sampingmu tak ada pendamping orang-orang berpangkat, jika di latarmu tak ada gambaran istana, dan di hadapanmu tak ada podium, aku tak mengira yang sedang berpidato itu adalah seorang presiden, jabatan paling tinggi dan mulia di negeri ini.

Di awal bicara, kau sudah benar… berduka untuk para korban dan mengutuk pemboman itu. Tapi di tengah-tengah wicaramu, mendadak kau bagai banteng terluka, sehingga terkesan meninggalkan nalar sebagai seorang presiden yang bijak bestari.

Kau seruduk saingan-saingan politikmu dengan syak wasangka yang menurutmu kau dapatkan dari para petugas intelijen. Mulai dari ancaman pembunuhan terhadapmu, penjegalan saat pelantikan presiden di bulan Oktober nanti, hingga pendudukan KPU.

Sungguh, aku jatuh iba padamu. Kenapakah mendadak justru kau yang patut dikasihani, dan bukan para korban dan rakyat Indonesia yang ketiban sial gara-gara ulah para durjana penebar bom itu. Lebih-lebih, ketika tersiar kabar, dari modusnya dan bukti2 awal, yang patut diduga melakukan pemboman adalah jamaah islamiah.

Tuan, jika benar foto-foto dan video yang kau gelar di hadapan wartawan engkau dapatkan dari intelijen, kenapakah tak serta merta engkau tangkap?

Jika benar engkau mendapat ancaman-ancaman, kenapa juga tidak engkau tanyai satu persatu mereka yang engkau dakwa itu, layaknya seorang gentleman?

Ah Tuan, aku benar-benar bingung atas semua ini. Karenanya, maaf, jika kuberanikan diri untuk bertanya kepadamu, “Ada Apa Denganmu Pak Presiden??”

July 16, 2009

Susu dibalas tuba

Seorang bocah yang sangat ingin melanjutkan sekolah,tetapi orang tuanya tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahnya. Lagipula ibunya yang sedang sakit membutuhkan biaya untuk membeli obat. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada Tuhan :

Kepada Yth
Tuhan
di Surga

Tuhan yang baik, saya mau melanjutkan sekolah, tapi orang tua saya tidak punya uang. Ibu saya juga sedang sakit, mau beli obat. Tuhan saya butuh uang Le.20 utk beli obat ibu, Le.20 untuk membayar uang sekolah, Le.10 untuk membayar uang seragam, dan uang buku Le.10 Jadi semuanya Le.60*

Terima kasih Tuhan, saya tunggu kiriman uangnya.

Dari: sa'ad

Sa'ad pun pergi ke kantor pos untuk mengirim suratnya. Membaca tujuan surat tersebut, petugas kantor pos merasa iba melihat sa'ad, sehingga tidak tega untuk mengembalikan suratnya. Bingung mau di kemanakan surat itu, akhirnya petugas pos itu menyerahkannya ke pengurus takmir masjid terdekat.

Membaca isi surat itu, ketua takmir merasa iba dan tergerak hatinya utk menceritakan hal tsb kepada beberapa pengurus. Walhasil, para pengurus masjidpun mengumpulkan dana utk diberikan ke sa'ad, tetapi dana yang terkumpul Hanya Le. 55.

Ketua takmir pun memasukan uang yang terkumpul ke dalam amplop, menuliskan keterangan: “Dari Tuhan di Surga” dan menyerahkan ke salah satu pengurus lain utk di kembalikan ke sa'ad .

Menerima uang tsb, sa'ad merasa sangat senang permintaannya terkabul, walaupun yang diterima hanya Le. 55. sa'ad pun bergegas mengambil kertas dan pensil, dan mulai menulis surat lagi.

“TUHAN LAIN KALI KALO MAU KIRIM UANG, JANGAN LEWAT PENGURUS MASJID, KARENA KALO LEWAT POLISI DI POTONG Le. 5.

Pengurus masjid: GUBRAKKKK…

Istilah Anak Makassar

1. matemija!
matemija! kalo diartikan harfiah agak susah karena bisa berarti macem-macem.. tapi kurang lebih sebenarnya adalah ungkapan kaget, terperanjat, teringat sesuatu, atau bisa juga sebagai ungkapan sopan tapi nyindir...
kalo matemija saja lebih ke ekspresi kaget.
contoh:
matemija! bagaimana tawwa kejadiannya? = kaget
matemija! bisa na di'? = terperanjat
matemija! lupaka jempu'ki anu... = lupa terus teringat sesuatu
matemija! datangmi bos ka. nasessa ngaseng maki seng! = sopan tapi nyindir...
matemija! = diamput! matek aku! halah!

2. nagigimakie
ini ungkapan lucu yang mungkin berasal dari maen gigit-gigitan antar teman di jaman dulu tapi artinya sekarang telah berubah lebih ke arah sindiran tapi buat lucu2an antar teman yang lebih jago ato lebih dari dirinya.....
contoh: tawwa, jagona mamo komputer......nagigimakie!

3. apaji!
ini kurang lebih artinya apa dong! (inget ya, pake tanda seru jadi bukan kata tanya). tapi seperti ungkapan makassar laennya, bisa juga dipake dalam kondisi macem2..., misalnya dipake sebagai ungkapan kekecawaan karena berharap sesuatu tapi nda jadi.
contoh:
apaji! lama sekali ko kutunggu!
apaji! ko bilang mo bawakankan ka' cendol....
aaapaji! (diucapkan agak panjang 'a' nya) sa kira tommi ko mo kasika...ko janjika' kemarin, ces...

4. ndataukdeh!
gak taulah! emang gw pikirin! (diungkapkan dengan mimik cuek dan agak cemberut karena merasa terganggu ato dengan tampang sok bloon males menjelaskan...)

5. maju gondronk!
dulu, jaman 80-90an banyak orang gondrong (bukan cuman mahasiswa saja) dan anggapan orang kalo gondrong berarti rewa/berani ki jadi muncul istilah majuko gondrong! (...mungkin piti' piti' ja, tolo'...)
biasanya juga istilah ini dipakai untuk memprovokasi orang yang lagi berkelahi ato demo karena dia sendiri nda berani maju ke depan...

6. apa be' itu ?
apa bede' itu? sudah jelas...

7. sallangku di'.....
sallangku = salam ; sallangku di' = nitip salam saya!
'punna nuciniki agangku, kana mami sallangku di' = kalo ketemu ma temenku, titip salam ya...

8. janlaloko kocci'2ka dari belakang......, jatu wibawayya....
artine: plis deh, jangan towel2 gw dari belakang, 'ntar jatuh dong wibawa gw!

9. piyu! piyuuuuu........!
ini ndada artinya. cuma cara manggil teman, sapaan kalo lagi lewat depan rumah teman ato gebetan/odo'2 (belum jadi pacar)

kalo piyu-piyu...! biasanya diteriakkan kalo lagi ada cewe' manis lewat... anak lorong mode : on

10. ewako!
berasal dari kata rewako! artinya beranilah! idiom khas makassar untuk keberanian. idiom khas PSM juga kalo kagi bertanding. pokoke, idiom khas orang makassar lah......

10.tenamo!
ungkapan penolakan or kekecewaan yang desperate, halah! maksudnya gini, tenamo bisa berarti tidak...nggak lah! ato janganlah..., bisa juga berarti gak jadi, gak bisa diharapkan, yah...gak jadi deh! ato semacam itu.
"riolo ji ntu, ndi'! kamma-kamma anne, teeenamo!"
artinya: itu mah dulu dek, kalo sekarang sih, gak deh!

11. bagaya begitu ko, cowot/cewet!
artine: sok begitu, cowok/cewek!

12. sori, nah !!!
(umumnya cewe' yang bilang ini dengan nada tersinggung. lha, kenapa mesti minta maap?...)
nah yang ini mah lebih tepat kalo bu lisa ato tante heroine yang jelasin.........

13. apayya seng?
apa lagi? soal apa lagi? ada apa lagi?

14. aih, tena kabajikang!
ah, gak ada baeknya! gak pernah beruntung dah!

15. hancurko, lame-lame!
ini istilah kalo lagi kongkow2 sama ana2 entah di kampus, lorong ato di dekker2....
hancurko, lame-lame adalah sebutan untuk teman yang dicalla', dipermalukan sama cewe' yang lagi diodo' ato korban penderita dari calla'an di kelompok itu...

16. kammanjo cikali!
begitu, ces! begitu, sodara! cikali dalam bahasa makassar artinya sodara dekat or sepupu, kurang lebih sama kalo dibugis disebut cappo' or sappo'.

17. kasi' ma, rong!
berikan ke saya dululah! kasi' ma dulu...

18. apaka antumae or sapaka antumae
apakekdah or siapa kek dah....

19. oee.......sappeda......!
istilah ini terkenal jaman dulu, entah siapa yang mulai. paling mungkin berasal dari obrolan tukangbecak yang memang banyak melahirkan istilah2 lucu di makassar
ada juga yang bilang (temen gw yang sok filosofis..) we, sappeda.....adalah sindiran bagi orang miskin yang gak punya apa2 dan merupakan pasangan dari istilah, we...pajero.....! entah benar ato tidak...)

20. piko berak! pigi berak!
satu lagi istilah lucu dari makassar . arti harfiahnya sebenarnya: pergi bab (buang air besar) tapi senarnya menjadi idiom sindiran bagi seseorang untuk menyudutkan orang lain yang terlalu banyak ngomong, sok pinter or lagi males aja bicara ma orang itu... ato ungkapan lucu ketika membicarakan sesuatu yang tidak mungkin ato cuma mimpi, biasanya ditutup dengan kata2 ini..... pigi berak!

21. issengko deh!
22. apa nukana?
23. apa kobilang? kobilang saya cakep/cantik?
24. cakep...cakep....cakkeppo' (bugis mode : on)
25. tardes! istilah laen dari tampo' a.k.a sesumbar/sombong (tantara desa...)
26. tampo' na ini bela!
27. jammoko tauki!
28. balle'-balle' tolo!
29. empoi ma, bollo! (jadul banget....wakaka...ndatauka artina..)
30. assauna dottoro'....(terkenal sekali dulu inie terutama kalo sudah makan coto...)
31. bajiki! ; panjanna: bajiki bawata', bajiki, gang! baji'bajiki, bos!
32. mantap mantong, kabbulampek! (halah! antek mi seng )
33. gambannu cowot! (gambang = tampo' = tardes)
34. tea ja! (ini bukan pesan teh na..)
35. cincimbanca' ; panjanna: aku mencincimbanca' padamu.... (istilah lainna lope-lope....)

================

Kumpulan Singkatan Anak Makassar

Jagung Bakar : Jalan Gunung Bawakaraeng
Alor : anak-anak lorong
Anak Menteng : Anak Jalan Mentimun Tengah Di sekitar Pasar Terong
Anak Belanda : Anak Belakang Daya
Anak SWIS : Anak Sekitar Wilayah Sudiang
Kawasan Salemba : Samping Lembaga di jl.gunung sari
AMCO : Anak Maccini cinta Orkes
Lotto : Lompo tinggi tolo-tolo
Panbers : Panampu Bersatu
Anak Bali : anak Barukang lima
Hitachi : Hitam tapi cina
Adidas : Anak didikan daeng sangkala
Kansas : Kami Anak Nakal Suatu Saat Akan Sadar
Jarum Super : Jarang Di Rumah Suka Pergi
Bimoli : bibir monyong lima (senti)

Cinta dan Perkawinan

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, Apa itu cinta Bagaimana saya bisa menemukannya? Gurunya menjawab, Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta.

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting? Plato menjawab, Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik).

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi,baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya. Gurunya kemudian menjawab Jadi ya itulah cinta.


Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, Apa itu perkawinan Bagaimana saya bisa menemukannya? Gurunya pun menjawab Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan.

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?
Plato pun menjawab, sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya. Gurunyapun kemudian menjawab, Dan ya itulah perkawinan.

NB :
”Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.”

July 09, 2009

Jauh

Tak perlu lagi berhubungan dengannya
dia sudah dipinang seorang pria
harga diri harus dijaga
jangan biarkan dirimu dipandang sebelah mata

Duniamu dan dunianya sudah berbeda
tak perlu lagi bicara cinta
sudah berakhir segala cerita
tak perlu dikenang kisah lama

June 28, 2009

Ada yang janggal dari sebuah demokrasi kita


Seiring akan dilaksanakannya pesta demokrasi pilpres, hasil quickcount, stasiun televisi lokal yang di beri label tv pemilu, berbagai tv shows politik tiada henti, social media berbasis politik, berbagai berita politik yang kian deras mengalir, saya menemukan diri saya tertegun dengan berbagai pertanyaan:

Kenapa sih banyak orang mengagungkan demokrasi?

Bahkan setahu saya, salah satu alasan Bush menyerang irak adalah for the sake of democracy: demi menegakkan demokrasi. Lalu ada lagi satu hal yang menimbukan pertanyaan di kepala saya: para pengamat politik yang dengan bangganya menyatakan fakta bahwa negeri kita adalah negeri demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Sebentar dulu.

Sebenarnya, what’s the point of democracy? Apa sih yang menjadikan konsep para filosof ini sedemikian agungnya, bahkan menjadi justifikasi seorang pemimpin menginvasi bangsa lain? Satu konsep yang sedemikian diagung-agungkan dan di elu-elukan seperti ini:

kita, bangsa yang berdemokrasi

kita sedang berada di dalam tahap pendewasaan demokrasi

pendemokrasian indonesia

Penting untuk diketahui, saya bukanlah aktifis kiri, kanan, golongan hitam, putih, atau apapun itu. Saya hanya seorang warga negara yang kritis dan mencoba mengkritisi sesuatu di sekitar saya, dalam proses pendewasaan saya.

Yang menjadi pertanyaan saya sebenarnya cukup sederhana: Apa sih esensi dari demokrasi? Kekuasaan berada di tangan rakyat? Itu makna etimologisnya. Yang saya lihat, demokrasi hanya satu konsep yang aplikasnya adalah pemilihan umum. Voting. Satu hal yang membuat saya agak resah: pemimpin dipilih bukan berdasarkan kemampuan yang sebenarnya, namun dipilih berdasarkan kemampuannya meraih simpati publik. Dominasi mayoritas atas minoritas.

Saya jadi teringat salah satu status facebook seorang teman yang saya baca beberapa hari yang lalu. kurang lebih isinya begini:

"Dalam demokrasi, 1 suara cendikia yang memahami kapasitas calon pemimpin = 1 suara rakyat yang sudah “tertipu” oleh iklan sebuah media".

Pertanyaan retorisnya, mana yang lebih banyak: cendikiawan yang paham kapasitas calon pemimpinnya atau rakyat yang sudah terpengaruh oleh iklan media dan survei bayaran?

Ini yang membuat saya merasa ada yang janggal dengan demokrasi.

June 14, 2009

Wanita oh wanita



Wanita emang susah…
jika dikatakan cantik maka dikira ngegombal,
jika dibilang jelek maka disangka menghina,

jika dikatakan ia perhiasan terindah didunia ia bangga,
jika, apapun "perhiasan yg berharga" itu layak ditutupi dan
disembunyikan ia setuju… (supaya terjaga)
tapi bila disuruh menutup "perhiasannya/kecantikannya" maka dia enggan,
bila dilecehkan ia menyalahkan sepenuhnya pria.

jika dikatakan siapa yg paling dibanggakan olehnya, kebanyakan bilang "ibunya",
tapi kenapa ya, lebih bangga jadi wanita karier (padahal ibunya "ibu rumah tangga")

bila diluruskan supaya bener memerah mukanya, marah, sambil bilang "sok bener lo!"
bila diingetin tetep memerah mukanya, marah juga rupanya, sambil bilang "sok tau lo!"
bila dimanja dan disanjung? eh, tetep memerah mukanya, kali ini tersipu malu, sambil bilang "ah, masa?"

inginnya dibilang emansipasi, tapi kegerahan dibilang "macho",
seringnya ributin kesetaraan gender, tapi menolak untuk benerin genteng rumah!,
sambil bilang, "masa disamakan sama cowok!?"

bila dibilang lemah dia protes,
jika pacarnya tidak mau ngantar dia bilang keterlaluan,
maunya diperlakukan sama dg pria,
tapi kesel nggak dikasih tempat duduk di bis
(dan bilang "egois amat nih cowok?")
bila dikatakan kuat itu maunya,
tapi bila sedikit bersedih ia cepet
menangis,

Wanita oh wanita.... :-?
masa bodo ah
gimanapun wanita adalah wanita…
dan wanita bukan perempuan atau cewek semata,
tapi bagaimanapun juga aku suka wanita! [swear]
Yang tidak merasa berarti tidak protes. Dan yang merasa pasti introspeksi diri. Hayoo, silahkan milih!!

May 26, 2009

Cinta Sederhana

Saya menyayangimu dengan sederhana..
Kapasitas rasa yang alakadarnya..
Bukan sebagai Adam pada Hawa..
Juga bukan Rama pada Shinta..
Apalagi Luis Fernando pada Maria..

Terima saja, jangan kau risau karenanya..
Saya melakukannya karena saya nyaman saat ini saja..
Peduli setan dengan apa dan siapa..
Perkara nanti itu soal masa..
Biarkan pendulum waktu bergerak pada porosnya..

Tak usah kau tanya mengapa..
Saya juga bingung dengan semuanya..
Karena rasa ini tiba-tiba adanya..
Seperti Archimedes berteriak Eureka!
Seperti Colombus menemukan Amerika..

Kau tahu siapa saya..
Dan saya tau ada dia..
Jadi tak perlu kita membuat garis segitiga.
Pastikan saja ini bukan lagi cinta yang menyala-nyala..
Sebab saya juga tak mau direpotkan dengan urusan asmara.

May 24, 2009

Doa Patah Hati

Oh Tuhan, seandainya telah Kau catatkan
Dia milikku, tercipta untuk diriku
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan

Ya Allah, ku mohon
Apa yang telah Kau takdirkan
Ku harap dia adalah yang terbaik buatku
Kerana Engkau tahu segala isi hatiku
Pelihara daku dari kemurkaanMu

Ya Tuhanku, yang Maha Pemurah
Beri kekuatan jua harapan
Membina diri yang lesu tak bermaya
Semaikan setulus kasih di jiwa

Ku pasrah kepadaMu
Kurniakanlah aku
Pasangan yang beriman
Bisa menemani aku
Supaya ku dan dia
Dapat berlayar bahtera
Ke muara cinta yang Engkau ridhai

Ya Tuhanku, yang Maha Pengasih
Hanya Engkau pemeliharaku
Dengarkan rintihan hambaMu ini
Jangan Engkau biarkan ku sendiri

Agarku ku bisa bahagia
Gantikanlah yang hilang
Tumbuhkan yang telah patah
Ku inginkan bahagia
Di dunia dan akhirat
PadaMu Tuhan ku mohon segala

May 03, 2009

Kala Terpuruk

Kala hidup terpuruk
malu bertemu segala makhluk
tak ada kerja pikiran suntuk
hilang percaya diri kepala tertunduk
semua menjauh tak sudi menjenguk
serasa diri ini makhluk terkutuk

April 23, 2009

Ustadz & Pendeta

SYAHDAN, HIDUPLAH dengan rukun dua orang yang bertetangga; seorang pendeta dan seorang ustadz. Walau mereka berbeda agama tapi dalam keseharian selama puluhan tahun Pak Pendeta dan Pak Ustadz senantiasa saling membantu. Tak pernah mereka bertengkar. Satu sama lain tolong-menolong. Keduanya pun dijadikan teladan oleh warga sekitar.

Pendeta : Pak Ustadz, saya mau melakukan pelayanan ke daerah pedalaman. Bolehkah saya meminjam mobil bapak?

Ustad : Tentu boleh, Pak Pendeta. Pakai saja, dengan senang hati kok.

Lalu si Pendeta pun melakukan perjalanan tugasnya dengan mengendarai mobil milik Ustadz.

Sepulang dari pelayanan, kondisi mobil yang dipinjam itu sangat kotor dan penuh lumpur. Pendeta lalu membersihkannya, dan diguyur dengan air.

Dari teras rumahnya, Ustad melihat Pendeta yang sedang mencuci mobilnya dengan siraman air dari ember. “Wah, gawat, mobilku dibaptis,” pikir Ustadz.

Pendeta : Pak Ustadz, terima kasih atas peminjaman mobilnya. Semoga Tuhan memberkati bapak sekeluarga.

Ustadz : Sama-sama, Pak Pendeta. Kalau suatu saat nanti Bapak perlu lagi, jangan sungkan-sungkan.

Pendeta : Baiklah,

Pak Ustadz : terima kasih.

Setelah Pendeta berlalu, Ustadz segera mengambil gergaji dari gudangnya. Lalu dengan cekatan tangannya memotong knalpot mobilnya itu. Pikirnya, mobil itu sudah disunat dan diislamkan kembali setelah tadi sempat dibaptis oleh Pendeta.


April 20, 2009

Duhai matahariku,

Pagi sampai sore ku slalu bersamamu
Hanya aku dan kamu selalu
Tak pernah ada jemunya aku bertemu
Selalu dan selalu
Ah, mata yang bersinar indah itu
Begitu sayangnya aku padamu
Hanya Jum'atlah kita tak bertemu
Sampai akhirnya ku lepas rindu di Sabtu
Selalu dan selalu bersamamu selama seminggu
Duhai Mata Matahariku
Banyak sekali cerita indah dan lucu bersamamu
Tersirat pula memory yang pilu
Saat ku duduk bersamamu
Sampai sekarang ku mengadu di pangkuanmu
Bercerita tentang kehidupanku
Sampai tak terasa ku akan segera meninggalkanmu
Duhai Mata Matahariku
Terbesit selalu senyum manismu
Kau telah melahirkan banyak sekali Sang Pemuja Ilmu
Duhai Mata Matahariku
Ku kan slalu merindukanmu
Karena engkau lah yang selalu setia menemaniku
Karena engkau lah aku tau
Karena engkau lah terang jalan hidupku
Indah sekali ku pandang dirimu
Tinggi menjulang kokoh sarat dengan ilmu
Duhai indahnya lirikan Mata mu
Duhai indahnya sinar Matahari mu
Selalu dan selalu
Ingat kebersamaan akan dirimu
Dengan guru-guru besarku
Dengan teman-teman tercintaku

teruntuk yang ku cinta, Al Azhar University.

April 16, 2009

Not me, Boss

Ini cerita dari seorang teman yang bertahun silam pergi ke Papua New Guinea untuk urusan bisnis. Ia ditemani oleh dua orang temannya dan tinggal di sebuah rumah di pedalaman. Rumah ini dirawat oleh seorang lokal, yang tugasnya hanya dua yakni merawat rumah dan memasak. Semuanya oke-oke saja, kecuali satu hal mereka punya satu botol anggur yang mahal yang disimpan di ruang makan, yang setiap harinya sepertinya terus berkurang padahal mereka tidak pernah meminumnya. Anggur ini mahal dan mereka ingin menyimpannya untuk acara spesial. Yang mereka temukan adalah setiap hari jumlahnya sedikit demi sedikit berkurang.

Mereka pun memutuskan untuk mengukur kekurangannya dengan membuat garis kecil pada botol, sehingga apabila memang berkurang lagi mereka bisa tahu dengan jelas. Dan setelah membuat garis tersebu! t, mereka menemukan memang jumlah anggur dalam botol tersebut berkurang terus setiap hari, walau sedikit demi sedikit. Mereka tidak punya tertuduh lain lagi selain sang penunggu rumah lugu tersebut, sebab ketiganya memang jarang di rumah.

Suatu kali ketiganya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan mereka merencanakan memberi pelajaran si penunggu rumah. Mereka mengambil botol anggur dan mengganti isinya dengan air seni mereka. Setelah itu mereka letakan kembali seperti biasa. Dan yang mereka temukan, setiap hari jumlah air seni ini pun berkurang seperti halnya anggur.

Suatu hari mereka tidak tega lagi membayangkan bahwa si penunggu rumah yang baik hati ini sampai meneguk air seni mereka. Mereka memutuskan untuk memanggil si penunggu rumah dan menanyakan perihal anggur. Dan dengan gaya yang tidak menuduh langsung, mereka mengatakan bahwa mereka perhatikan persediaan anggur mereka di satu-satunya botol di rumah itu selalu menipis, dan pasti ada seorang di rumah ini yang meminumnya!

Serta merta si penunggu rumah polos ini menyahut Not me, Boss! Selama ini saya hanya selalu pakai untuk keperluan memasak untuk para Boss!

Moral kisah

Kalau bisa bertanya, kenapa berasumsi
Kalau bisa sederhana, kenapa dibuat rumit
Kadang kita justru mendapatkan dampak langsung dari perbuatan kita sendiri, yang sebenarnya tidak perlu.

April 11, 2009

Uang Seribu dan Seratus Ribu

Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda. Uang seratus ribu berkata pada uang seribu

“Ya, ampiiiuunnnn………. darimana saja kamu, kawan Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget Kumal, kotor, lecet dan….. bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan…. Ada dapa denganmu??” (tanya Uang Seratus Ribu)

Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa.Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata : “Ya, beginilah nasibku, kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan taik ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk. Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas…….

Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin. lalu berkata : ”Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm… dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan…… aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu.”

Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya ”Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman. Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!”

“Apa itu?” uang seratus ribu penasaran.

Kata uang seribu : “Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di mesjid. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana…

Nb: Pesan moral cerita ini silahkan petik sendiri!

March 26, 2009

AGH. ABDURRAHMAN AMBO DALLE

Mengayuh Sepeda 70 KM Demi Dakwah

Gurutta Ambo Dalle dilahirkan dari keluarga bangsawan yang masih kental, sekitar tahun 1900 M, di Desa Ujung Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, sekitar 7 km sebelah utara Sengkang. Ayahnya bernama Andi Ngati Daeng Patobo dan ibunya bernama Andi Candara Dewi.

Kedua orang tua beliau memberi nama Ambo Dalle yang berarti bapak yang memiliki banyak rezeki. Diharapkan anak itu kelak hidup dengan limpahan rezeki yang cukup. Adapun nama Abd. Rahman diberikan oleh seorang ulama bernama K.H. Muhammad Ishak, pada saat usia beliau 7 tahun dan sudah dapat menghapal Al Qur’an.

Sebagai anak tunggal dari pasangan bangsawan Wajo, Gurutta tidak dibiarkan menjadi bocah yang manja. Sejak dini beliau telah ditempa dengan jiwa kemandirian dan kedisiplinan, khususnya dalam masalah agama. Bersekolah di Volk School (Sekolah Rakyat) pada pagi hari dan belajar mengaji pada sore dan malam harinya. Dalam dunia permainan anak-anak, Ambo dale adalah seorang penggiraing bola handal sehingga digelari “Si Rusa.”

Selama Belajar, Ambo Dalle tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu Alquran seperti tajwid, qiraat tujuh, nahwu sharaf, tafsir, dan fikih saja.. melainkan juga mengikuti kursus bahasa Belanda di HIS dan pernah pula belajar di Sekolah Guru yang diselenggarakan Syarikat Islam (SI) di Makassar.

Pada masa kecilnya, Ambo Dalle mempelajari ilmu agama dengan metode sorogan (sistem duduk bersila); guru membacakan kitab, murid mendengar dan menyimak pembicaraan guru. Pada tahun 1928, ketika H. Muhammad As’ad bin Abdul Rasyid Al-Bugisy, seorang ulama Bugis Wajo yang lahir dan menetap di Mekkah pulang kembali ke negeri leluhurnya, Ambo dale segera berangkat ke Sengkang untuk menimba ilmu dari guru besar tersebut.

Peluang untuk menuntut ilmu semakin terbuka tatkala telah banyak ulama asal Wajo yang kembali dari Mekkah. Di antaranya Sayid Ali Al Ahdal, Haji Syamsuddin, Haji Ambo Omme, yang bermaksud membuka pengajian di negeri sendiri, seperti tafsir, fikhi, dan nahwu sharaf. Sementara itu, pemerintah Kerajaan Wajo (Arung Matoa) bersama Arung Ennengnge (Arung Lili), sangat senang menerima tamu ulama. Karena itu, lingkungan kerajaan tempat beliau dibesarkan sering kedatangan ulama dari Mekkah. Diantara ulama itu adalah Syekh Muhammad Al-Jawad, Sayid Abdullah Dahlan dan Sayid Hasan Al-Yamani (Kakek Dr. Zaki Yamani, mantan menteri perminyakan Arab Saudi).

Keberuntungan dalam Belajar
Suatu ketika, AGH. Muhammad As’ad yang biasa disapa oleh masyarakat Bugis dengan Anregurutta Puang Aji Sade, menguji secara lisan murid-muridnya, termasuk Ambo Dalle. Ternyata jawaban Ambo Dalle dianggap yang paling tepat dan sahih. Maka, sejak saat itu ia diangkat menjadi asisten. Sehingga pada tahun 1935, beliau berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan menetap beberapa bulan di sana untuk memperdalam ilmu agama pada para syeikh di Mekkah.

Sejak Gurutta diangkat menjadi asisten AGH. Muhammad As’ad, beliau mulai meniti karier mengajar dan secara intens menekuni dunia pendidikan ini. Pada saat yang sama, Arung Matowa Wajo beserta Arung Lili sepakat menyarankan kepada Anregurutta H. Muhammad As’ad agar pengajian sistem sorogan (duduk bersila) ditingkatkan menjadi madrasah. Saran tersebut diterima dengan terbuka, maka madrasah pun didirikan atas bantuan dan fasilitas pemerintah kerajaan. Maka dibukalah pendidikan awaliyah (setingkat taman kanak-kanak), ibtidaiyah (SD) dan tsanawiyah (SMP). Perguruan itu diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah disingkat MAI Sengkang, yang lambangnya diciptakan oleh Ambo Dalle dengan persetujuan AGH. As’ad dan ulama lainnya. Ambo Dalle bahkan kemudian diserahi tugas memimpin lembaga itu. Dalam waktu singkat, popularitas MAI Sengkang dengan sistem pendidikannya yang modern (sistem madrasah), menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.

Salah seorang yang tertarik dengan sistem pendidikan MAI Sengkang adalah H.M.Yusuf Andi Dagong, Kepala Swapraja Soppeng Riaja yang berkedudukan di Mangkoso. Maka ketika H.M.Yusuf Andi Dagong ini diangkat sebagai Arung Soppeng Riaja pada tahun 1932, ia pun lalu mendirikan mesjid di Mangkoso sebagai ibukota kerajaan. Namun, mesjid itu selalu sepi dari aktivitas ibadah akibat rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap agama yang dianutnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, atas saran para tokoh masyarakat dan pemuka agama, diputuskan untuk membuka lembaga pendidikan (angngajiang: pesantren) dengan mengirim utusan untuk menemui Anregurutta H.M.As’ad di Sengkang. Utusan itu membawa permohonan kiranya Anregurutta H.M. As’ad mengizinkan muridnya, yaitu Gurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle untuk memimpin lembaga pendidikan yang akan dibuka di Mangkoso.

Ketika itu, di Sulawesi Selatan sudah ada beberapa tempat yang merupakan pusat pendidikan Islam dan banyak melahirkan ulama. Tempat-tempat tersebut adalah Pulau Salemo di Pangkep, Campalagian di Polmas, dan di Sengkang Wajo. Namun, bila dibandingkan dengan Salemo dan Campalagian yang menerapkan sistem tradisional berupa pengajian halakah (mangaji tudang), MAI Sengkang memiliki kelebihan karena telah menerapkan sistem modern (madrasi/klasikal) di samping tetap mempertahankan pengajian halakah. Dan, itulah agaknya menarik minat pemerintah Swapraja Soppeng Riaja untuk membuka lembaga pendidikan dengan sistem yang sama dengan MAI Sengkang.

Awalnya, permohonan itu ditolak karena Anregurutta HM.As’ad tidak menghendaki ada cabang madrasahnya. Beliau kuatir keberadaan madrasah yang terpencar menyulitkan kontrol sehingga dapat mempengaruhi kualitas madrasahnya. Namun, setelah melalui negosiasi yang alot, akhirnya keputusan untuk menerima permohonan Arung dan masyarakat Soppeng Riaja itu diserahkan kepada Gurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle.

Hari Rabu, tanggal 29 Syawal 1357 H atau 21 Desember 1938 Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle beserta keluarga dan beberapa santri yang mengikuti dari Wajo hijrah ke Mangkoso dengan satu tujuan, melanjutkan cita-cita dan pengabdian. Hari itu juga Gurutta memulai pengajian dengan sistem halakah karena calon santri memang sudah lama menunggu. Kelak momen ini dianggap bersejarah karena menjadi cikal bakal kelahiran DDI. Sambutan pemerintah dan masyarakat setempat sangat besar, terbukti dengan disediakannya segala fasilitas yang dibutuhkan, seperti rumah untuk Gurutta dan keluarganya serta santri yang datang dari luar Mangkoso.

Setelah berlangsung tiga minggu, Gurutta kemudian membuka madrasah dengan tingkatan tahdiriyah, ibtidaiyah, iddadiyah, dan tsanawiyah. Fasilitas pendidikan yang diperlukan serta biaya hidup mereka beserta guru-gurunya ditanggung oleh Raja sebagai penguasa setempat. Di dalam mengelola pesantren dan madrasah, Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle dibantu oleh dua belas santri senior yang beberapa diantaranya ikut bersama beliau dari Sengkang. Mereka adalah : Gurutta M. Amberi Said, Gurutta H. Harun Rasyid Sengkang, Gurutta Abd. Rasyid Lapasu, Gurutta Abd. Rasyid Ajakkang, Gurutta Burhanuddin, Gurutta M. Makki Barru, Gurutta H. Hannan Mandalle, Gurutta Muhammad Yattang Sengkang, Gurutta M. Qasim Pancana, Gurutta Ismail Kutai, Gurutta Abd. Kadir Balusu, dan Gurutta Muhammadiyah. Menyusul kemudian Gurutta M. Akib Siangka, Gurutta Abd.Rahman Mattammeng, dan Gurutta M. Amin Nashir. Lembaga itu diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso, namun bukan cabang dari MAI Sengkang.

Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle, berbekal pengalaman mengajar yang ada, diberi amanah untuk memimpin MAI Mangkoso. Berkat dukungan dan simpati dari pemerintah dan masyarakat Mangkoso, pertumbuhan dan perkembangan madrasah ini sangat pesat, terbukti dengan banyak permintaan dari luar daerah untuk membuka cabang. Anregurutta merespon permintaan itu, maka dibukalah cabang MAI Mangkoso di berbagai daerah.

Zaman Jepang
Namun, masalah mulai mengintai ketika Jepang masuk dan menancapkan kuku-kuku imperialis di bumi Sulawesi Selatan. Proses belajar dan mengajar di madrasah ini mulai menghadapi kesulitan karena pemerintah Jepang tidak mengizinkan pengajaran seperti yang dilakukan di madrasah. Untuk mengatasi masalah ini, Guruta Ambo Dalle tidak kehilangan siasat. Beliau mengambil inisiatif agar pelajaran yang sebelumnya dilakukan di dalam kelas, dipindahkan ke masjid dan rumah-rumah guru. Kaca daun pintu dan jendela masjid dicat hitam agar pada malam hari cahaya lampu tidak tembus ke luar. Setiap kelas dibagi dan diserahkan kepada seorang guru secara berkelompok dan mengambil tempat di mana saja asal dianggap aman dan bisa menampung semua anggota kelompok. Sewaktu-waktu pada malam hari dilarang menggunakan lampu. Ajaib, dengan cara itu justru mengundang peminat yang kian bertambah dan luput dari pengawasan Jepang. Malah, ada beberapa petinggi Jepang yang telah mengenal Gurutta Ambo Dalle secara dekat dan bahkan ada yang menaruh hormat yang sangat dalam sehingga menganggap Gurutta sebagai guru dan orang tuanya. Demikianlah kharisma Gurutta Ambo Dalle menembus sekat bangsa, suku, golongan dan strata dalam masyarakat sehingga beliau bisa merengkuh hati massa pendukungnya.

Dunia Gurutta adalah lautan ilmu dan pengabdian yang tak habis-habisnya. Masyarakat akan selalu terkesan bagaimana Sang Anregurutta selama bertahun-tahun mengayuh sepeda dari Mangkoso ke Pare-Pare yang berjarak 30 km dan menjadi 70 km pulang pergi. Perjalanan panjang dan melelahkan itu dilakoninya tanpa mengeluh, karena beliau juga menjalankan tugas sebagai Kadhi di Pare-Pare. Bagi orang lain, hal itu mejadi sesuatu yang sangat menguras tenaga. Namun, bagi Gurutta Ambo Dalle, jiwanya telah terbungkus dengan jiwa pengabdian dan kecintaan agama yang kukuh sehingga semua dijalani dengan ikhlas dan ridha.

Mulanya, setelah beberapa tahun memimpin MAI Mangkoso, beliau dihadapkan pada kondisi bangsa Indonesia yang sedang dalam masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Di mana-mana gema perjuangan bergelora di seluruh pelosok tanah air. Gurutta Ambo Dalle terpanggil untuk membenahi sistem pendidikan yang menurutnya nyaris terbengkalai. Dia sadar selain bertempur melawan penjajah dengan senjata, berperang melawan kebodohan pun sama pentingnya. Sebab, kebodohanlah salah satu yang menyebabkan Indonesia terbelenggu dirantai kolonialisme selama berabad-abad.

Kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 ternyata tidak serta merta mendatangkan ketentraman dan kedamaian bagi rakyat. Ancaman datang lagi dari Belanda melalui agresi Sekutu/NICA. Rakyat dari berbagai pelosok bangkit mengadakan perlawanan. Terjadilah peristiwa yang dalam sejarah dikenal sebagai Peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan. Tentara NICA di bawah komando Kapten Westerling mengadakan pembunuhan dan pembantaian terhadap rakyat yang dituduh sebagai ekstrimis.

Peristiwa tersebut membawa dampak bagi kegiatan MAI Mangkoso. Banyak santri-santri yang ditugaskan oleh Anregurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle untuk mengajar di cabang-cabang MAI di berbagai daerah, menjadi korban keganasan Westerling. Diantara yang menemui syahid itu tercatat nama M. Saleh Bone dan Sofyan Toli-Toli, dua santri MAI Mangkoso yang ditugaskan mengajar di Baruga Majene, gugur ketika menjalankan tugasnya.

Namun, situasi itu tidak menyurutkan semangat Anregurutta H Abdurrahman Ambo Dalle untuk mengembangkan MAI. Bahkan, dalam situasi seperti itu bersama beberapa ulama lepasan MAI Sengkang, diantaranya AG.H.Daud Ismail dan AG.H.M.Abduh Pabbajah, AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle melakukan pertemuan alim ulama/kadhi se Sulawesi Selatan di Watang Soppeng. Pertemuan itu diadakan pada hari Rabu tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H / 5 Februari dan berakhir pada hari Jumat tanggal 16 Rabiul Awal 1366 H / 7 Februari 1947. Pertemuan itu menyepakati membentuk organisasi yang diberi nama Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI), yang bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle dipilih sebagai ketua dan AG.H.M.Abduh Pabbajah sebagai sekretaris organisasi itu. Setelah pertemuan tersebut, MAI Mangkoso beserta seluruh cabang-cabangnya berubah nama menjadi DDI. Mangkoso pun ditetapkan sebagai pusat organisasi.

Pasca proklamasi kemerdekaan gairah rakyat untuk mengejar segala ketertinggalan utamanya dalam bidang pendidikan bagai tak terbendung. Hal ini membuat pimpinan pusat DDI sangat kewalahan melayani permintaan untuk mengirimkan guru-guru untuk cabang-cabang DDI yang baru. Maka, suatu kebijaksanaan segera diambil oleh ketua umum melalui suatu keputusan rapat adalah dengan menugaskan siswa-siswa kelas tertinggi untuk mengajar di madrasah-madrasah yang tersebar di mana-mana. Mereka diwajibkan mengabdi selaku pendidik dalam jangka waktu tertentu. Setelah selesai, barulah mereka dipanggil kembali untuk meneruskan pelajarannya. Prakarsa ini ternyata bermanfaat ganda. Kesulitan tenaga pengajar dapat ditanggulangi tanpa memerlukan biaya besar. Sedangkan bagi para siswa, kegiatan tersebut berguna sebagai wahana mempraktikkan ilmu yang telah mereka dapatkan di madrasah. Selanjutnya, bila mereka berada di tengah masyarakat, tidak canggung lagi dalam melanjutkan pengabdiannya.

Hijrah Ke Pare-pare
Tahun 1950, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle yang berusia 50 tahun itu akhirnya pindah ke Parepare meninggalkan Mangkoso yang sarat kenangan yang semakin meneguhkan sosok Gurutta dalam kiprah menegakkan agama Islam lewat media pendidikan. Beliau membangun rumah dan menetap di Ujung Baru bersama keluarganya dan pada tahun itu pula pusat Darud Da’wah Wal Irsyad diboyomg ke Parepare, dengan menempati sebuah gedung yang cukup representatif di sebelah selatan Masjid Raya. Gedung tersebut adalah pemberian Arung Mallusetasi. Tak berapa lama kemudian, dibangun perguruan di Jalan Andi Sinta Ujung Baru Parepare (depan Masjid Al Irsyad, bersebelahan dengan rumah kediaman Gurutta). Setelah itu, Gurutta pindah ke Ujung Lare (Lereng Gunung) yang diperuntukkan bagi santri putra. Sedangkan untuk santri putri, tetap di Ujung Baru. Sementara DDI di Mangkoso tetap berjalan seperti biasa dan dikelola oleh pemimpin yang baru, yakni KH. Muhammad Amberi Said.

Secara geografis kota Parepare amat strategis untuk menjadi pusat kegiatan organisasi dan pendidikan. Terletak di tepi pantai, kota itu memiliki pelabuhan alam yang sarat dilabuhi kapal-kapal berbagai ukuran, baik dari dalam negeri maupun dari manca negara. Kondisi ini menunjang perkembangan DDI dalam kiprah pengabdiannya. Untuk itu, manajemen organisasi DDI disempurnakan sesuai dengan kebutuhan. Muktamar sebagai institusi tertinggi organisasi ditetapkan dua tahun sekali. Badan-badan otonom didirikan, antara lain : Fityanud Da’wah wal Irsyad (FIDI), bergerak di bidang kepanduan dan kepemudaan, Fatayat Darud Da’wah wal Irsyad (FADI), untuk kaum putri dan pemudi, Ummahatud Da’wah wal Irsyad (Ummmahat), bagi para Ibu. Dibentuk pula dewan perguruan yang mengatur pengelolaan madrasah dan sekolah, termasuk pengangkatan guru-guru dan penyusunan kurikulum. Sistem pendidikan disesuaikan dengan kemajuan zaman.

Dalam kesibukannya memimpin organisasi dan perguruan itu, AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle tidak melalaikan kewajibannya sebagai warga negara yang taat. Ia bersama KH. Fakih Usman dari Departemen Agama Pusat dipercayakan oleh pemerintah RI membenahi dan merealisasi pembentukan Departemen Agama Propinsi Sulawesi. Tugas itu dapat dilaksanakan dengan baik berkat ketekunan dan kesabarannya. Sebagai Kepala Depag yang pertama, diangkat KH.Syukri Gazali, sedangkan beliau sendiri diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Parepare pada tahun 1954, menggantikan KH. Zainuddin Daeng Mabunga yang dialihtugaskan ke Makassar.

Diculik Kahar Muzakkar
Perjalanan hidup terus bergulir dengan segala dinamika yang mengiringinya. Hingga pada suatu hari, tepatnya tanggal 18 juli 1955, mobil yang dikemudikan oleh Abdullah Giling, sopir (sebelumnya adalah pembonceng) merangkap sekretaris Gurutta, dicegat sekelompok orang bersenjata lengkap di Desa Belang-Belang Kab. Maros. Awalnya, Abdulllah Giling mengira pasukan tersebut adalah tentara yang sedang latihan perang-perangan. Ketika mobil berhenti, anggota pasukan bersenjata itu membuka topi bajanya dan berhamburanlah rambut panjang melampaui punggung pemiliknya, ciri khas pasukan pemberontak. Yakinlah mereka kalau sedang dihadang oleh gerombolan separatis DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Waktu itu DI/TII memang banyak mengajak kaum ulama untuk dibawa masuk ke hutan dan dijadikan penasehat Kahar Muzakkar. Yang menolak akan diambil secara paksa (diculik) seperti yang terjadi pada Gurutta KH. Abd. Rahman Mattammeng. Pasukan gerombolan tersebut tidak memberikan kesempatan Gurutta Ambo Dalle untuk berbicara dan langsung dinaikkan ke atas usungan. Gurutta lalu dibawa masuk ke hutan yang menjadi basis perjuangan mereka untuk bergabung dengan anak buah Kahar Muzakkar. Niat pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia itu untuk menculik Gurutta Ambo Dalle memang sudah lama. Ketika Gurutta dihadapkan kepada Kahar Muzakkar, tokoh pemberontak ini tampak gembira, “Alhamdulillah, Pak Kiai sudah di tengah-tengah kita, Insya Allah dengan doa Pak Kiai, perjuangan kita akan mencapai kemenangan,” kata Kahar Muzakkar.

Di dalam hutan, dengan pengawalan yang cukup ketat dari para gerilyawan, Gurutta sama sekali tidak punya peluang untuk keluar dari hutan dan kembali ke kota. Maka, terbersitlah pikiran Gurutta agar lebih baik melanjutkan misi pendidikan Islam seperti yang ia cita-citakan sejak kecil. Pengajian dilakukan pada anggota DI/TII dan keluarganya di hutan. Gurutta Ambo Dalle dengan faham Ahlusunnah Wal Jamaah tampaknya mendapat benturan dengan sebagian anggota Kahar Muzakkar yang menganut faham Wahabi dan sebagiannya lagi tidak menghiraukan mazhab. Maka tidak mengherankan jika sering terjadi konflik antara beliau dengan Kahar Muzakkar dan pengikut setianya.

Selama delapan tahun Gurutta berada di hutan di tengah kancah perjuangan idealisme kaum gerilyawan DI/TII, selama itu pula Kahar Muzakkar tidak pernah jauh dari Gurutta. Kemana ia pergi Gurutta selalu diikutkan. Kalau ada pasukan yang terluka kena tembakan dari serangan TNI, Gurutta mengobati hanya dengan air putih yang ia doakan, berangsur-angsur luka itu sembuh dan sang prajurit itu berguru dan menjadi murid Gurutta.

Pada tahun 1963, Operasi Kilat yang dilancarkan oleh pemerintah (TNI) semakin menekan kaum pemberontak itu sehingga kekuatan mereka kian lemah dan terpecah-pecah. Gurutta pun tidak pernah lagi mendapatkan pengawalan seperti sebelumnya. Hal itu digunakan oleh Gurutta untuk mencari kontak dengan TNI dan berusaha keluar dari hutan. Beliau dijemput oleh TNI dipimpin A. Patonangi yang memang sudah lama mencarinya dan langsung dibawa menghadap Panglima Kodam XIV Hasanuddin- waktu itu Kolonel M.Yusuf. Pertemuan itu sangat mengharukan dan suasana hening pun terjadi dalam ruangan, layaknya pertemuan seorang anak dengan orang tuanya yang sudah lama memendam rindu, baru berjumpa setelah berpisah sekian lama. Sungguh banyak hal yang bisa dipetik dari pengalaman selama di hutan, namun yang pasti Gurutta lebih menuai kebijaksanaan dan kearifan dalam menilai semua itu.

Kiprahnya dalam Perjuangan
Keteguhan sikap Anregurutta tak lekang di setiap peristiwa dan pergolakan yang beliau lalui dalam perjalanan hidupnya. Ketika terjadi pemberontakan G-30 S/PKI, Gurutta Ambo Dalle yang ketika itu berdomisili di Parepare, tak bergeming dan tetap kukuh dengan prinsip dan keyakinannya. Pada waktu itu Anregurutta berpesan pada santrinya agar tetap berpegang teguh pada akidah Islam yang benar, jangan terpengaruh dengan gejolak yang terjadi dalam masyarakat.

Secara fisik, Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle tidak pernah secara langsung memanggul senjata melawan penjajah. Namun, kediamannya tak pernah sepi dari para pejuang yang minta didoakan keselamatannya. Misalnya, ketika Lasykar Pemuda Pejuang Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) di bawah pimpinan Andi Mattalatta hendak melakukan ekspedisi ke Jawa pada tahun 1946, mereka menemui Anregurutta untuk didoakan keselamatannya dalam memperjuangakan bangsa dan negara. Demikian juga saat mereka kembali dari Jawa dan hendak melakukan Konferensi Kelasykaran di Paccekke pada tanggal 20 Januari 1947 atas mandat Jenderal Sudirman. Kebetulan, letak Mangkoso bersebelahan dengan Paccekke, tempat berlangsungnya konferensi yang melahirkan Divisi TRI Sulawesi Selatan/Tenggara sebagai cikal bakal Kodam XIV Hasanuddin (sekarang Kodam VII Wirabuana).

Hijrah Ke Kaballangan Pinrang
Pada tahun 1977, pemilu kedua berlangsung selama zaman orde baru. Pada waktu itu, kondisi politik Indonesia terasa sangat panas. Baranyanya pun bergulir sampai ke kampus DDI Ujung Lare Parepare. Berkaitan dengan peristiwa pemilu ini, Gurutta berada dalam kondisi yang cukup dilematis. Keadaan memaksa beliau untuk memilih. Atas dasar demi menyelamatkan organisasi dari tekanan pemerintah yang cukup refresif, akhirnya AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle menyatakan diri bergabung dengan Golongan Karya (Golkar), partai politik yang berkuasa saat itu. Itupun setelah melalui perenungan dan kontemplasi yang matang dan didahului dengan shalat istikharah, untuk memohon petunjuk Illahi Rabbi agar dapat menentukan dan memilih jalan yang terbaik. Gurutta KH. Ambo Dalle memilih ikut bersama dengan pemerintah membangun bangsa dan negara daripada harus berseberangan jalan.

Meskipun pilihan politik itu bersifat pribadi, tidak membawa DDI sebagai lembaga, tapi tampaknya sikap ini tidak menghembuskan angin segar dalam internal warga DDI? Diantara tokoh DDI dan murid-muridnya banyak yang tidak setuju dengan sikap yang diambil Gurutta. Sikap itu dianggap sudah keluar dari garis perjuangan DDI. Hal itu berdampak pada keterpecahan sikap dari para santri tempat beliau memimpin. Peristiwa ini memberi dampak serius terhadap mekanisme pendidikan di Pesantren DDI Ujung Lare dan Ujung Baru Parepare yang dipimpin langsung oleh Gurutta. Kedua kampus itu nyaris kosong ditinggalkan oleh santri-santri yang tidak bisa menerima sikap politik Gurutta. Akhirnya para santriwati yang tadinya tinggal di Ujung Baru ditarik ke Ujung Lare untuk bergabung dengan santri putra yang masih bertahan.

Peristiwa tersebut membuat Gurutta sangat kecewa sehingga hampir saja membuatnya hijrah ke Kalimantan Timur. Ketika itu, pemerintah daerah dan masyarakat di sana menunggunya. Issu ini sempat tercium oleh Bupati Pinrang (Andi Patonangi). Beliau lalu menawarkan kepada Gurutta sebuah kawasan di daerahnya untuk dijadikan pesantren. Tahun 1978, akhirnya Gurutta hijrah lagi ke Pinrang, tepatnya di desa Kaballangan. Itulah awal berdirinya Pesantren Kaballangan Kabupaten Pinrang yang dipimpin langsung oleh beliau. Sedangkan pesantren di Parepare diserahkan kepada KH. Abubakar Zaenal.

Namun, satu hal yang perlu dicatat bahwa kedekatan Gurutta dengan Golkar dan pemerintah orde baru, selain telah menorehkan pengalaman pahit bagi DDI, harus diakui pula telah mendatangkan kebaikan bagi DDI. Tidak ada lembaga pendidikan dan organisasi Islam, khususnya di Sulawesi Selatan, yang demikian diperhatikan oleh pemerintah melebihi perhatian terhadap DDI. Pembangunan Pondok Pesantren DDI Kaballangan, misalnya, tidak lepas dari perhatian dan bantuan pemerintah. Pesantren putra yang dipimpin langsung oleh Gurutta itu tidak pernah sepi dari kunjungan pejabat, sipil dan militer, baik dari provinsi maupun pusat. Tentu saja, kunjungan itu membawa sumbangan untuk pesantren. Meskipun begitu, hubungan baiknya dengan pemerintah tidak pernah digunakan untuk kepentingan pribadi. Juga kedekatan itu tidak mengorbankan kharismanya sebagai ulama anutan yang disegani.

Kitab-kitab Karya Gurutta
Sebagai ulama, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle banyak mengurai masalah-masalah kesufian di dalam karya-karya tulisnya. Tapi, tidak sebatas saja, melainkan hampir semua cabang-cabang ilmu agama beliau kupas dengan tuntas, seperti akidah, syariah, akhlak, balaghah, mantik, dan lain-lain. Kesemua itu tercermin lewat karangan-karangannya yang berjumlah 25 judul buku. Kitab Al-Qaulus Shadiq fi Ma’rifatil Khalaqi, yang memaparkan tentang perkataan yang benar dalam mengenali Allah dan tatacara pengabdian terhadap-Nya. Menurut Gurutta, manusia hanya dapat mengenal hakikat pengadian kepada Allah jika mereka mengenal hakikat tentang dirinya. Untuk mengagungkan Allah, tidak hanya berbekalkan akal logika saja, tapi dengan melakukan zikir yang benar sebagai perantara guna mencapai makripat kepada Allah. Meskipun harus diakui bahwa logika harus dipergunakan untuk memikirkan alam semesta sebagai ciptaan Allah swt.

Dikemukakan bahwa cara berzikir mesti benar, sesuai yang diajarkan Rasulullah berdasarkan dalil-dalil naqli. Hati harus istiqamah dan tidak boleh goyah. Pendirian dan sikap aqidah tercermin dalam kitab Ar-Risalah Al-Bahiyyah fil Aqail Islamiyah yang terdiri dari tiga jilid. Keteguhan pendiriannya tentang sesuatu yang telah diyakini kebenarannya, tergambar dalam kitabnya Maziyyah Ahlusunnah wal Jama’ah.

Yang membahas bahasa Arab dan ushul-ushulnya tertulis dalam kitab Tanwirut Thalib, Tanwirut Thullab, Irsyadut Thullab. Tentang ilmu balagha (sastra dan paramasastra) bukunya berjudul Ahsanul Uslubi wa-Siyaqah, Namuzajul Insya’I, menerangkan kosa kata, dan cara penyusunan kalimat Bahasa Arab. Kitab Sullamul Lughah, menerangkan kosa kata, percakapan dan bacaan. Yang paling menonjol adalah kitab Irsyadul Salih. yang menerangkan penjelasan rinci (syarah atas bait-bait kaidah ilmu Nahwu)

AG.H. Abd. Rahman Ambo Dalle juga mengarang pedoman berdiskusi dalam Bahasa Arab, yakni kitab Miftahul Muzakarah dan tentang ilmu mantiq (logika) dalam kitab Miftahul Fuhum fil Mi’yarif Ulum. Aktivitas tulis menulis yang dilakukan oleh Gurutta kiranya tidak terlalu berat, karena panggilan untuk mengukirkan gagasan dalam kanvas sudah beliau lakoni sejak berumur 20 tahun.

Kepribadian Gurutta
Sebagai ulama yang menyimpan kharisma yang dalam, Gurutta KH. Abd. Rahman Ambo Dalle dikenal dekat dengan semua kalangan, baik santrinya maupun dengan masyarakat dan pemerintah. Pengabdiannya yang total dan kepemimpinannya yang adil, lekat di jiwa pencintanya. Akan sulit menemukan figur ulama seperti beliau dalam sepak terjang perjuangannya di dalam menegakkan syiar agama dan meletakkan dasar pondasi yang kokoh untuk menegakkan berdirinya pendidikan pesantren, yang kini memiliki jaringan cabang yang sangat luas hingga keluar negeri. Kedekatannya dengan semua golongan terkadang membuat beliau mempunyai “banyak anak” sebagai anak angkat yang tidak dibedakan dengan anak kandungnya sendiri. Seperti pengakuannya dalam sebuah media, “Bagi saya, semua orang seperti anak sendiri, semua harus diperlakukan secara adil tidak peduli apa anak kandung atau bukan”. Contohnya, Try Sutrisno (mantan Wapres) ketika menjabat sebagai Panglima ABRI datang menyerahkan diri sebagai anak. Gurutta pun menerimanya dan menyerahkan sehelai tasbih sebagai bukti dan mengajarkan beberapa doa sekaligus mendoakan. Sejak itu, bila Try Sutrisno ke Sulawesi Selatan, selalu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Gurutta.

Demikian pula beberapa santri yang pernah belajar di Pesantren DDI, khususnya di Mangkoso, Parepare, dan Kaballangan, diperlakukan sama, baik santri laki-laki maupun perempuan. Beliau selalu menaruh rasa cinta dan sayang kepada siapapun yang dianggap memiliki kemampuan belajar tanpa memandang latar belakang keluarga. Sebagai contoh, beliau pernah memberikan sebuah kitab Kifayah al-Akhyar yang ada ditangannya sebagai hadiah kepada santrinya, karena bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Gurutta.

Dalam kegiatan kemasyarakatan, Gurutta sangat intens dalam memberikan perhatian dan meluangkan waktunya untuk membahas dan menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan yang ditemui ataupun yang diajukan kepadanya. Namun, dengan segudang kesibukan yang mendera waktunya, Gurutta tak pernah melupakan tugas sehari-hari untuk mengajar di pesantren dan juga kegiatan dakwah yang diembannya hingga sampai ke pelosok-pelosok daerah. Apalagi jika memasuki hari-hari besar Islam seperti pada peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. atau peringatan Isra’ Mi’raj Nabi, beliau jarang dijumpai di rumah karena kesibukan berdakwah untuk kepentingan syiar Islam.

Dengan Pemerintah, Gurutta senantiasa menjalin kerja sama yang sangat akrab. Beliau mempunyai pandangan bahwa ulama dan umara keduanya merupakan dwi tunggal yang mutlak diperlukan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, di balik semua kharisma dan keseriusan beliau itu, sesungguhnya Gurutta juga adalah seorang yang menyimpan jiwa seni yang cukup kuat. Orang-orang terdekatnya paham betul akan kemampuan Gurutta dalam melukis, dekorasi, dan menciptakan lagu-lagu yang bernafaskan Islam. Gurutta Ambo Dalle pernah melukis potret dirinya yang nyaris sama dengan yang asli. Sedangkan untuk lagu-lagu ciptaannya, sampai sekarang masih tersimpan sebagian di tangan santrinya.

Detik-detik Terakhir
Gurutta KH. Abd. Rahman Ambo Dalle berpulang dalan usia senja mendekati satu abad. Namun, tahun-tahun menjelang beliau dipanggil Tuhan, tetap dilalui dengan segala kesibukan dan perjalanan-perjalanan yang cukup menyita waktu dan tanpa hirau akan kondisi beliau yang mulai uzur. Misalnya, dalam usia sekitar 80 tahun beliau masih aktif sebagai anggota MPR dan MUI pusat. Dalam rentanya dan kaki yang sudah tidak mampu menopang tubuhnya, beliau masih sempat berkunjung ke Mekkah untuk melakukan Umrah dan memenuhi undangan Raja Serawak (Malaysia Timur), meskipun mesti digendong.

Demikianlah perjalanan hidup seorang hamba Allah SWT yang telah melalui berbagai zaman dalam perjuangannya menegakkan dan mensyiarkan agama Islam. Di setiap era yang dilewatinya, dia tetap tampil sebagai sosok yang selalu tegar dan tegas. Ibarat pohon bakau ditepi pantai, ia tak pernah luruh dan tetap kukuh menghalau deburan ombak yang menghantamnya. Dia tak mau takluk pada perhitungan manusia akan kondisi dan kemampuan fisiknya di usia senja. Dimana keadaan sebagian tubuhnya sudah tidak berfungsi lagi, mata yang kabur dan nyaris tak melihat, tubuh ringkih yang tidak kuat berjalan. Semuanya tidak membuatnya untuk berhenti dari misi pengabdiannya.

Sumber

March 16, 2009

AGH. DAUD ISMAIL (1907-2006)


Ulama Pelestari Kearifan Lontara Bugis

Suku Bugis yang berdiam di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah, namun demikian suku ini juga menyebar ke berbagai daerah di Nusantara. Dalam tradisi masyarakat Bugis, gelar Anregurutta dapat diibaratkan sebagai professor di dunia kademik. Jika orang luar Sulawesi Selatan mendengar seseorang warga yang menyebutkan Anregurutta kepada seorang tokoh, tentu sang tokoh tersebut termasuk kategori ulama yang disegani. Anregurutta menempati status sosialnya yang tinggi dan kedudukan terhormat di mata masyarakat Bugis.


Pemberian gelar Anregurutta bukanlah pemberian gelar akedemik, melainkan pengakuan yang timbul dari masyarakat, atas ketinggian ilmu, pengabdian dan jasanya dalam dakwah keislaman. Tidak semua yang mengajar agama dipanggil sebagai Anregurutta, tergantung dari tingkat keilmuannya. Selain itu, masyarakat Bugis juga meyakini adanya kelebihan Anregurutta berupa karomah, dalam bahasa Bugis disebut makarame'.

Para muballigh misalnya, ada juga yang tetap dipanggil Ustadz, yaitu orang yang membawakan khutbah dan ceramah di masyarakat. Namun belum bisa dijadikan sebagai suatu rujukan bertanya berbagai hal keagamaan. Sementara posisi tingkat Anregurutta ini dijadikan sebagai tempat bertanya berbagai persoalan dan kehidupan secara umum. Ustadz dikenal hanya dalam kelompok kecil, misalnya kelompok pengajian dan ceramah-ceramah umum.

Salah satu di antara para pejuang dakwah islamiyah di tanah Bugis yang digelarai Anregurutta ini adalah Anregurutta Haji (AGH) Daud Ismail. Sosok ulama besar Sulawesi Selatan yang memiliki peran penting terhadap pengembangan syiar Islam di Sulawesi Selatan. Beliau adalah salah seorang arsitek berdirinya Datud Da’wa wal Irsyad (DDI) bersama almarhum AGH Abdurrahman Ambo Dalle dan AGH Muhammad Abduh Pabbajah serta ulama-ulama sunni Sulawesi Selatan lainnya. Gurutta Daud Ismail juga dikenal sebagai ulama ahli tafsir bahkan ia berhasil membuat tafsir (terjemahan) Al-Qur’an sebanyak 30 juz dalam bahasa Bugis.

Pendidikan Otodidak

Beliau Lahir di Cenrana Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng tahun 1907 M., buah perkawinan dari pasangan H. Ismail dan Hj. Pompola. Daud Ismail mengawali pendidikannya dari kolong rumah. Di sana Gurutta mulai belajar mengaji Al-Qur’an pada orang tua kandungnya. Kemudian melanjutkan pendidikan ke pesantren-pesantren di Sengkang. Dari sinilah Daud Ismail memiliki banyak guru dari kalangan ulama Sengkang.

Anregurutta Daud adalah seorang yang otodidak, sejak kecil belajar sendiri untuk mengenal aksara Lontara dan Latin. Kendati demikian, beliau juga pernah menimba ilmu pada banyak guru, baik di Soppeng (Kabupaten Soppeng) maupun di Soppeng Riaja (Kabupaten Barru), Sulawesi Selatan.

Antara tahun 1925 – 1929 Anregurutta Daud juga belajar kitab qawaid di Lapasu Soppeng Riaja, sekitar 10 KM dari Mangkoso, 40 KM dari Kota Pare Pare. Di sana Daud Ismail belajar pada seorang ulama yang bernama Haji Daeng. Pada masa itu pula Daud Ismail belajar kepada Qadhi Soppeng Riaja, H, Kittab.

Setelah Anregurutta H. Muhammad As’ad kembali dari Tanah Suci dan mendirikan Pesantren Bugis di Sengkang pada tahun 1927 yang bernama Al-Madrasatul Arabiyah Al-Islamiyah (MAI), maka pada tahun 1930 Anregurutta Daud kembali ke Sengkang untuk belajar kepada Anregurutta H.M. As’ad dan termasuk santri angkatan II, setelah Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle.

MAI ini merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua yang dikenal masyarakat di Sulawesi Selatan. MAI Sengkang Wajo didirikan pada bulan Zulkaidah 1348 H. atau bertepatan bulan Mei 1930 M. oleh Anregurutta As’ad yang baru saja kembali dari Mekkah pada tahun 1928 setelah menyelesaikan masa belajarnya pada Madrasah Al-Falah Mekah. Pada awal-awal berdirinya, MAI Sengkang Wajo hanya merupakan pengajian pesantren yang pelaksanaannya mengambil tempat di rumah kediaman Anregurutta As’ad sendiri. Setelah santrinya bertambah banyak tempat pelaksanaan pengajiannya dipindahkan ke Masjid Jami’ Sengkang.

Selama belajar di Sengkang Daud Ismail merasakan banyak sekali kemajuan khususnya dalam menguasai kunci ilmu-ilmu agama. Misalnya, Ilmu Qawaid, Ilmu Arudh, Ilmu Ushul Fiqhi, Ilmu Mantiq dan lain-lainnya. Hal itu cukup dirasakan oleh Gurutta Daud Ismail karena metode mengajar yang diterapkan oleh Anregurutta H.M. As’ad terbilang sudah lebih maju dari metode yang didapatkan sebelumnya. Sehingga menurut pengakuan Daud Ismail, santri-santrinya cepat menguasai apa yang diajarkan.

Salah satu kesan mendalam Gurutta Daud kepada Anregurutta As`ad, ketika gurunya ini mengajarkan ilmu Arudh yang diajarkan setelah Shalat Isya, hingga larut malam. Bahkan terkadang sampai sekitar jam satu malam. Anehnya, Gurutta Daud Ismail hanya diajarkan ilmu Arudh ini selama satu malam saja. Keesokan harinya beliau langsung diberi kitab untuk dipelajari sendiri.

Inilah salah satu kelebihan dan keunikan Anregurutta As`ad dalam mendidik santri-santrinya. Misalnya, ketika belajar ilmu Arudh ini, Anregurutta As’ad hanya memilih sejumlah santri pilihan untuk diajar satu malam saja memberikan penjelasan kepada santrinya tanpa buku pegangan. Namun keesokan harinya santri-santrinya telah mampu menerapkannya dalam menelaah kitab kuning. Padahal ilmu Arudh termasuk salah satu cabang ilmu yang paling sukar dipelajari di dunia pesantren.

Setelah belajar langsung kepada Anregurutta As`ad di Sengkang, Gurutta Daud Ismail kemudian dipercayakan untuk mengajar pada tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, meskipun beliau tetap belajar kepada Anregurutta As’ad. Kebetulan pada waktu itu, belum ada tingkat Aliyah. Sejak saat itulah, orang-orang mulai memanggilnya Gurutta (panggilan kehormatan setingkat di bawah Anregurutta) Daud Ismail.

Bersama Gurutta Daud Ismail ini pula Anregurutta As’ad membentuk tim pengajar. Sehingga Anregurutta As`ad tidak lagi langsung berhadapan dengan santri-santri baru (yunior). Tapi hanya berhadapan langsung dengan beberapa santri senior. Dari santri senior inilah kemudian mengajarkan kepada santri yang lain sesuai tingkatan masing-masing.

Gurutta Daud Ismail temasuk santri yang paling disayangi oleh Anregurutta As`ad. Hal itu dibuktikan dengan ketatnya pengawasan kepada beliau. Gurutta Daud Ismail tidak diizinkan meninggalkan pesantren, hingga memasuki masa sulit ketika harus meninggalkan Sengkang.

“Laing memetto gurutta Sade` usedding batena mappa`guru”, (Saya merasakan memang agak lain waktu saya belajar pada Gurutta Sade – panggilan akrab bagi Anregurutta Muhammad As`ad - dibanding waktu saya belajar di tempat lain), demikian kenang Gurutta Daud Ismail tentang gurunya ini.

Wasiat Sang Guru
Pada tahun 1942, ketika pecah perang dunia II, merupakan masa sulit yang dialami Gurutta Daud Ismail. Kondisi tersebut membuatnya terpaksa meninggalkan Sengkang untuk kembali ke kampung halamannya di Soppeng. Salah satu cobaan berat Gurutta Daud Ismail yang ketika ini adalah waktu itu adalah berpulangnya istri pertama ke Rahmatullah.

Tak lama kemudian, pada tahun 1942 – 1943 beliau diminta mengajar di Al-Madrasatul Amiriyah Watang soppeng menggantikan Sayyed Masse. Dan waktu itu juga beliau diangkat menjadi Imam Besar (Imam Lompo). Hingga akhirnya beliau memutuskan meninggalkan perguruan tersebut, karena dibatasi gerakannya oleh Nippon dan adanya latihan menjadi tentara Jepang (PETA).

Pada tahun 1942 M. ini pula Gurutta Daud Ismail diangkat sebagai Imam Besar di Lalabata, Kabupaten Soppeng, sambil mengajar pada sebuah madrasah. Beliau juga pernah menjadi guru pribadi bagi keluarga Datu Pattojo, tepatnya pada tahun 1944. Karena diakui sebagai seorang ulama yang berilmu luas dan mendalam, Daud Ismail diangkat sebagai Kadhi (hakim) di Kabupaten Soppeng pada tahun 1947. Jabatan ini beliau sandang hingga tahun 1951. Kemudian antara tahun 1951-1953, beliau menjabat sebagai pegawai di bidang kepenghuluan pada Kantor Departemen Agama Kabupaten Bone. Sejak saat ini Daud Ismail telah mulai biasa disapa sebagai Anregurutta.

Sepeninggal Anregurutta As‘ad (1952 M), Anregurutta Daud Ismail diminta oleh para pemuka masyarakat Wajo dan sesepuh Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) untuk datang ke Sengkang melanjutkan pembinaan madrasah yang ditinggalkan oleh Anregurutta Muhammad As‘ad. Pada tahun 1953 nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) diubah pada tahun 1953 menjadi Madrasah As‘adiyah sebagai penghormatan dan penghargaan kepada Anregurutta M. As‘ad.

Kembali ke Sengkang merupakan wasiat dari Anregurutta As’ad, bahwa Gurutta Daud Ismail harus kembali ke Sengkang untuk memimpin MAI. Maka meskipun dengan resiko harus meninggalkan status pegawai negerinya, Anregurutta tetap memenuhi wasiat gurunya tersebut. Namun. Anregurutta Daud Ismail hanya menetap dan memimpin MAI Sengkang selama 8 tahun. Karena adanya desakan dari Soppeng agar beliau kembali membina madrasah di daerahnya. apalagi waktu itu beliau merasa sudah ada kader-kader ulama yang dapat menggantikan Anregurutta Daud Ismail.

Setelah meninggalkan Sengkang pada tahun 1961, Anregurutta Daud Ismail kembali ke Soppeng. Ia mendirikan sekaligus mengetuai Yayasan Perguruan Islam Beowe (YASRIB) dan membuka Madrasah Muallimin pada tahun 1967. Pada masa ini Anregurutta Daud ismail juga diangkat kembali menjadi Qadhi (untuk kedua kalinya) di Soppeng.

Menulis Kitab
Suku Bugis dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang sangat kental menganut dan melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam. Untuk keperluan itu, mereka sangat bergantung pada apa yang mereka peroleh dari al-Qur‘ân, sehingga tafsir al-Qur‘ân memegang peranan penting dalam kehidupan keagamaannya.

Atas dasar yang demikian, maka Anregurutta Daud Ismail melahirkan sebuah karya tafsir berbahasa Bugis. Upaya ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat Bugis untuk lebih mudah mengakses dan memahaminya. Terutama sekali adalah agar adanya aksara Lontara, yaitu huruf abjad bahasa Bugis, tidak lekas punah.

Tujuan beliau menyusun buku tafsirnya adalah untuk memelihara bahasa Bugis dari kepunahan. Untuk itu, beliau berharap agar karyanya itu ditempatkan di masjid-masjid, sehingga jemaah dapat dengan mudah membacanya. Hal ini merupakan salah satu upaya mempertahankan eksistensi bahasa Bugis.

Anregurutta Daud Ismail berharap agar karyanya itu ditempatkan di masjid-masjid, sehingga jamaah dapat dengan mudah membacanya. Hal ini merupakan salah satu upaya mempertahankan eksistensi bahasa Bugis.

Sejarah eksistensi terjemah dan tafsir Al-Qur’an, di Sulawesi Selatan sendiri sudah cukup panjang. Upaya untuk menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Bugis telah dimulai sejak tahun 1948. Pada waktu itu, sebuah buku tafsir kecil terbit di Sengkang (Kab. Wajo) yang ditulis oleh Anregurutta M. As‘ad (w. 1952 M), guru dari Anregurutta Daud Ismail.

Karya lain yang pernah ditulis Anregurutta Daud Ismail, antara lain Ashshalatu Miftahu Kulli Khaer (bahasa Bugis), Carana Puasae, kitab-kitab ini ditulis dalam bahasa Bugis. Sementara Tafsir dan Tarjamah Al-Qur’an 30 Juz dalam bahasa Bugis merupakan karya tulis terbesarnya.

Anregurutta Daud Ismail memimpin Pondok Pesantren YASRIB sampai menghembuskan napas terakhirnya. Anregurutta Daud Ismail menghadap ke hadirat Allah SWT dalam usia 99 tahun pada Senin 21 Agustus 2006 sekitar pukul 20.00 WITA, setelah sempat dirawat selama tiga pekan, di Rumah Sakit Hikmah, Makassar. Anregurutta Daud Ismail masih menjabat sebagai Kadhi di Kabupaten Soppeng. Selain itu amanah yang masih disandangnya adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Soppeng tahun 1993-2005. Semoga Allah SWT meridhoi perjalanannya dan merahmati masyarakat yang ditinggalkannya. Amin.

Sumber