Translate

November 16, 2008

Nikah, Versi Anak Kairo

Semalam gua kedatangan 4 orang teman, gi asik2nya ngobrol ttg seorang temen yang balik ke indo tuk married n rencananya ia mau ngajak istrinya tinggal n kuliah di cairo, ehh tiba2 ada temen yang nanya gini :
"Eh, kalo gw nikah tapi dengan kiriman + beasiswa yang cuma Rp **** bisa ga ya?“

Hmmm.....t

Awalnya aq cm mo bilang, klo nikah di cairo jauh lebih murah ketimbang nikah di indo (read: sulawesi makassar...dengerin jg Art2tonic-Melamar/bacobecce ver.2), paling cm ngabisin dana US$ 700-1000 , ini mah dah masuk mahar n biaya pesta. Apalagi klo dapat bantuan dana dari KBRI, pasti lebih ringan lg deh..

Tp pas aq mo coba untuk tidur, ehh tau2 pertanyaan itu masih terngiang2 di telinga aq. akhirnya spy tidur aq bisa nyenyak, aq mutusin buat daftar pengeluaran bulanannya. Dan berikut adalah daftar pengeluaran standar bulanan setelah married. Sekedar berbagi aja, buat temen2 yang mungkin juga mengalami 'Matery after merried phobia syndhrome', salah satu penyakit mirip Aids (Acquiried Immuno Defesience Syndhrome) (read: asal2an mode on, yang jelas ada kata syndhrome nya)


Daftar anggaran bulanan:
(asumsi: disusun berdasarkan skala proritas, disusun dengan sangat2 relatif, dan berdasarkan basic needs standar menengah ke bawah)

1. Makan
Dengan asumsi sekali makan + dah minum syai (teh) adalah Le. 5 , Maka makan 3x sehari, kali 2 orang (karena lagu sepiring berdua cuma berlaku pada saat pacaran ajah), kali 30 hari adalah Le.300 = Rp. 550 ribu/bulan.

Tips: “Rajin2 ke kondangan atau kerumah kawan, dan minta suruh bungkus buat 1 orang. Pasti lebih ngirit!”

2.Kontrakan
Dengan asumsi masih ngontrak di apartemen (read: rumah susun), yang punya uda botak, tapi masih galak, dan punya anjing belum jinak. Maka dana untuk kontrakan sekitar Le.300 = Rp. 550 ribu/bulan.

Tips: “klo dah balik ke indo, tinggallah di Pondok Mertua Indah. Niscaya 2 dana diatas gak bakalan pernah ada. Di pondok mertua indah, anda akan bebas makan apa aja, termasuk 'makan ati'!”

3. Listrik, Air dan Cleaning Service
Dengan asumsi daya listrik 900 watt dan pake jetpam maka anggaran untuk listrik adalah Le.15 = Rp 25 ribu/bulan.

Tips: "Jangan pake AC, cukup AC alias ase pulu' (beras ketan, bugis mode on). Jangan suka main Playstation, cukup main monopoli, jendral atau domino ama istri terasa lebih romantis!”

4. Transportasi
Dengan asumsi naik bis gede' alias 80 copet/coret ke kampus Le.2 (dah termasuk PP), maka 16x sebulan (tiap minggu 4x aja) , kali 2 orang , adalah Le.70 = Rp 125 rb

Tips: “Usahakan jadi anggota "Nebeng Fans Club" (Tradisi anak KKS), dengan alasan mempererat silaturahmi perjalanan berangkat dan pulang dari kampus akan terasa lebih menyenangkan.

5. Komunikasi
Dengan asumsi pake vodafone cm buat sms ortu klo butuh duit bulanan, persms 50 piester , kali 2x sms buat anda & 2x sms buat istri maka untuk sebulan, ongkos komunikasi berdua adalah Le.2 = Rp.5 ribu

Tips: "Pake lah 'FREN' yang lebih murah (maksudnya kalo mau sms tinggal bilang "Freeen...minjam HP nya dong freen...")!”

6. Keperluan sehari2 (Seperti sabun,odol,shampo, dll dsb)
Dengan asumsi tidak pake fesyel, krimbat, menikyur, pedikyur, kukyur2 maka alokasi dana untuk ini sebesar Le.15 = Rp.25 rb/bulan

Tips: “Mandi kalo perlu saja. Kalo dulu 2 kali sehari, jadi 2 hari sekali! untuk mengirit odol”

7. Kesehatan
Seperti minyak kayu putih, vitamin (read: hajar jahannam; Quickie Express mode on), obat pusing (ini penting buat pengantin baru wekekekek!), maka alokasi cadangan untuk kesehatan sebesar Le.25 = Rp. 35 ribu

Tips: “Jaga kesehatan!” Jangan begadang...kalo tiada artinya...begadang bole saja...asalkan sambil ronda (kaukah itu roma?)

Jadii...
Dari asumsi basic needs diatas maka pengeluaran untuk tiap bulan adalah sebesar :

Le.730 = Rp.1.300.000/bulan

(syeeett dah...masih gede juga ya)

Mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan temen2 ketika pengen nikah, untuk kemudian dibandingkan dengan pemasukan yang ada. Kalopun masih 'besar pasak daripada tiang' Anda bisa memperkecil pasak, atau memperbesar tiang...ataauu. ..ga usak pake pasak, tapi dipaku aja!

Tapi ada 1 hal yang ga bisa dijelaskan dengan akunting ketika anda memutuskan untuk menikah (serius mode on*) Yaitu, berkah menikah.

Selalu, Tuhan akan mencukupi kebutuhan umatnya yang mau berusaha dan berdoa.
Selalu bersukur dan percaya bahwa Tuhan lah raja dari segala raja akunting!

so, stop accounting, just do it! :))

....dan daftar di atas, akan menjadi pemicu semangat untuk....

September 14, 2008

Puasa, perspektif awam

Ngapain sih puasa? Nggak makan dari subuh sampai maghrib. hikmahnya apa?

Ada yang bilang biar bisa merasakan sengsaranya orang-orang yang kelaparan. Sehingga bisa menumbuhkan rasa empati kepada mereka yang berkekurangan, menjadi lebih peduli lagi kepada mereka.

Tapi klo kita mau fair, apakah kita sudah menaruh empati ke mereka? jujur aja, selama ini saya berpuasa dari kecil sampe setua ini (iya ngaku deh kalo udah jenggotan), nggak pernah saya mencoba membayangkan diri ini sebagai orang sengsara yang sedang kelaparan. Saya sedang berpuasa itu aja, bukan kelaparan. Kelaparan itu kan berarti nggak punya makanan sama sekali yang bisa untuk dimakan. Padahal jelas saya punya makanan, atau paling tidak punya uang untuk membeli makanan. Apalagi kalau bulan puasa gini mah, makanan2 enak bertaburan dimana-mana. Jadi bagaimana saya bisa membayangkan diriku sebagai orang yang sedang kelaparan. Apalagi kalo menjelang buka puasa gitu, pasti semua orang sudah sibuk sendiri-sendiri mencari makanan yang paling enak.

Haruskah saya bersandiwara membayangkan diri ini sebagai orang miskin yang kurang makan? Agar bisa menghayati kehidupan yang berkekurangan. Tapi kan dalam puasa hanya disyaratkan tidak makan, minum, dan sex, tidak ada tuntutan harus berperilaku seperti orang kekurangan. Bukan itu sepertinya poin yang dicari dari perintah berpuasa.

Agar lebih meningkat imannya kepada Allah. Begitu kata yang lain mengenai tujuan puasa.

Setahuku sih, puasa itu kan ibadah yang pasif. Ibadah yang tidak perlu melakukan aktifitas ibadah secara fisik. Tidak ada ritual nyata yang terlihat sebagaimana shalat, membayar zakat, atau haji. Tidak ada tuntutan untuk memusatkan pikiran agar khusyuk mengingat Allah sebagaimana dalam shalat. Puasa itu tidak melakukan kegiatan fisik, jadi bagaimana bisa meningkatkan iman? Mungkin yang bisa meningkatkan iman adalah kegiatan beribadah lain yang dilakukan selama berpuasa, tapi bukan puasanya secara langsung, menurutku.

Jadi, buat apa dong puasa itu? Latihan lapar doang? Belajar mengendalikan hawa nafsu. Tapi apa artinya menahan hawa nafsu dari subuh sampai maghrib, kalau kemudian begitu buka yang terjadi adalah balas dendam. Apa artinya menahan hawa nafsu kalau begitu menjelang buka, semua orang sibuk mempersiapkan makanan terenak dan kemudian duduk manis dihadapannya menunggu bunyi beduk tiba. Tidak ada artinya dong pelajaran mengendalikan nafsu seharian yang dilakukan sebelumnya.

Memang sih seharusnya tidak seperti itu. Buka puasa semestinya bukanlah ajang balas dendam. Makan sedikit aja waktu buka sebenarnya sudah bisa meredakan nafsu makan yang menggila sebelumnya. Ya nggak?

Secara kasar, memang bisa dibilang puasa itu berlatih lapar. Tapi sebenarnya bukan sekedar lapar. Lebih tepatnya belajar melepaskan diri dari kebiasaan duniawi. Sehari2 jika sudah terbiasa dengan makan 3x sehari, jika jadwal makan siang mundur satu-dua jam saja kita sudah rasanya kelaparan banget, kepikiran makanan terus. Padahal kalo lagi puasa, biasa aja tuh, laper sudah pasti, tapi gak sampai panik teriak2 minta makan. Jadi sebenarnya kuat untuk bertahan tidak makan. Begitu juga dengan nafsu-nafsu yang lain, nafsu sex, nafsu amarah, dan lain sebagainya. Sebenarnya kita mampu untuk menahan dan mengendalikan semua itu, sebagaimana yang terjadi selama puasa, tapi kadang kita manja, malas untuk mengekang diri demi kebaikan sendiri.

Kewajiban puasa sepertinya ingin menunjukkan, bahwa sebenarnya manusia itu bisa lepas dari keterikatan2 duniawi klo mau. Sebenarnya manusia kuat kok tanpa terikat terlalu erat dengan kebutuhan makan, seks, atau nafsu2 lain. Cukuplah semuanya dipenuhi sebatas kebutuhan. Jadi janganlah hal-hal itu terlalu dikejar-kejar untuk dipuaskan semaksimal mungkin.

Dan kemudian anjuran memperbanyak ibadah selama puasa, seolah ingin mengatakan bahwa daripada mengejar-ngejar pemuasan nafsu, lebih baik perbanyaklah ibadah.

September 08, 2008

Terserah....!

Sebaik-baik kawan adalah yang tak hanya mengajakmu tertawa, tapi juga menangis.
kalimat inilah yang sering kita dengar ttg perkawanan.
Tertawalah karena ternyata kita masih di dunia.
Dan menangislah, karena ternyata kita mesti pertanggungjawabkan kelak
objek tertawaan di "dunia lain" (trans tv mode on)

Kalau kau anggap gagasan itu subyektif karena itu pandangan saya, ya silahkan.
Tapi tak ada salahnya ditransfer, kan?

Saya tak katakan saya baik. Tapi saya mengajakmu baik-baik.
Mau ikut atau tidak, itu memang urusanmu.
Saya hanya kawan pejalan kewajiban.

Jadi, sama halnya ketika ada orang yang mengaku mencintaimu merajuk ”bercinta” dengan iming-iming cinta.
Pastikan itu omong kosong.
Jangan pernah tenggelam di air dangkal.
Kalaupun dia jujur, berarti dia bodoh.
Dan kalau kamu menurut, kamu tak lebih pintar dari dia.
Bagaimana mungkin dia mencintaimu sementara dia tega menjerumuskanmu?

Tapi lagi-lagi terserah... (dampak reformasi 98)
Semua ini hanya jika kau benar yakin, bahwa memang ada kehidupan setelah mati.

August 23, 2008

Sambut Ramadhan Nan Suci

Dimalam yang sepi ku menyendiri…
Dalam kesendirian kemerenung diri
Luka hati yang teriris pedih..
Disaat ku mengenang jati diri

Lidahku yang kecil terkatup pilu…
Tatkala kuingat dosa beribu
Dapatkah ku menghapusnya dgn bulan suciMu…
Untuk melangkah lebih maju.

Kutanya hatiku…
Prahara hati yang menggelora.
Karma alunan kasih yang membara….
Membuat jiwa terbelenggu dan lupa.
Ku terbangun dari kekhilafanku yang parah.

Tuhanku…
Dengan merendahkan diri yang hina ini.
Kutanya hatiku dalam prasasti nan jauh…
Hanya ampunanMU yang kuharap.
Jauhkan daku dari segala angkara murkaMu
Berkah RamadhanMu yang kudamba..

August 20, 2008

Buah Kemerdekaan & Seupil Negeri Biadab

Hari ini 63 tahun lalu..
Bung Karno melafal sebuah manifesto di secarik kertas ukuran tak lebih setengah kwarto.
Maka luar biasa jadinya.
Merdekalah kita.
Pekiknya tak henti terngiang sampai detik ketika jari saya beradu huruf terakhir keyboard ini.

Dan..
hari ini setelah 63 tahun itu..
Saya sempatkan diri membaca berita.
Ada sementara orang yang sepertinya lebih layak membunuh waktu dengan berasyik-masyuk merawat partai barunya tuk pemilu mendatang,
merehabilitasi gerakan kiri yang seolah-olah terdzalimi.

Ada juga yang masih disibukkan mereka-reka kepahlawanan Tan Malaka.
Setelah sebelumnya sebagian orang membuang umur menyoal lagu tiga stanza.
Reparasi sejarah, katanya.

Padahal nun jauh di seberang sana
Sejarah buram tertoreh lebih kasat mata,
menggelitik syaraf nurani bagi siapapun yang masih peka.

Adegan bungee jumping yang hanya boleh ditonton pada layar tivi berlabel Dewasa, diperagakan dari lantai 17, durasi 30 menit.
Dia tertolong.
Terbata-bata dia bertutur kemudian dari bibir yang bengkak, ditingkah kerjap mata yang lebam.
Jujur sepertinya, walau sang majikan kukuh menampik tuduhan.

Parsiti, pahlawan yang belum merdeka itu bukan seorang diri yang berbuat demikian.
ada Ceriyati pendahulunya, dengan nasib serupa.

Wasit karate Indonesia Donald Pieter, ga luput dari kebinatangan mereka
Dan mungkin ada beratus -atau beribu- Parsiti, Ceriyati dan Donald kita yang lain, tak kalah nestapanya.

Seupil negeri biadab yang katanya serumpun kita itu,
membalas tuba setelah kita beri susu.
Sebagian dari susu gratis berupa Pulau Sipadan dan Ligitan.
Sepertinya itu tak cukup,
karena sewaktu-waktu mereka masih gemas
pada teritori negri maritim Indonesia
dan berbagai karya seni batik,
lagu rasa sayange dan keris melayu sumatera selatan.

Maka tak berlebihan jikalau Bung Karno pernah bertitah mengganyang malingsia sedemikian..

Maafkan,
saya tak maksud provokatif.
Anggap hanya emosi sesaat tapi proaktif.
Yang meledak di momen merdeka,
dan hal ini kebetulan saja.


Ah, ingin rasanya tanamkan benci pada semua tentang mereka dan negeri itu..
andai di sana tak ada anak gadis Anwar Ibrahim (saya sempat melihat di liputan6.com ketika sang ayah kena musibah ditahan kepolisian sana)

PPJNIA (Paguyuban Penunggu Janda Nurul Izzah Anwar)

August 11, 2008

Ketika Indonesia Terpuruk

Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (di Malaysia "Wanita Tak Senonoh"), angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap bangsa lain. Maka orang Ndeso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN.

Nah karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah Negara normal atau bahkan mengikut Negara maju. Kebayang gak sih, ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar sementara anggaran kesranya 5 milyar, wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli kulkas
- Orang bule mabuk karena kelebihan uang, orang indonesia mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
- Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko dekan tanpa kuliah
- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk tidur
- 63 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa memakai yg terbuka
Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

August 10, 2008

Indonesiaku Gagal


Mencet Toch sambil dengar Ebit G Ade nyanyi

Indonesiaku gagal, yap batalkan 17 agustus 1945, batalkan kemerdekaan. Buat apa kemerdekaan buat apa perjuangan para pahlawan kita jaman dulu, kalo negara jadinya seperti sekarang ini. Betapa hancurnya bangsa ini, jujur aja hanya sedikit yang bisa dibanggakan dari Indonesia. Ucapan kebanggaan yang seringkali kita keluarkan dari mulut kita, itu hanyalah sebuah retorika kosong yang bertujuan untuk memberi motivasi tapi juga membodohi kita dan menghambat kita untuk maju, dan itulah yang terus dikumandangkan oleh pemimpin bangsa ini sambil menutup mata atas penyiksaan TKW Indonesia di luar negri, pemukulan pelatih karate di malaysia, pembajakan aset budaya bangsa dll.

Hadapilah kenyataan yang pahit ini bahwa bangsa ini gagal dari kemerdekaan. Apakah kemerdekaan adalah sebuah pesta perkimpoian yg menghabiskan banyak dana tanpa melihat adanya tangisan korban lumpur lapindo. Upacara dan acara 17 agustus yang tiap kali kita lakukan dan kita gembar gemborkan itu sama sekali sesuatu yang salah, karena seringkali acara kemerdekaan selalu diadakan dengan lomba2 dan pembagian hadiah dan acara2 meriah lainnya seperti pemasangan umbul2 dan gapura dan bendera merah putih tapi faktanya adalah ada ribuan orang yang tidak punya pekerjaan, ada ribuan korban lumpur lapindo yang sampe saat ini nasibnya sangat menyedihkan.

Mungkin saya terlalu ekstrim dalam hal ini tapi inilah fakta yang ada. Mungkin ini adalah sudut yang berbeda dari kebanyakan orang. Pada 17 agustus yang akan datang, yang seharusnya kita lakukan adalah MENANGIS! menangis buat anak2 kita yang sekolah reok, nangis buat anak2 muda indonesia yang katanya penerus bangsa tapi terikat dengan obat2an, nangis buat anak bayi yang tidak bisa ditebus orang tuanya dari rumah sakit karena kekurangan biaya, nangis buat sarjana S1 yang menjadi tukang ojek karena kurangnya lapangan pekerjaan.

Indonesia
Maafkan aku tak bisa menolongmu
Karena engkau terlalu kuat bagiku
Dan aku terlalu lemah bagimu

Jujur saya meneteskan air mata waktu nulis ini karena saya harus menuangkan apa yang selama ini pun berusaha saya tutupi bahwa bangsa saya adalah bangsa yang gagal tetapi harus tetap saya terima karena bagaimanapun indonesia adalah tanah air saya, kamu dan mereka. I really love this nation, thats why i should take this all fuck of this nation condition...menggunakan tulisan sebagai senjata.

July 27, 2008

Maaf

Jika saja maaf hanya formalitas
Cukuplah lafaz memperjelas, lalu sentuhan jadi penuntas.

Takkan hilang karat pada besi
Tak terkelupas remah pada pinggiran roti
Jika tak ada ikhlas pada dasar hati

Maaf, maaf, maaf..
Hanya itu.

Tak mudah memintanya, sebagaimana sulit memberinya.
Tapi sudah kulakukan,
Dan kini semua tergantungmu..

July 22, 2008

Angkuh

Tinggi hati benar,
Benar-benar tampak perangai sebenar..

Semisal berderajat sangat, sehingga saya hanya secuil kau lihat..
Seperti bersahaja, padahal dengan begitu sisi indahmu tertutup mega..
Tampak bodohlah saya, lantaran empati yang berbalas angkuhmu..
Seolah-olah merugilah kiranya saya jika saja tak berkawan denganmu..

Yang layak ditakuti hanya dosa, bukan nista manusia..
Segan pada Tuhan, jika semaikan bibit permusuhan..
Silahkan caci maki dalam hati..
Tapi jangan harap langkah ini terhenti..

Saya bukan peyakin karma,
Namun setidaknya percaya akan niscaya..
Kau tuai apa yang kau tanam,
Tak kau dapat balas gula jika kau beri garam..

Kukuhlah bertahan dengan semua itu..
Karena saya tahu itu ukuran bahagia bagimu.
Tapi saya kira kau juga pasti tahu..
Takkan ada yang abadi di dunia ini, Saudariku..
Pun dengan segala yang kau banggakan pada dirimu..

July 05, 2008

Trio Bomber, Surga atau Neraka?

Trio Bomber, Surga atau Neraka?
Hanya Sebuah Anekdot
Oleh Irwan Masduqi

Tatkala hari hisab tiba, manusia yang tak terhitung jumlahnya rela antri panjang di depan pintu surga dan neraka. Jantung mereka berdebar dan berdetak tak karuan menunggu hasil penghitungan amal. Malaikat yang sedang bertugas memanggil mereka satu persatu sambil menenteng buku catatan amal.

Dengan suara keras, malaikat memanggil nama Imam Abu Hanifah untuk dihisab. Dengan mudah Abu Hanifah lolos masuk surga karena di dunia beliau tak menyia-nyiakan “akal”-nya untuk berijtihad memahami agama Islam secara rasional. Di surga, Abu Hanifah berkumpul dengan Umar bin Khatab. Umar bin Khathab adalah kolega nabi yang sangat rasional yang mensyukuri nikmat akal dengan cara berpikir. Umar bin Khathab senantiasa memahami al-Quran dengan pendekatan kontekstual- hermeneutis.

Giliran kedua adalah Tulkiyem, pelacur Sarkem (Pasar Kembang) Yogyakarta . Tak terduga, Tulkiyem juga masuk surga. Malaikat bilang, “dia masuk surga karena dia melacur tidak hendak melawan agama dan Allah, dia melacur karena melawan nasib hidupnya demi sesuap nasi dan membelikan susu buat anaknya. Yang masuk neraka justru orang-orang kaya, penguasa, dan agamawan yang tak punya kepedulian serta kepekaan sosial. Mereka tak memberi lahan perkerjaan dan pembinaan kepada para pelacur”.

Giliran ketiga adalah si Dul, mahasiswa al-Azhar Cairo . Sungguh mengejutkan, dia masuk neraka. Sayang sekali. Malaikat berkata, “dia masuk neraka karena menipu orang tuanya. Orang tuanya susah payah menguras keringan mengumpulkan uang recehan untuk membiayai si Dul di Cairo. E…e…eeeee si Dul malah malas-malasan tak mau belajar. Dia menipu dan mendurhakai orang tuanya. Dia itu mahasiswa goblok, tak pernah membaca buku, tapi sukanya mencibir dan meremehkan teman-temannya yang mengembangkan kritisisme”.

Amrozi cs sudah tidak sabar menunggu giliran hisab. Sambil pegang-pegang jenggot, mereka kelihatan penuh optimisme bisa masuk surga. Orang-orang di sekitar mereka pun bertanya, “kenapa kalian tak takut menghadapi hisab”?

Amrozi cs menjawab, “siapa takut? kami sudah membawa tiket surga. Kalau kalian ingin beli tiket surga, bergabung saja dengan orang-orang Islam radikal. Mereka jual obralan tiket”.

Dus, giliran keempat adalah Amrozi cs. Hisab berlangsung alot. Saat itu terjadi perdebatan sengit antara Amrozi cs dengan malaikat. Malaikat bilang, “tiket surga kalian tidak ada gunanya alias muspro”. Tapi Amrozi cs memaksa dimasukkan ke surga dengan dalih telah susah payah ikut program “bombing training” guna menghancurkan tempat-tempat maksiat. Abdul Aziz alias Imam Samudra, dengan mata tajamnya, tak sungkan memelototi malaikat sembari teriak kencang Allahu Akbar. Sementara Amrozi dan Ali Gufron alias Mukhlash cengar-cengir bingung tujuh keliling mendengar kata-kata malaikat tadi sambil memutar tasbih.Malaikat bertanya, “kenapa kalian melakukan teror”? Dengan diplomatis Amrozi cs menjawab, “kami ingin mengamalkan hadits amar ma’ruf nahi munkar bil yad. ‘Yad’ artinya adalah kekerasan dengan bom”.

Hahaha, malaikat ketawa terbahak-bahak mendengar jawaban konyol Amrozi cs. Sambil menahan ketawa, malaikat menjawab balik, “yang boleh amar ma’ruf nahi munkar dengan cara merusak fasilitas umum itu hanya pemerintah, kalau warga sipil tak boleh dengan cara itu. Heh dasar kalian sok pahlawan jadi polisi swasta!!!”.

Amrozi cs dengan nada lirih dan agak sedikit grogi bertanya, “masak sih”? Malaikat menjawab sambil senyum, “ya iyalah… masak ya iya dong. Mulan aja namanya diganti Mulan Jamilah, bukan Mulan Jamidong… duren aja dibelah, bukan dibedong”. Malaikat kemudian berargumen, “Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din pernah berkata bahwa umat Islam dalam amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh disertai perusakan harta orang lain. Imam al-Ghazali memberi contoh yang prosedural dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar kepada para peminum khamr dan penjual MIRAS (Minuman Keras). Dalam konteks ini, khomr/MIRAS boleh ditumpahkan (iraqatul khamri), tetapi botolnya tak boleh dipecah, karena botol adalah harta halal milik penjual dan peminum. Dengan demikian, tindakan teror kalian (baca: Amrozi cs) yang destruktif dengan merusak fasilitas umum (harta orang lain) dan juga tindakan brutal FPI tidak dapat dibenarkan karena tidak sesuai prosedur. Tindakan itu justru merusak citra Islam, tahu!!!”.

Amrozi cs tetap ngotot dan ngeyel agar dimasukkan ke surga. Mereka berdalih, “pokoknya kami harus dimasukkan ke surga (yang konon banyak bidadari yang cantik itu), karena kami telah memerangi orang-orang kafir (antek Amerika dan thaghut) di Bali seperti yang diperintahkan Allah yang berbunyi faqtulu al-musyrikina kaffah…faqtulu al-musyrikin haytsu wajadtumuhum/ tsaqiftumuhum ….faqtuluhum hatta latakuna fitnah (bunuhlah semua orang musyrik…di mana pun kalian berjumpa dengan mereka…bunuhlah mereka hingga tak ada fitnah)”. Amrozi cs berargumen bahwa “ayat-ayat itu menurut satu versi dalam tafsir al-Qurthubi menasakh dan mengamandemen ayat-ayat yang turun sebelumnya tentang anjuran mengampuni orang kafir dan jihad defensif terbatas dari agresi musyrikin, sehingga kesimpulan Amrozi cs jihad adalah ofensif”.

Kwakakakaka, malaikat tertawa terbahak-bahak untuk kedua kalinya mendengar jawaban Amrozi cs yang konyol itu. Karena penasaran, malaikat mendatangkan Imam al-Qurthubi untuk dimintai klarifikasi dan keterangan lebih lanjut. Malaikat bertanya, “wahai Imam al-Qurthubi benarkah dalam tafsirmu ada konsep jihad ofensif”? Imam al-Qurthubi menjawab, “dalam tafsir, saya memang mengutarakan dua pendapat; antara ‘versi tekstual pro nasikh-mansukh yang menyimpulkan jihad ofensif’ dan ‘versi kontekstual kontra nasikh-mansukh yang menyimpulkan jihad defensif’”. Coba dech malaikat Anda rujuk dalam Tafsîr saya, al-Jami' Li Ahkamil Qur'an, cetakan Dar al-Sya‘bi, vol. II, h. 71, vol. I, h. 62, vol. XVII, h. 203, & vol. XIX, h. 149, vol. II, h. 347, vol. II, h. 35 & vol. V, h. 281, vol. III, h. 216, vol. II, h. 192 & 353”. “Sial, Amrozi cs berarti memilih jihad ofensif dengan mencari justifikasi dari penafsiran yang tekstual”, keluh malaikat.

Malaikat memperingatkan, “penafsiran tekstual itu reduktif dan rawan menimbulkan stigma bahwa Islam adalah agama pedang, agama bom, dan agama kekerasan, seperti stigma negatif kalangan mainstream Barat. Andaikan nasikh-manskuh kalian terapkan dalam ayat-ayat jihad yang sejatinya turun secara gradual, sama saja kalian menganggap sebagian ayat al-Quran yang turun pada fase-fase awal sebagai ayat impoten dan tak punya fungsi sosial untuk konteks kekinian. Nah, para pemikir Islam yang kritis dan progresif yang berdiri di barisan antrian hanya mangguk-mangguk menyetujui statemen malaikat tadi.

Amrozi cs berapologi, “oke dech, ijtihad kami memang salah, tapi—seperti kata Rasulullah saw—kami tetap berhak mendapatkan pahala satu (man akhtha`a falahu ajrun wahidun). Malaikat menimpali, “kalian memang mendapatkan pahala satu, tapi pahala itu belum mencukupi untuk dijadikan modal masuk surga. Pahala kalian yang satu itu tak seberapa jika dibandingkan dengan dosa kalian akibat membunuh orang-orang Bali dan wisatawan legal yang telah mendapat jaminan keamanan dari negara. Ingat itu wahai teroris yang berjubah!!!. Maukah kalian aku masukkan ke neraka”?

Amrozi cs, yang kali ini diwakili oleh Ali Gufron, mengutarakan keberatan. Dengan lantang ia berkilah, “kami tidak bermaksud membunuh orang tak berdosa, kami hanya ingin memerangi kemungkaran. Selain itu, kami juga sudah dieksekusi sebagai balasan perbuatan kami, meski kami sebenarnya tak rela dengan eksekusi itu”. “Iya, tapi cara amar ma’ruf nahi munkar kalian, seperti saya katakan tadi, tidak prosedural”, tegas malaikat. Malaikat diam sejenak mempertimbangkan matang-matang. Amrozi cs pun menunggu keputusan malaikat sambil pegang-pegang jenggot lagi.

Malaikat meneruskan hisabnya, “tadi kalian bilang bahwa kalian tidak rela dengan eksekusi itu, itu tandanya kalian tidak ikhlas menerima hukum qishash yang sudah disyariatkan Allah. Dengan demikian dosa kalian belum dihapus dan diampuni. Sudahlah kalian aku masukkan ke neraka saja ya”?

Imam Samudra keberatan, “please malaikat, kami sudah dieksekusi, masak mau dihukum lagi dengan diceburkan ke neraka”?. Malaikat geleng-geleng kepala, “kalian memang bandel, sudah aku katakan kalau eksekusi itu belum bisa menghapus dosa kalian, karena kalian tidak ikhlas menerima hukuman itu”. Imam Samudra berkilah lagi, “buktinya apa kalau kami tidak ikhlas”?

Malaikat dengan mudah menemukan bukti di google.com yang memuat wasiat profokatif Amrozi cs bahwa “dalam surat wasiat tersebut, mereka menyerukan agar para pendukung memerangi dan membunuh pihak terkait eksekusi mati, seperti Presiden SBY, Wapres Jusuf Kalla, Menkum HAM Andi Mattalata, Jaksa Agung Hendarman Supandji, Jampidum AH Ritonga, dan Ketum PBNU Hasyim Muzadi”. Malaikat dengan tegas menvonis, “Jadi kalian harus aku masukkan ke neraka dengan dalih berlapis: 1) tindakan teror bom bali; 2) tidak ikhlas menerima hukuman eksekusi; 3) menyebarkan wasiat yang profokatif dan berisi pemberontakan terhadap pemerintah”.

Amrozi cs masih berkilah, “pengeboman dan wasiat itu tidak bermaksud untuk macam-macam, semua itu kami lakukan hanya demi tujuan memerangi maksiat dan jihad”. Malaikat pun menjawab dengan analogis-argumentat if, “oke jika demikian alasan kalian, maka kalian akan aku masukkan ke dalam ‘tong’ kemudian aku tendang ‘tong’ itu agar menggelinding masuk ke jurang neraka. Aku tak bermaksud memasukkan kalian ke neraka, tapi aku hanya bertujuan memasukkan ‘tong’ ke neraka sebagai tambahan bahan bakar neraka”. Amrozi pun akhirnya tak berdaya dan menyesali perbuatannya di dunia.

May 29, 2008

BID’AH

Ada beberapa pendapat tentang Bid’ah,
Yang satu menganggap bahwa
“Semua yang baru adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat”

Sebagian yang lain menganggap bahwa agama dan teknologi itu pisah , kemudian mereka memahami bid’ah seperti ini
“Semua yang baru didalam masalah agama adalah bid’ah dan itu sesat, sedangkan sesuatu yang baru dalam masalah teknologi itu ndak masalah, sebab teknologi itu tidak termasuk ranah agama”.

Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa seluruhnya itu tidak ada yang lepas dari masalah agama, baik itu masalah teknologi.
Mereka menganggap bahwa bid’ah ada 2 macam.
Yaitu bid’ah hasanah (sesuatu yang baru adanya tapi berdampak baik) & bid’ah dhalalah (sesuatu yang baru adanya tapi berdampak buruk).

Tidakkah jaman Nabi belum ada perintah untuk pembukuan Al-Qur’an
Dan baru ada perintah pencatatan saja
Bukankah jaman Nabi belum ada pembagian Fiqhi, Ushuluddin, Aqaid, tasawuf

Benarkah Fiqhi itu sesuatu yang baru (bid’ah)
Lalu apakah bid’ah hasanah ataukah dhalalah

Benarkah Ushuluddin itu istilah yang baru (bid’ah)
Lalu apakah bid’ah hasanah ataukah dhalalah

Benarkah Tasawuf itu istilah yang baru (bid’ah)
Lalu apakah bid’ah hasanah ataukah dhalalah

Ingatkah engkau ketika Nabi melarang pencatatan
Apalagi pembukuan hadits-hadits beliau
Bacalah sejarah-sejarah di jaman Nabi
Abu Bakarpun tak berani menuliskan hadits ataupun membukukannya
Umarpun tak berani menuliskan hadits maupun membukukannya
Usmanpun tak berani menuliskan hadits maupun membukukannya
Alipun tak berani menuliskan hadits maupun membukukannya

Lalu mengapakah sekarang kita tahu
banyak kitab-kitab hadits yang beredar
Bukankah itu bid’ah
Bukankah itu sesuatu yang baru
Bahkan melihat sejarah ,
Bukankah pembukuan hadits-hadits Nabi itu seolah menentang Nabi Muhammad yang melarang pembukuan hadits-hadits

Tetapi, apakah masuk pada bid’ah yang baik (hasanah)
Ataukah bid’ah dholalah
Kalau sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya,
Wajib kita tidak menambahi ataupun menguranginya .

Kalau Al-Qur’an mengatakan “Qul Huwallahu Ahad”,
Mutlak tidak boleh ditambahi maupun dikurangi,
Jikalau ditambahi atau dikurangi,
Itu bid’ah dhalalah, itu bid’ah yang sesat.

Bukankah diajarkan oleh rasulullah untuk berijtihad

Tiap-tiap orang memiliki keyakinan sendiri-sendiri,
Meskipun Islam sebagai agamanya.

Bagaimana seandainya ditanya,
Apakah sabar itu
Bagaimanakah sabar itu
Cara supaya sabar itu bagaimana

Apakah dzikir itu
Bagaimanakah cara dzikir itu
Bagaimana cara supaya kita dzikir kepada Allah
Bukankah perintahnya adalah “Dzikran Katsiran”

Apakah engkau sudah tahu cara bersyahadat
Apakah cukup dibaca syahadat itu
Apakah iman itu
Apakah taqwa

Maka janganlah heran,
Jika banyak sekali pendapat-pendapat akan masalah itu

Maka cukuplah,
“Lana a’maluna wa lakum a’malukum”
“bagi kami apa yang kami lakukan dan bagi kamu apa yang kamu lakukan”.

Saling hormat menghormati diantara sesama pemeluk agama Islam.
Saling berhubungan dengan kasih sayang, silaturrahim.

Tanpa perlu menjelek-jelekkan pendapat lain,
Tanpa perlu menuduh sesat orang berbeda faham,
Tanpa perlu zindiq orang-orang yang berjalan menuju-Nya,
Dan tanpa perlu mengkafir-kafirkan saudara kita yang seagama.

“Qu anfusakum wa ahlikum naran”
“Selamatkanlah dirimu, keluargamu dari api neraka”.

Marilah fastabiqul khaerat !
Mari berlomba-lomba untuk kebaikan dan bukan saling menjatuhkan.

WALLAHU A’LAM BISH SHAWAB

May 07, 2008

Alzheimer

Hampir tiga hari saya tak mandi.
Hal yang sama sekali tak penting untuk dibahas, tapi setidaknya ini sudah lumayan mengkhawatirkan bagi saya. Mungkin tak lama lagi saya bakal mati duduk. Bukan syahid diantara dua sujud, tapi karena candu komputer keparat ini. Berhari-hari berkutat dengan monitor dan keyboard. Buku terjemahan saya sedikit lagi rampung. Satu atau dua hari lah.
Teman yang saya percayakan negoisasi dengan percetakan, sudah deal harga bagus. Jalan saya sepertinya mulus.

Tapi banyak hal yang harus dibarter untuk itu. Termasuk diri sendiri yang tak lagi terurus.
Alhamdulillah, belum sampai tahap amnesia untuk membedakan waktu azan zuhur dan ashar. Juga belum sampai terserang Alzheimer untuk urut-urutan rukun wudhu, walaupun saya sebenarnya mulai takut untuk hal yang satu itu, mengingat saya sering blank untuk urusan menghapal nomer telepon, ataupun kelimpungan mencari di mana tempat saya barusan meletakkan kunci rumah atau handphone.

Entah, sudah berapa hari saya tak frontal dengan cermin. Yang saya rasakan janggut mulai awut-awutan, ketombe berguguran. Tampaknya saya memang harus segera menikah, biar ada yang mengingatkan. Lagian saya juga mulai bisa melupakan bayang-bayangnya, saat terakhir melihatnya di Kick Andy, tempo hari.

Yap, ini momen yang tepat untuk menikah. Sebelum saya benar-benar terserang Alzheimer.
Tapi masalahnya…
calonnya siapa ya?
Oey, ada yang bisa bantu...??

April 15, 2008

Orowane (Lelaki Bugis)

Oleh: Akbar Faizal


Punggungnya berkeringat dingin memencet tombol nomor-nomor telepon di sebuah wartel.“Halo? Kamu Saleng?”“Siapa ini? Halo?”“Sakka. Masih ingat? Kakaknya Beddu, murid pencak silatmu dulu”. Saleng terdiam sejenak.

“Astagfirullah....Kamu dimana? Berapa anakmu? Sudah kaya kamu ya”. Sakka gelisah. Ia menjawab apa adanya sambil menjelaskan nomor teleponnya ia dapatkan dari kawan mereka yang juga ikut merantau ke Nunukan. “Sersan Laobe masih tugas di kampung kita ya?” suaranya bergetar.“Siapa? Sersan Laobe? Oooh, sudah pensiun. Khan dia kawini si Saenab, anaknya Puang Ali? Mereka kini yang tempati rumah Puang Ali sejak meninggal tak lama setelah ia nikahi anaknya”.

Informasi itu sudah cukup baginya. Kapal penumpang milik Pelni yang ditumpanginya melewati Kodingareng, pulau para nelayan tangguh. Hamparan pasir memanjang ke utara tampak seperti lembaran sarung sutra Bugis yang baru saja lepas dari tenunan. Selain di musim barat, perairan itu menjadi pusat cengkerama ikan cakalang yang menjadi incaran nelayan pantai selatan Makassar. Lelaki beruban berwajah keras itu berusaha tenang namun gagal.

Tubuhnya ceking hitam bagai manekin tua tegak sia-sia di sudut belakang toko pakaian bekas.Berulang kali ia beringsut dari dinding tempatnya menyandar untuk memegang batang besi dingin pembatas di geladak sambil melepas pandang sejauh mungkin. Dadanya sesak. Ia menunduk gemetar. Cahaya lentera sesekali menyembul dari balik pohon kelapa yaang berjejer di sepanjang pantai.Tapi itu bagai belati yang perlahan tertancap di kelopak matanya. Ia mulai terdengar mengerang ditingkapi pukulan ombak menghantam buritan.

Pelabuhan Makassar tinggal sepelemparan batu. Raungan panjang sirene kapal sebanyak tiga kali membuatnya semakin menderita.Ia telah kembali ke tanah kelahirannya, negeri yang ia terus rindukan puluhan tahun terakhir. Negeri yang juga telah jadi saksi pada kehilangan kehormatannya sebagai lelaki Bugis.

Inilah perjalanan pulang yang dirancang rapi. Ia telah merencanakannya sejak meninggalkan negerinya itu tiga puluh tahun silam. Sengaja dipilihnya jadwal kapal yang tiba tepat tengah malam sehingga tak ada yang tahu kepulangannya. Tak ada kabar untuk keluarga demi sebuah penjemputan penuh isak tangis bahagia.Tak ada oleh-oleh radio transistor atau minyak wangi cap Ular. Tapi untuk sebuah janji, janji lelaki Bugis.

Lelaki itu hanya berharap sumur kampung di dekat hutan kecil samping kuburan masih ada.Lebih senang lagi jika gubuk sawah di dekatnya juga masih ada. Dan itulah yang ditujunya sesaat setelah kakinya menginjak daratan. Tak ada waktu untuk berdiri sejenak mengenali kembali bangunan-bangunan tua di sepanjang dermaga pelabuhan.

Ia tak ada urusan dengan kebijakan pembangunan kota itu.Tak ada pula yang menarik buatnya untuk ditengok ke luar jendela mobil atau sekadar bertegur sapa dengan perempuan tua di sampingnya sepanjang perjalanan bermobil selama tiga jam sebelum memutuskan turun di sebuah jalan lurus diapit persawahan luas. Tapi Sakka, si lelaki uban itu sebenarnya tak perlu khawatir wajahnya dikenali seseorang.

Pergi meninggalkan kampung sebagai laki-laki berdada bidang namun berjalan menunduk menjauhi kampung saat itu, ia kini datang dengan penuh uban ditemani tas lusuh dan sebilah badik di pinggang sebelah kiri. Dingin menusuk tulang. Suara adzan dari loudspeaker murahan terdengar dari kampung, kampung yang ia pernah miliki. Badannya menggigil tapi bukan karena dingin subuh buta itu. Sakka kenal suara adzan itu, Beddu adik kandungnya. Beberapa butir air mata jatuh ke pipinya yang kurus.

Ia mempercepat langkah melewati pematang sawah. Musim panen baru saja usai meninggalkan batang padi teronggok di samping pematang. Ia harus tiba secepatnya di sumur kampung sebelum warga kampung lainnya datang.Ia beruntung sumur itu masih ada. Hanya roda gayung yang telah berganti lebih besar terpasang kokoh melintang di atas lubang sumur.

Seutas tali karet menjulur ke dasarnya. Tapi tak ada lagi gubuk petani di dekatnya kecuali hutan kecil sekitar dua ratus meter sebelah timur sumur. Nafasnya tersengal menarik gayung lalu berwudhu. Dingin air mengusap wajahnya yang tua. Ia merintih lagi. Bergegas menuju sebatang pohon di hutan kecil lalu untuk salat subuh. Kini, ia menunggu. Mata tuanya tersiksa mengawasi penduduk kampung silih berganti mendatangi sumur, laki-laki perempuan.Usia membuatnya rabun. Beberapa diantara penduduk antri sambil menghabiskan tembakau kampung menunggu giliran mendapatkan air.

Matahari pagi menampakkan diri dan ia terpana.Tak ada yang berubah. Sawah, kubangan kerbau, pintu air dan saluran irigasi yang kering. Juga lengkung bukit yang membentengi kampungnya. Tapi sunyi. Hanya ada desah nafasnya sendiri.

Di sumur itulah semuanya terjadi 30 tahun lalu. Kemarau menyiksa kampungnya. Hanya sumur itu yang dituju semua orang kampung untuk segala kebutuhan akan air. Juga untuknya. Dua ekor kerbau kurus peninggalan ayahnya akan diberinya minum siang itu. Bertelanjang dada, Sakka menimba sumur yang hampir kering.Kadang terjaring pula tanah hitam dari dasar sungai. Ember miliknya belum penuh ketika terdengar suara dari belakang mengagetkannya.

“Hei, kamu jangan habiskan airnya. Sisakan ke orang lain juga”. Sakka berbalik. Ia mulai khawatir. Sersan Laobe berdiri tegak memegangi sarungnya. “
Tidak, Pak. Ini hanya untuk minum kerbau saya”.
“Sudah, cukup. Sapimu kan bisa menunggu giliran belakangan”.
Sakka diam terpaku tapi masih memegang tali gayung di bibir sumur. Sersan Laobe menatapnya nanar. Telah lama ia hindari tentara satu-satunya di kampungnya itu. Meskipun pendatang dari kampung sebelah, Laobe adalah momok bagi siapapun di kampung, termasuk dirinya.Entah kenapa, tentara itu dengan mudah melepaskan tembakan ke udara hanya karena tidak senang pemuda kampung duduk bercengkerama di warung jika malam tiba. Tidak sedikit yang mendapat tendangan sepatu lars atau tempelengan.Tak malu pula si sersan itu meminta pisang penduduk atau bahkan menebang sendiri tanpa harus meminta ijin pemiliknya.

Pada hari pasar kampung, para pedagang es campur telah mafhum jika Sersan Laobe ngeloyor pergi begitu saja tanpa pamit apalagi membayar.Tak ada yang berani bahkan untuk menatap matanya sekalipun. Jangan pernah mencoba berbisik jika berpapasan atau terlihat olehnya. Ia bisa marah besar karena mengira dirinya yang dijadikan obyek bisikan. Jalan kampung yang berdebu seakan disiapkan untuknya sendiri jika memacu motor merek Binter bututnya.Raungan celaka Binter jelek itu pertanda bagi semua orang untuk segera menyingkir dari jalan. Keadaan makin tak terkendali jika si tentara itu pulang mabuk sehabis minum tuak dari kampung sebelah. Sakka semakin khawatir. Ia tak pernah berhadapan langsung dengan si sersan kecuali hari itu, di sumur kampung, berdua pula.
“Kamu tunggu apa lagi? Ayo pergi sana,”
Sersan Laobe merangsek maju dengan gusar. Laobe merampas gayung dari genggaman Sakka yang bergerak mundur. Sambil berbungkuk, tangannya mencoba meraih ember yang baru terisi setengah. Namun sia-sia sebab entah sengaja atau tidak, tersenggol kaki Sersan Laobe hingga tumpah. Refleks wajahnya menatap Sersan Laobe yang ternyata juga menatapnya. Mereka beradu pandang meskipun hanya sedetik sebelum Sakka menunduk dan meraih embernya yang telah kosong. Tapi petaka itu akhirnya terjadi.
“Kenapa? Kamu marah ya? Kamu menantang saya?”
Sersan Laobe kini berdiri tegak menantang di hadapan Sakka yang terdiam. Ia menunduk sambil berdoa. Sia-sia. Dengan marah Sersan Laobe mencengkeram pundaknya yang basah oleh keringat dan memaksa wajah Sakka menatap kepadanya.

Plaaak!! Kepalan tangan si Sersan terasa panas di telinga kirinya. Beberapa detik pandangannya gelap sebelum jatuh sempoyongan ke belakang. Sersan Laobe memandangnya penuh kemenangan. Sakka berdiri menatap amat marah. Inilah bentuk penghinaan terbesar bagi lelaki bugis.Tempeleng adalah pembunuhan tidak langsung baginya.

Sersan ini pasti tak pernah tahu jika banyak pertempuran antar kerajaan di Tanah Bugis di masa lalu terjadi karena penghinaan seperti ini. Badannya gemetar. Matanya berair seakan cairan darah memaksa keluar dari kelopak matanya.
“Kita akan ketemu Pak Sersan,” Sakka berjalan mundur.
Dunia serasa runtuh di kakinya. Dadanya seakan terpanggang bara.
“Saya tunggu,” Sersan Laobe tersenyum sinis. Sakka berlari ke kampung. Laobe bersenandung menuju tengah sawah. Berak. Seakan tak terjadi apa-apa.

Esoknya, kampung geger. Sakka menghilang. Ibu dan adik-adiknya saling berpelukan di dekat tungku masak dalam tangis.Mereka telah bersumpah tak akan bercerita kepada siapapun tentang kejadian itu. Tapi Sakka berjanji akan kembali, entah kapan. Ia bersujud di ujung kaki ibunya, membasuh kaki wanita tangguh itu. Ia juga memeluk adik-adiknya satu per satu.

Alangkah menderitanya sang ibu.Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Anaknya adalah laki-laki Bugis, anak yang dilahirkannya dari seorang lelaki bugis yang tangguh bak karang. Tapi kini anaknya dihina. Sejak saat itu, ia tak pernah lagi datang ke sumur saksi penghinaan anaknya. Tak akan pernah lagi. Dan waktu itu datang juga. Setelah menunggu dua hari di hutan kecil, tentara yang membuatnya pergi selama 30 tahun akhirnya muncul juga ke sumur itu.

Meskipun juga telah beruban, tapi badannya masih kekar seperti dulu. Kaki Sakka gemetar mendekati sumur. Lama nian derita batin ditanggungnya di perantauan.Tiga puluh tahun menunggu dibekap rindu pada ibu dan adik-adiknya adalah penderitaan tiada tara baginya. Namun derita atas hina dari si sersan jauh lebih menyiksa. Berkali-kali tubuhnya terbangun menggigil bermandikan keringat di tengah malam buta.Mimpi buruk peristiwa itu menghantuinya hingga uban tumbuh di rambutnya. Tapi ia telah bersumpah tak akan menikah sebelum mimpi buruk itu berakhir. Sebelum janji terpenuhi, janji seorang lelaki.

Sersan Purnawirawan Laobe tak menyadari semuanya. Bahkan setelah Sakka menegurnya.
“Masih ingat sama saya sersan?”, ia berdiri terpacak di hadapan tentara tua itu.
“Siapa ya? Dari mana?”
“Saya Sakka yang kamu tempeleng 30 tahun lalu di sumur ini”.
Mata Sersan Laobe mengernyit, mencoba mengingat sebelum terkesiap. Mundur tanpa sadar. Tapi ia mencoba tegar dengan sebuah senyum kecil.
“Kenapa baru sekarang datangnya,”
“Saya menunggu kamu pensiun. Saya menghormati baju ijo-mu.”
Tak sekalipun matanya lepas dari si Sersan di hadapannya.
“Tapi kita sudah tua. Itu sudah lama sekali,” dengan nada putus asa Sersan Laobe mencoba bertahan.
“Janji adalah janji. Saya hanya berusaha menepati janji,” badan Sakka mengeras.
Tentara tua itu mundur selangkah. Terlambat. Sakka mencabut badik yang terselip di pinggang kirinya. Bagai kilat, ia melompat ke depan dan menusuk dada kiri, lalu perut tentara tua itu. Mata Sersan Laobe membelalak memegangi dada yang bersimbah darah.Beberapa tikaman kembali datang sebelum Laobe rebah ke tanah lalu mati dengan menderita.

Sakka berjalan tenang ke arah selatan menjauhi kampung. Tak sekalipun ia menoleh.Penduduk kampung kembali geger seperti 30 tahun lalu. Kentongan dipukul bertalu-talu tanda bahaya. Ibu Sakka yang terbaring sakit sejak lama terlompat bangun. Beddu berlari kencang menerobos kebun pisang dan melompat ke atas rumah panggung reyot mereka.
“Sersan Laobe mati dengan penuh tikaman di dekat sumur, Bu!” Sang Ibu kembali jatuh terduduk menangis tersedu di ujung dipan.
“Anak lelakiku telah kembali!”